Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
31.Kembali Pada Mu


__ADS_3

Di sini lah mereka sekarang di sebuah taman hiburan terbesar di kota, mereka Alin dan Melly berlari seperti anak kecil karena tidak sabar untuk masuk.


Zian dan Lingga hanya tertawa melihat kelakuan kedua wanita itu, setelah membeli tiket masuk mereka langsung mencoba berbagai wahana permainan yang ada.


"Ayo..kita naik itu." ajakMelly menunjuk rollercoaster.


"Gak ah ...Alin takut kak." Ujar Alin " sama kak Zian dan mas Lingga aja biar aku tunggu di sini."


"Kalian berdua saja aku akan menemani Alin di sini." tolak Lingga " Tuh...Zian yang mau ke sini kan lo kenapa gak naik dasar anak kecil."


"Sialan lo." umpat Zian " Sesekali kan gak masalah lagian selama ini gue belum pernah ajak Alin pergi jalan-jalan."


"Kakak durhaka lo." ujar Lingga bercanda.


"Sialan lo." umpat Zian kembali kemudian menarik tangan Melly dan yang di tarik merasa ada desiran yang entah apa rasa nya di hati.


Zian dan Melly sudah menaiki rollercoaster sedangkan Lingga dan Alin hanya menunggu mereka.


"Kembali lah bersama ku." ucap Lingga tiba-tiba.


Alin masih diam.


"Ku mohon...kita bisa mulai semua dari awal jangan seperti ini gantung." ucap nya kembali.


" Tapi mas...." ucapan Alin di potong Lingga.


"Jika kamu tidak mau kembali pada ku kamu bisa menggugat cerai aku." ujar Lingga sambil menatap permainan yang di depan nya.


"Bukan seperti itu mas.." ucap Alin bingung.


"Jadi apa? aku tahu kamu tersiksa selama ini tapi aku juga tersiksa dengan hukuman ini, kamu tidak ingin kembali pada ku dan juga menggugat ku lantas apa arti dari pernikahan ini." ujar Lingga kesabaran nya seakan tidak tertahan lagi.


"Maafkan aku mas." ucap Alin lirih.


"Besok aku akan mengajak mu pergi ke suatu tempat." ujar Lingga.


Alin hanya mengangguk mendengar ucapan Lingga, sedangkan Zian dan Melly yang baru saja selesai dengan permainan nya kembali bergabung bersama Alin dan Lingga.


"Kamu masih gemetaran." tanya Zian yang masih menggenggam tangan Melly.


Melly hanya mengangguk suara nya seakan cekat karna ini adalah pertama kali nya ia menaiki wahana rollercoaster.


"Kamu yang ngajak kamu juga yang seperti ini ketakutan." ucap Zian sambil mengelap keringat dingin Melly.


Alin tersenyum sendiri melihat sikap kakak nya kepada Melly perasaan bahagia menyelimuti hati nya saat melihat kakak nya bahagia.


"Sudah hampir malam sebaik nya kita pulang ." Ajak Lingga dan di iya kan oleh mereka.

__ADS_1


Sore berganti malam, dan malam bergati pagi. Jam menunjukan pukul delapan pagi tapi Lingga sudah datang untuk menjemput Alin.


Di sepanjang jalan hanya ada kehiningan di antara mereka Berdua.


"Aku ingat jalan ini." ucap Alin tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Lingga singkat.


"Kenapa mas mengajak ku kesini?" yanya Alin bingung.


"Kamu akan tahu sendiri nanti."


Kembali sunyi setelah beberapa saat mobil Lingga masuk ke dalam pekarangan sebuah rumah.Alin kemudian turun menatap sedih dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Aku rindu rumah ini." ucap Alin matanya mulai berkaca-kaca.


"Ayo masuk." ajak Lingga.


Alin kemudian berjalan masuk mengikuti Lingga rumah yang sempat ia tempati dulu yang menyimpan kenangan buruknya.


Alin berjalan pelan melihat inci demi inci rumah yang ia tinggalkan dua tahun lalu.


"Masih sama...!" lirih Alin.


"Aku sengaja tidak merubah nya karena aku tahu semua ini adalah hasil tatanan kamu."


