
π¨ππ ππππ πππππ π πππππ ππππ, πππ ππ πππ ππππ πππππππ πππππ πππππ ππππππ ππ πππ ππ ππππ πππππ πππππ πππππ.
π΅π πΉ
Jenie melamun sambil mengigiti kuku jari nya, wanita itu sedikit tegang memikirkan isi pesan yang ia terima kemarin.
pikiran nya melayang mengingat kejadian beberapa tahun silam.
"Junika..." Geram nya "Udah mati masih aja nyusahin." Lirih nya.
"Bicara sama siapa kamu?" Tanya Zian tiba-tiba "Siapa yang udah mati?"
Jenie terlonjak kaget"Eh...pak." Jawab nya gugup "Bukan siapa-siapa."
Zian berlalu pergi, sedangkan Jenie mengusap dada nya yang sedari tadi gusar.
"Apa yang harus aku lakukan?" Batin nya "Semenjak aku pindah ke kantor ini, aku bingung mau berbuat apa."
Jenie sedikit mengacak rambut nya frustasi, langkah nya seakan mati bahkan rencana yang ia susun bersama orang tua nya belum terlaksana satu pun.
"Ancam dia ." Perintah Zian pada Akmal "Waktu nya masih empat hari dan tekan dia terus menerus."
"Baik tuan." Ujar Akmal menurut.
Zian kemudian melangkahkan kaki nya ke luar lift kemudian berhenti sejenak "Selesaikan semua pekerjaan, aku ingin menemui adik ku."
Akmal hanya menganggukkan kepala nya, setelah tuan nya hilang dari pandangan baru lah ia pergi.
Zian menjemput istri nya terlebih dahulu, kemudian membeli beberapa kue kesukaan Alin. Setelah menempuh perjalan yang cukup panjang, baru lah pasangan suami istri itu tiba dan di sambut hangat oleh Mayang dan Suami nya.
"Gimana kabar kamu?" Tanya Angga.
"Baik pah." Jawab nya "Papah dan mamah gimana?" Tanya nya balik.
"Baik juga." Jawab Mayang dan Angga bersamaaan.
Melly juga ikut menyapa memberikan senyuman terbaik yang ia miliki. Nampak seorang wanita dengan perut buncit menuruni anak tangga dengan girang nya.
"Kakak." Sapa Alin " Ke sini kok gak ngabarin Alin."Ucap nya sedikit merajuk.
"kak Melly yang ngajak ke sini kata nya dia kangen sama kamu." Jawab Zian kemudian beralih ke Melly.
__ADS_1
"Kakak pengen ngusap perut kamu." Ucap nya bersuara "kakak ingin cepat hamil." Dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Aaa.....jangan sedih." Rayu Alin sambil memeluk Melly "Kakak pasti hamil."
"Iya, sabar aja semua butuh proses." Sambung Mayang.
"Suami mu aja yang kurang gesit di ranjang." Ujar Lingga tiba-tiba datang.
"Sialan lo." Umpat Zian "Semoga ponakan gue gak seperti lo." Balas Zian.
Lingga hanya terkekeh begitu juga dengan yang lain "Kalian butuh bulan madu." Ujar Lingga "Selama ini kalian hanya sibuk dengan pekerjaan saja."
"Eh...bener tuh." Sambung Alin.
Zian menoleh ke arah istri nya "Untuk sekarang belum bisa, kalian tahu sendiri musuh kita berada dekat di sekeliling kita." Jelas nya.
Lingga membenarkan ucapan Zian kemudian memberi dukungan.
"Kenapa kamu masih diam saja?" Tanya Angga.
"Aku memberi nya waktu satu minggu pah dan masih tersisa empat hari lagi." Jawab pria tampan itu "Aku tidak ingin menunggu lama untuk kehancuran mereka, sebab mereka aku menderita sekian lama nya."
"Kamu gak usah banyak pikiran, jaga kesehatan dan jangan keluar rumah sembarangan, karena mereka mengincar kamu."Nasehat Zian pada adik nya.
"Iya kak." Jawab Alin singkat.
Zian membuang nafas kasar "Sebenar nya kami tidak ada hubungan darah dengan mereka." Ujar Zian tiba-tiba.
"Maksud kakak?" Tanya Alin tidak percaya.
"Om Hendra hanya anak angkat du keluarga Nugraha, saat usaha papah dan mamah berkembang pesat dia menjadi iri. Sejak dulu om Hendra selalu jahat kepada papah tapi papah tidak ingin membalasnya. Awal nya aku tidak percaya saat mendengar cerita bu Sita tapi aku kembali berpikir dengan semua kejadian yang ku alami selama ini." Tutur Zian.
Alin terperangah, ia bingung harus bicara apa.
"Tidak usah bicara kalau kamu bingung." Ujar Lingga.
Alin mendecih "Mendingan mas bikinin aku susu deh." Ujar Alin.
Lingga hanya menurut, Mayang dan Angga hanya bisa memberi semangat pada pria yang sudah ia anggap anak sendiri itu.
"Kak, Maafkan Alin semua gara-gara Alin." Ucap nya sedih.
__ADS_1
Zian menatap tidak suka ke arah adik nya "Jangan ucapkan kata-kata itu lagi kakak tidak suka mendengar nya."
Melly mebelai pundak suami nya agar bisa sabar "Jangan emosi." Ujar Melly.
Tak lama, Lingga kembali bergabung dengan membawa segelas susu hangat khusus untuk istri nya.
"Minumlah." Ujar Lingga.
"Jadi bucin adik gue lo sekarang?" Ledek Zian.
"Sialan lo." Umpat Lingga "Nanti lo akan merasakan sendiri saat Melly hamil nanti." Bela nya.
"Lingga ini persis papah waktu masih muda, selalu sigap melayani saat mamah nya hamil dia dulu." Ujar Angga.
"Tapi, Alin ngidam nya suka aneh-aneh." Ujar Lingga sedikit mengadu berharap ipar nya membela nya.
Alin menatap sinis suami nya "Kalau gak suka gak usah punya istri." Ujar nya ketus.
Mayang hanya tersenyum "Bener kata Alin, lelaki pengen enak nya aja." Bela Mayang untuk Alin.
Alin mencibir suami nya, sedangkan kakak nya hanya terkekeh. Zian senang saat melihat adik nya bahagia buat Zian, Alin akan tetap menjadi adik kecil nya yang manja.
"Apes, gak ada yang belain aku." Lirih Lingga.
"Kamu bicara apa mas?" Tanya Alin datar.
"Eehh...gak sayang ini tadi kakak mu menelpon dia bilang mau kerumah maka nya aku pulang cepat." Kilah Lingga.
"Bohong." Ujar Melly tertawa geli.
"Aku mendengar nya mas." Ujar Alin
Begitulah perdebatan kecil di antaran pasangan suami istri itu, bahkan Alin dan Lingga tidak malu jika harus beradu argumen di depan orang tua dan juga kakak nya.
π»ππππππππππ πππ ππ ππππππ ππ πππππ ππππ π΅π πΉ.
π±πππππ ππππ π³πππ πΉπππ πͺπππππ πππ π½πππ π π πππππ π΅π πΉ.
π²πππππ π½πππ ππππππ ππ ππππ ππππππππ ππππππ
πΊππππ πππππ π πππ ππππ ππππππ ππππ πππππππ πππππ ππππππ π ππ π π πππππ πππ πΉπππππ πππππ
__ADS_1