Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
10.Mirip Seseorang


__ADS_3

Alin kini sudah berada di salah satu apartemen milik Zian, sama seperti hari-hari sebelum nya wajah Alin selalu nampak pucat bahkan sekarang Alin sangat mudah lelah.


"Mas..." Panggil Alin dengan suara pelan.


"Iya, apa kamu butuh sesuatu?" tanya Zian.


"Tidak, tapi bolehkah aku memanggil mu kakak?" Tanya Alin tiba-tiba.


Sejenak Zian terdiam dengan permintaan Alin tapi, entah kenapa ada perasaan bahagia yang Zian rasakan ketika Alin meminta memanggilnya kakak.


"Apa tidak boleh?" tanya Alin kembali raut wajah nya berubah menjadi sedih.


"Boleh aku tahu, kenapa kamu ingin memanggil ku kakak?"


"Entahlah, tiba-tiba hati nurani ku berkata seperti itu."


"Boleh, kamu boleh memanggil ku kakak."


"Terimakasih kaK Zian." Alin tersenyum bahagia, kini panggilan mas telah berubah menjadi panggilan kakak.


"Istirahat lah, aku akan kembali ke kantor dan ini ponsel baru untuk mu kalau kamu kenapa-kenapa kamu bisa menghubungi ku." Zian memberikan ponsel baru untuk Alin, semenjak melihat Alin terbaring di rumah sakit entah kenapa jiwa melindungi Zian muncul begitu saja.


"Terimakasih kak..." ucap Alin.


Zian kemudian melangkah kan kakinya menuju pintu apartemen dan langsung keluar.


Zian bersandar pada dinding pintu pikiran kembali mengingat kejadian dua puluh tahun silam.


"Alin kamu begitu mirip dengan mamah ku atau mungkin kamu.........?" Zian bicara pada diri nya sendiri "Aku harus mencari tahu siapa kamu sebenarnya." melangkah pergi meninggalkan apartemen.


Di lain tempat di sebuah ruangan Lingga nampak murung kebodohan membuat ia selalu menyalahkan diri nya sendiri, semenjak Lingga membaca buku diary Alin dan menanyakan kebenaran kepada Mayang mamah nya siapa Alin sebenarnya membuat Lingga menyesal bahkan sangat menyesal.


"Kenapa lagi?" tanya Andra yang melihat Lingga tak bersemangat.


"Lo benar Dra gue nyesel ternyata niatan nyokap gue buat nikahi Alin ama gue biar Alin terbebas dari Ayah nya." membuang nafas kasar.


"Maksud lo gimana?" tanya Andra penasaran.


"Sebenarnya dulu ayah Alin supir pribadi bokap gue setelah istri nya meninggal pak Iswan berubah, pekerjaan nya selalu salah dan akhirnya bokap gue memecat pak Iswan.


Pak Iswan menjadi pecandu judi dan minuman keras sehingga dia tega menggadaikan Alin ke bokap gue, Orangtua gue mengenal siapa keluarga Alin dan ternyata Alin bukan anak kandung mereka. Dan yang lebih parah nya lagi setelah berhasil mendapatkan uang dari bokap gue Alin nyaris saja di gadaikan kembali ke salah satu rentenir, maka nya orang tua gue memaksa gue menikahi Alin demi menyelamatkan Alin." Jelas Lingga kepada Andra dan Lingga lebih menyesal kan kenapa kedua orang tua nya tidak memberi tahu letak masalahnya.


"Ya..udahlah Lo sabar aja kalau Alin jodoh Lo pasti akan bersatu kembali." Andra mencoba memberi semangat kepada Lingga.

__ADS_1


Sore ini Zian kembali ke apartemen tanpa mengetuk pintu Zian langsung masuk, di lihat nya setiap sudut ruangan nampak sepi dan tatapan mata nya tertuju pada sebuah sofa di lihatnya Alin tertidur begitu pulas dan gan langkah pelan Zian menghampiri Alin.


"Kenapa kamu begitu mirip Alin?" tanya Zian sembari menatap wajah Alin.


Dengan lembut Zian kemudian membangun kan Alin, sambil memegang perutnya Alin mulai membuka matanya.


"Kak Zian..." ucap Alin mengalihkan posisinya untuk duduk.


"Makanlah kamu pasti belum makan setelah itu minum obat."


" Terimakasih kak."


Di bantu Zian, Alin berjalan menuju meja makan yang sudah terhidang berbagai macam masakan.