Lingga mengajak Alin ke kamar yang dulu Alin tempati.


"Lihatlah...masih sama tak ada yang berubah setiap malam aku tidur di sini." jelas Lingga.


Namun Alin tidak fokus terhadap ucapan Lingga, wanita itu malah fokus terhadap figura besar yang terpajang di dinding kamar yaitu salah satu foto pernikahan mereka.


"Sejak kapan mas." tanya Alin menatap potret mereka.


"Sejak kamu memutuskan untuk pergi." jawab Lingga sedih "Ayo...kita ke kamar ku." ajak Lingga.


Satu demi satu Alin dan Lingga menaiki anak tangga menuju kamar Lingga.


"Kamar mu masih sama mas." ujar Alin namun lagi-lagi mata nya menangkap sesuatu yang dulu pernah ia taruh di atas nakas kamar Lingga.


"Amplop ini." ucap Alin.


"Masih sama...aku tidak pernah membuka nya tapi aku hanya membaca surat dari mu. Ketahui lah, aku benar-benar menyesal atas perbuatan ku." ucap Lingga kembali berlutut air mata nya pun ikut menetes.


"Mas jangan seperti ini bangun lah." ujar Alin.


"Tidak...sebelum kamu katakan pada ku kalau kamu mau memaafkan ku dan kembali pada ku." Pinta Lingga memohon.

__ADS_1


"Mas sudahlah jangan seperti ini aku memaafkan mu dan aku akan kembali pada mu." Ucap Alin tegas membuat Lingga reflek memeluk Alin.


"Terimakasih...terimakasih." ucap Lingga bahagia.


"Lagian kak Zian udah cerita semua tentang kamu." Ucap Alin membalas pelukan Lingga rasa rindu yang selama ini mereka pendam akhir nya bisa saling menuntaskan.


"Terserah kakak mu mau cerita apa yang penting sekarang aku sangat bahagia sekarang." Pelukan Lingga semakin erat sesekali laki-laki tampan itu mengecup pucuk kepala istri nya. Bahkan rasa syukur nya pun tak henti-henti ia ucapkan di dalam hati.


"Sudah...sudah ..." ucap Alin.


"Kenapa suami mu ini masih rindu." ujar Lingga sambil mengerutkan alis nya.


"Aku harus ke restoran mas menyelesaikan masalah di sana dan juga mas Lingga harus nya ke kantor sekarang kerja."


"Sebentar saja aku mau seperti ini memeluk mu." ujar Lingga yang menarik Alin ke dalam pelukan nya lagi.


Akhirnya Lingga mengantar Alin ke restoran sedangkan ia juga kembali ke kantor nya.


"Aku akan pulang kerumah mu malam ini." ujar Lingga sebelum pergi dandi tanggapi Alin dengan senyuman.


Sesampai nya di kantor Lingga langsung menuju ke ruangan kerja milik nya wajah bahagia nampak jelas terlihat.


"Dari mana lo..? kok tumben siang gini datang nya?" tanya Andra.


"Gue....habis ketemu dengan my wife." jawab Lingga senyum-senyum.


"Maksud lo?" tanya Andra tidak mengeti.


"Gue kembali bersama lagi dengan Alin."


"Beneran ...? sumpah....!" Andra tidak percaya.


"Iya...iya...masa gue bohong."


"Wah...selamat broo akhir nya perjuangan lo gak sia-sia juga." ujar Andra memberi selamat.


"Makasih And...tanpa lo gue juga gak bisa ketemu sama Alin."


"Uda biasa aja kita kan sahabat harus saling membantu."


"Tapi bener gue ucapin makasih banget."


"Kalau gitu kapan lo akan ngerayain kembali nya istri lo yaa...setidak nya antara kita-kita saja sahabat-sahabat lo."


"Lo atur waktu nya." ucap Lingga.


Jadilah hari ini Lingga bekerja dengan penuh semangat bahkan senyum nya pun tak henti-henti nya mengembang membuat beberapa karyawan merasa aneh dengan bos nya tapi tidak dengan Andra yang tahu seluk beluk nya.

__ADS_1


__ADS_2