Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
76.Bukti


__ADS_3

Dengan gemetar Jenie menyiapkan beberapa kamera tersembunyi dan alat penyadap suara untuk melancarkan aksi nya. Dengan cepat wanita itu sudah berhasil mempersiapkan segala nya dengan rapi.


"Mah pah, maafkan Jenie telah mengorbankan kalian, Jenie gak mau masuk penjara." Batin nya.


Jenie duduk manis dengan wajah yang di buat sesantai mungkin, ia hanya menunggu Hendra dan Ratih keluar dari kamar mereka.


"Semoga berhasil." Batin Jenie dengan keadaan detak jantung yang tidak beraturan.


Tak lama kemudian Hendra dan Ratih keluar dari kamar mereka "Loh tumben gak kerja?" Tanya Ratih.


"Kepala Jenie pusing mah, jadi jenie izin." Ujar nya beralasan.


Ratih dan Hendra duduk menghampiri anak nya, mereka tidak merasa curiga sedikit pun terhadap Jenie.


"Mah pah, Jenie boleh dengar cerita kalian tidak?" Pinta nya tiba-tiba.


"Cerita apa?" Tanya Hendra bingung.

__ADS_1


"Ya cerita kok Kia bisa di culik gitu." Ujar Jenie sesantai mungkin.


"Oh....memang nya kenapa?" Tanya Ratih.


"Jenie penasaran aja."


"Sebenarnya papah bukan lah saudara kandung dari orang tua mereka." Ujar Hendra mulai bercerita "Papah hanya anak angkat di keluarga mereka, tapi mereka sangat sayang kepada papah. Saat usia kami sama-sama dewasa Nugraha membuat usaha nya sendiri dan usaha mereka maju pesat, papah jadi iri kemudian papah meminjam modal dari Nugraha tapi sia-sia, setiap usaha papah tidak berjalan mulus seperti mereka. Singkat cerita, papah sangat benci dan dendam melihat keharmonisan keluarga Nugraha di tambah lagi ia mewariskan semua harta nya pada Kia dan tidak sedikit pun membagi kepada papah. Dari situ lah sakit hati papah muncul dan akhir nya papah menyuruh orang untuk menculik Kia dan membuang nya. Setelah Kia di culik papah menghasuk Nugara untuk membenci istri nya dan mamah mu selalu menekan Ananta untuk menyalahkan diri nya sendiri. Anata depresi kemudian sakit dan meninggal jelas itu membuat papah dan mamah sangat senang. Nugraha sakit-sakitan dan saat itu lah papah dengan mudah mengeruk semua uang nya sampai dia bangkrut dan meninggal."Jelas Hendra " papah pergi ke luar negeri menyusul kamu dan Junika yang tinggal bersama nenek kalian. Saat itu papah puas sangat puas melihat kehancuran Nugraha." Sambung nya kembali dengan tawa puas nya.


"Papah keren." Ujar Jenie "Lalu bagaimana dengan mamah?"


"Mamah sih cuma ikutan papah kamu aja." Ujar Ratih.


Jenie, wanita itu masih setia duduk menunggu suasana aman untuk melepas semua alat yang ia pasang.


Setelah semua selesai, Jenie langsung masuk ke dalam kamar dengan perasaan lega.


"Akhir nya berhasil juga." Ucap nya senang.

__ADS_1


Jenie kemudian mengambil ponsel milik nya kemudian langsung menghubungi nomor yang mengirimi nya pesan.


Setelah itu, Jenie bersiap-siap untuk pergi setelah mendapatkan balasan dari nomor tersebut.


Di sebuah taman yang cukup sepi, Jenie dengan gelisah menunggu seseorang.


Pria berpakaian serba hitam menggunakan topi dan kacamata hitam juga masker menghampiri Jenie.


"Berikan bukti nya." Pinta pria itu.


Jenie sedikit takut "Berikan juga semua bukti yang ada pada mu." Pinta nya juga.


"aku ingin melihat nya dulu." Pinta pria itu kembali.


Jenie kemudian mengambil sebuah card memori kemudian memasang nya di kamera yang ia bawa sebelum nya.


Pria itu melihat dengan puas "Cepat berikan, aku tidak punya waktu."

__ADS_1


Jenie memberikan bukti itu, begitu juga dengan pria itu. Setelah pertukaran itu selesai, Jenie langsung pergi dengan langkah cepat.


"Dasar wanita bodoh." Ujar Akmal sambil membuka kacamata nya "Bahkan suara ku dia tidak mengenali nya." Akmal tertawa kemudian pergi untuk menghadap tuan nya yang sedang menunggu kedatangan nya.


__ADS_2