
Seperti janji Zian, setelah sarapan ia mengajak Alin untuk mengelilingi rumah mereka.Alin bahkan sangat tidak sabar untuk mengajak kakak nya itu.
Zian nampak bahagia melihat Alin yang selalu tersenyum dan tertawa sikap dingin seakan mulai luntur saat ia sudah menemukan adiknya. Karena selama ini di antara Lingga, Zian, Andra dan Jimmy hanya sikap Zian yang terkenal sangat dingin terhadap perempuan yang tidak ia sukai berbeda saat ia melihat Alin perasaan hangat muncul begitu saja.
Kini langkah Alin terhenti di salah satu ruangan yang terpajang sebuah figura yang sangat besar.
"Apakah ini mamah dan papah kak?" tanya Alin.
"Iya..ini kakak dan ini kamu." menunjuk foto.
"Kakak benar mamah sangat mirip dengan Alin." ucap Alin.
"kamu sama cantik nya dengan mamah." balas Zian langsung merangkul pundak Alin.
"Kakak juga tampan sama seperti papah...tapi sayang karena Alin keluarga kita seperti ini papah dan mamah pergi begitu cepat."Alin meneteskan air mata nya.
"Berhenti menyalahkan diri mu sendiri..ini bukan salah kamu...mereka yang benci kepada keluarga kita lah yang harus bertanggung jawab." ucap Zian sambil menatap tajam figura keluarga nya.
"Kak..apa yang menculik Alin sudah tertangkap?" tanya Alin.
"Tidak...kakak sudah berusaha tapi sangat sulit karena kejadian ini saat kakak masih berusia lima tahun."
"Kita gak boleh sedih kak...jadi sekarang ayo...tunjukin taman bunga nya." Ajak Alin sambil menghapus sisa air mata nya.
__ADS_1
Dengan menarik tangan Zian, Alin sangat tidak sabaran melihat taman yang di buat khusus untuk nya.
"Wah...indahnya." ucap Alin sambil berlari kecil.
"Bagaimana apa kamu suka?" tanya Zian sambil duduk di kursi taman.
"Suka kak..Alin sangat suka."
"Sore ini kakak akan mengajak kamu ke makam orang tua kita dan juga nenek."
"Iya kak...Alin tidak sabar."
Zian hanya bisa tersenyum melihat tingkah Alin yang begitu manja.
"Tapi ka..Alin merasa gugup."
"Bukan nya kamu sudah pernah melakukan nya saat di Singapura dulu."
"Iya deh terserah kakak."
Zian mencubit hidung Alin pagi ini mereka habiskan dengan bercanda tertawa lepas tanpa beban.
Bu Sita yang mengantarkan minuman dan camilan merasa bahagia melihat kedua anak majikan nya bersatu kembali.
__ADS_1
Rumah yang dulu kosong sepi dan juga hampa saat ini mulai terlihat ada kehidupannya.
Sore hari Zian kembali mengajak Alin berziarah ke makan orang tua mereka.
Dua pusara yang tertulis nama Ananta Claudia dan Hilman Nugraha terukir indah di batu nisan tersebut.Kuburan yang bersih rapi di hiasi rumput-rumput hijau yang terawat, Alin duduk tersimpuh di antara makam kedua orang tuanya bahkan tangis nya sudah pecah saat ini.
"Maafkan Alin mah pah..karena Alin kalian pergi secepat ini." ucap Alin dalam isaknya.
Zian hanya bisa menahan air mata yang akan jatuh tidak mungkin ia ikut menangis karena saat ini Alin butuh sandaran yang kuat.
"Lihatlah Alin mah pah ...apa kalian bahagia melihat kak Zian dan Alin bersama."
"Alin...papah dan mamah pasti bahagia melihat kita...kamu jangan seperti ini." Mengusap lembut rambut Alin.
"Tapi semua salah Alin kak..kakak selama ini hidup sendiri tanpa keluarga, kakak begitu menderita." Tangis Alin semakin menjadi.
Zian langsung memeluk adik kesayangannya.
"Berhenti menyalahkan diri mu Kia..kamu lah yang lebih menderita bahkan kakak sangat sedih jika harus memikirkan nasib mu apakah kamu masih hidup atau tidak? apa kamu makan enak atau tidak? tidur dengan nyenyak atau tidak? bahkan di mana kamu tinggal, nyaman atau tidak? kakak terus memikirkan kamu bahkan kakak mengerahkan banyak orang untuk mencari kamu..kakak sangat sayang kamu Kia, Kamu lah satu-satunya keluarga yang kakak miliki saat ini jangan meninggalkan kakak lagi Kia. Melihat mu terbaring lemah saja kakak hampir gila ." tangis Zian akhir nya pecah ia tidak tahan mendengar kata-kata yang keluar dari mulut adiknya.
"Maafkan Kia...maafkan Kia mah pah kak."
Zian masih menenangkan Alin yang masih sesegukan menangis wajah cantik nya terlihat memerah mata nya juga sembab.
__ADS_1
Menjelang magrib Zian mengajak Alin untuk pulang ke rumah.