"kak...Alin besok akan masuk kerja kembali." ucap Alin sambil memasukan makanan ke dalam mulut nya.


" Tidak ...kakak tidak mengizinkan kamu bekerja." mendengar ucapan Alin, Zian meletakan sendok ke piring.


"Tapi ka kalau Alin tidak bekerja Alin pasti akan merepotkan kakak."


"kamu tidak merepotkan kakak Alin, tenang aja malahan kakak sedang mencari pendonor ginjal untuk mu."


"Kak...jangan Alin gak mau membuat kakak susah."


Alin melanjutkan makan nya kembali begitu juga Zian setelah selesai mereka duduk di balkon apartemen menikmati indahnya pemandangan malam kota S.


"Alin...boleh kakak tahu kenapa ayah mu tega melakukan semua ini kepada mu anak kandung nya sendiri?" Tanya Zian yang penasaran.


"Sebenarnya Alin bukan anak kandung mereka ka."


Deg...


Penuturan Alin membuat Zian terlonjak, ada banyak rahasia yang tersimpan dalam diri Alin, semakin penasaran Zian mulai mengorek informasi tentang Alin.


"Bagaimana bisa? Meski kamu bukan anak kandung mereka tapi kamu di besarkan oleh mereka."


"Ayah berubah semenjak ibu meninggal tapi Alin tidak pernah menyalahkan Ayah, Alin hanya menganggap semua ini balas budi karena mereka sudah merawat dan membesarkan Alin."


"Sudah lah kamu yang sabar aja suatu saat pasti kamu akan menemukan kebahagian mu."


"Iya kak Alin selalu berdoa meminta kepadanya."


"Kalau begitu kakak kembali ke apartemen dulu kalau kamu kenapa-kenapa segera hubungi kakak ya."

__ADS_1


"Iya ka."


Zian menjatukan bobot tubuhnya di kasur, otaknya di penuhi tentang Alin.


Sebenarnya di dalam hati Zian ia sangat berharap kalau Alin adalah adik kandung nya yang hilang sejak dua puluh dua tahun silam.


"Aku mengharus melakukan tes DNA". Ujar Zian " Tapi bagaimana cara nya?''


Pagi sekali Zian sudah berada di apartemen Alin, ia memasak makanan untuk sarapan. Alin yang melihat Zian merasa tidak enak hati karena mereka baru saja saling mengenal tapi Zian sudah sangat baik pada nya.


Sesekali Zian tersenyum melihat Alin wajah Alin yang begitu mirip dengan mamah nya membuat Zian yakin kalau Alin adalah adik kandungnya.


" Kak...kakak kenapa kok senyum-senyum terus?" tanya Alin yang melihat Zian selalu tersenyum padanya.


"Kamu sangat mirip seseorang." ucap Zian kembali melebarkan senyuman nya.


"Siapa kak?" tanya Alin penasaran.


" Ada..intinya kamu sangat mirip."


Tak butuh waktu lama nasi goreng dan telur ceplok sudah terhidang di atas meja, kemudian mereka mulai melahap nasi goreng .


"Bagaimana rasa nya ?'' tanya Zian.


"Enak! masakan kak Zian enak."


"Terimakasih..kakak sangat senang memasak nanti akan kakak masakan makanan yang lebih enak dari ini."


"Terimakasih ka."


Setelah selesai sarapan Zian bergegas berangkat ke kantor, sedangkan Alin hanya di perintahkan Zian untuk beristirahat.


Zian sudah tiba di loby kantor, di lihatnya laki-laki yang tidak asing untuk nya siapa lagi kalau bukan Lingga.


" Mau apa dia? aku bahkan mulai muak melihat nya." ucap Zian yang melihat Lingga menghampiri nya.


"Ada masalah apa? pagi-pagi udah ke kantor gue?" Wajah Zian sedikit berubah tidak seperti biasanya saat ia bertemu Lingga.


"Masalah gue berat dan gue mau cerita ama lo."


"Gue udah tahu masalah lo sebaiknya lo urungkan niat lo untuk cerita dan mulai untuk sementara waktu jangan temui gue." ucap Zian, wajah nya datar dan tidak bersahabat.


" Lo kenapa tiba-tiba ngomong gitu emang nya gue punya salah?" tanya Lingga yang melihat wajah Zian dingin tidak seperti biasanya.

__ADS_1


Namun Zian tidak menanggapi pertanyaan Lingga, ia berlalu pergi meninggalkan Lingga yang masih kebingungan akan perubahan Zian yang tiba-tiba.


__ADS_2