Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
29.Ketemu Mamah Papah


__ADS_3

Seperti rencana kemarin, Lingga datang kembali ke rumah keluarga Nugraha untuk menjemput Alin, karena hari ini Alin ingin bertemu dengan kedua orang tua Lingga lebih tepatnya mertua nya.


"Kak..Alin pamit dulu." pamit Alin pada kakaknya.


"Hmmm...hati-hati." jawab Zian sambil menyeruput teh pagi nya "Jagain adik gue kalau sampai lecet secuil pun habis lo." ancam Zian kepada Lingga.


"Siap kakak ipar." ujar Lingga.


"Emang adik gue mau balik sama elo?" goda Zian.


"Masih di usahakan." balas Lingga.


"Udah ah...ayo mas nanti keburu macet." ucap Alin.


Alin dan Lingga berlalu pergi meninggalkan Zian seorang diri, kali ini diri nya harus benar-benar mengalah untuk kebahagian Alin.


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang terjadi, Alin mau pun Lingga tak ada yang membuka pembicaraan mereka terlihat canggung jika duduk berdua.


"Apa mamah Mayang tahu kalau kita akan kesana?" tanya Alin mengawali pembicaraan.


"Tidak...aku menganggap nya sebagai kejutan." jawab Lingga.


Kembali sunyi kini Alin memainkan ponsel nya untuk membuang rasa gugup pada dirinya.


Hampir satu jam Lingga mengemudi akhirnya mereka tiba di rumah orangtua nya.Langkah kaki Lingga tergesa-gesa seakan semua ini adalah kejutan untuk kedua orang tua nya.

__ADS_1


"Mah...pah...mah...pah..." teriak Lingga saat masuk kedalam rumah.


"Ada apa sih datang teriak-teriak berisik tahu." Omel Mayang yang muncul dari arah dapur.


"Lihat siapa yang datang." ujarLingga dengan mata yang berbinar.


Mayang terperangah melihat siapa yang datang kerumah nya.


"Ya Allah...Alin sayang." ucap Mayang langsung menghampiri Alin " Mamah Kangen sama kamu, kamu kemana aja?" tanya Mayang sambil memeluk Alin. Wanita paruh baya itu sangat bahagia sekarang.


"Alin ada kok mah." jawab Alin bingung karna ia tidak tahu harus menjawab apa.


"Pah...pah." teriak Mayang.


"Iya pah mah kemaren Alin minta Lingga buat ketemu mamah sama papah."


"Apa kalian sudah baikan?" tanya Mayang.


"Alin udah maafkan mas Lingga mah." Jawab Alin.


"Jadi kalian kembali bersama dong?" T


tanya Mayang kembali


"Maafkan Alin mah pah untuk saat ini Alin belum siap." ucap Alin dengan nada pelan.

__ADS_1


Lingga hanya terdiam ia sudah tahu jawaban apa yang akan keluar dari mulut Alin.


"Maafkan Lingga nak, maafkan mamah dan papah juga karena kami hidup mu begitu menderita." ujar Mayang yang sudah meneteskan air mata.


"Gak ada yang perlu di maafkan semua yang terjadi adalah kehendak takdir." ucap Alin merasa tidak enak hati.


"Semenjak kepergian mu Lingga seperti orang gila nak, pekerjaan kesehatan nya sekali pun tidak ia peduli kan lagi." sambung Angga.


"Oh..ya bagaimana kabar kakak mu mamah dengar dari Lingga, Zian adalah kakak kandung mu?" tanya Mayang mengalihkan pembicaraan.


"Iya mah...kakak baik-baik aja."


"Lalu apa kesibukan mu sekarang?" tanya Angga kembali sedangkan Lingga hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Mengelola restoran Ananta milik mamah." Jawab Alin.


"Wah kamu hebat ya...kapan-kapan mamah dan papah akan mampir ke resto kamu." ujar Mayang.


"Iya mah...itu aja Alin dapat maksa karena Kak Zian gak izinkan Alin untuk kerja kata nya dia masih mampu menghidupi Alin."


"Ali...Alin...kakak mu benar, karena harta milik keluarga Nugraha tidak akan habis sampai tujuh turunan." sambung Angga.


Jadi lah mereka mengobrol sesekali bercanda Alin seakan melupakan masa lalu yang pernah ia alami dulu.


Lingga merasa senang karena ia menang banyak bisa menggoda Alin hingga membuat Alin merasa malu, di tambah kedua orang tua Lingga yang seakan-akan mendekatkan kembali Anak menantu nya.

__ADS_1


__ADS_2