Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
37.Butuh Psikiater


__ADS_3

Hari ini Alin sudah di perbolehkan pulang oleh Dokter, Alin kini duduk di kursi roda karena kaki nya belum pulih.


Lagi-lagi Lingga hanya bisa melihat istri nya dari kejauhan karena Alin akan histeris jika bertemu dengan Lingga.


Zian dan Melly bergegas membawa Alin pulang kerumah. Sejak terakhir bertemu Lingga di rumah sakit Alin kini menjadi sosok yang pendiam bahkan terlihat murung.


Lingga hanya mengikuti mobil Zian dari belakang setelah tiba di kediaman Nugraha, Lingga memastikan Alin masuk terlebih dahulu setelah itu baru diri nya.


Zian menggendong Alin sampai ke dalam kamar nya dan di ikuti Melly yang membawa barang-barang milik Alin.


"Kamu temani Alin dulu." perintah Zian kepada Melly. Melly hanya mengangguk dan tersenyum.


Zian kemudian keluar dari kamar Alin dan menemui Lingga yang terduduk sedih di ruang tamu.


"Bagaimana keadaan Alin?" tanya pria itu saat melihat Zian menghampiri nya.


Zian membuang nafas kasar, ia kemudian menjatuhkan bobot tubuh nya di samping Lingga "Entahlah.. gue bahkan bingung, sekarang Alin jadi pendiam bicara pun seperlu nya saja."


Tak berapa lama Jimmy dan Andra datang ke rumah Zian, mereka tahu kalau kedua sahabat nya itu butuh semangat sekarang.


"Bagaimana keadaan Alin?" tanya Jimmy.

__ADS_1


"Gue gak tahu harus bagaimana lagi amnesia yang di alami Alin saat ini sangat berpengaruh pada suasana hati nya sekarang." Zian kembali membuang nafas kasar.


"Sabar...Alin pasti sembuh." Sambung Andra menguatkan.


"Alin butuh psikiater." ujar Jimmy sambil meneguk minuman nya.


"Sialan lo...." Umpat Lingga " Lo pikir istri gue gangguan jiwa apa." ujar pria itu, emosi sedikit terpancing mendengar ucapan Jimmy.


"Sabar bro biar gue jelasin dulu." ujar Jimmy menenangkan " Gue punya teman psikiater dan gue udah ngomong masalah tentang Alin. Dia bilang Alin butuh bimbingan psikologi untuk mengembalikan ingatan nya.Trauma yang di miliki Alin tentang perlakuan lo terhadap dia sangat lah dalam." tutur Jimmy Lingga mengacak rambut nya frustasi.


"Jadi gue harus bagaimana?" tanya Lingga sedih.


"Untuk sementara jangan temui Alin dulu, Alin butuh waktu untuk mengingat semua tentang lo." Jimmy menasehati.


Pandangan ke empat laki-laki itu beralih kepada Melly yang sedang menuruni anak tangga.


"Alin sudah tidur." ucap nya membuka suara "Tadi Alin sempat menangis sebentar." timpal Melly kembali.


Lagi-lagi Lingga dan Zian membuang nafas kasar sedangkan Jimmy dan Andra hanya bisa memberi semangat.


"Mell...untuk sementara waktu kamu temani Alin dulu ya, dan masalah restoran aku akan mengirim orang dari perusahaan ku, untuk masalah gaji kamu tenang aja ." ujar Zian.

__ADS_1


"Iya mas." Jawab singkat Melly yang membuat ke tiga pria itu serempak menoleh ke arah Zian.


"Sejak kapan?" tanya Andra penasaran.


"Apa nya?" tanya balik Zian bingung.


"Melly memanggil lo dengan sebut mas?"


Kedua nya hanya diam tersipu malu sedangkan Lingga dan Jimmy hanya tersenyum melihat kelakuan sahabat nya itu.


Kini semua orang sudah pulang tinggal lah Lingga dan Zian yang sudah berada di ruangan kerja milik Zian.


"Gue gak mau jadi kakak yang jahat apalagi lo sahabat sekaligus ipar gue." ujar Zian membuka omongan.


"Maksudnya?" tanya Lingga bingung.


"Kalau lo mau lo boleh tinggal di sini untuk mengawasi Alin dan lo bisa tidur di kamar bawah tepat nya di samping kamar gue."


"Kalau Alin tahu dia pasti akan marah."


"Ya...pintar-pintar nya elo kalau gitu gimana cara nya Alin gak lihat lo."

__ADS_1


Lingga hanya mengangguk tanda setuju, meski saat ini mereka tidak bisa bersama setidak nya Lingga masih bisa menjaga Alin secara diam-diam.


__ADS_2