Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
38.Sabar


__ADS_3

Malam ini Zian membawakan makan malam ke kamar Alin, Zian langsung masuk dan menghampiri adik nya yang sedang duduk di kursi roda.


"Kenapa di sini?" tanya pria itu yang menghampiri adik nya "Cuaca nya sangat dingin ayo masuk." ajak Zian sambil mendorong kursi roda.


"Kak..." Hanya kata itu yang keluar dari mulut nya.


"Kakak suapi makan ya setelah itu minum obat dan istirahat."


"Alin gak mau." ujar nya dengan raut wajah sedih.


"Kamu harus sembuh dek, kakak gak tahan melihat keadaan kamu seperti ini." Zian mencoba membujuk.


"Kapan Alin bahagia nya kak? Alin selalu menderita dan sekarang Alin gak bisa jalan." tangis nya pecah, sedangkan Lingga yang mengintip di balik pintu hanya bisa meneteskan air mata nya. Pria itu semakin menyesal dengan perbuatan nya dulu.


"Kamu pasti sembuh...kakak akan mencari Dokter terbaik untuk mu kalau kamu mau besok kita akan kembali ke Singapura."


"Gak...Alin gak mau..Alin mau di Indonesia aja." ucap nya sembari menghapus air mata nya.


"Kalau gak mau maka nya sekarang kamu makan ya." ujarZian tersenyum.


Zian kemudian menyuapi adik nya makan perasaan nya sedikit lega melihat Alin mau makan.Lingga yang masih berada di posisi nya juga ikut lega melihat Alin mau makan dan minum obat.


Setelah selesai makan dan minum obat, Zian memindahkan Alin ke tempat tidur nya.

__ADS_1


"Kak...besok kak Melly ke sini kan?" tanya Alin pada kakak nya.


"Iya..Melly akan menemani kamu sampai kamu sembuh."


"Lalu siapa yang mengurus restoran?"


"Kakak sudah mengirim orang dari perusahaan untuk mengurus nya sementara waktu ini."


"Terimakasih kak."


" Tidur lah kamu butuh istirahat kalau ada apa-apa kamu tinggal tekan tombol ini." ujar Zian menyerahkan remot alarm kecil.


Zian kemudian keluar dan ia mendapati Lingga yang sedang berdiri di luar kamar Alin.


Pagi sekali Melly sudah berada di rumah Alin, perempuan ini sangat kasihan melihat keadaan Alin yang seperti ini. Melly sangat mengerti keadaan Zian dan Lingga yang tidak bisa menjaga Alin sepenuh nya.


Pagi ini Melly membantu Alin untuk mandi dan memakai pakaian karena kaki Alin masih sakit untuk di gerakan. Setelah selesai, Melly mengajak Alin untuk menghirup udara segar di taman belakang.


Melly yang melihat Lingga mencoba menghampiri Lingga.


"Alin...kakak ambil sarapan untuk mu dulu ya." Alsan Melly.


Alin hanya mengangguk, kemudian Melly berlalu pergi.

__ADS_1


"Terimakasih sebelum nya Mell..kamu sudah mau merawat istri ku." ucap Lingga pelan.


"Sudahlah, jangan sungkan-sungkan Alin butuh support sekarang."


"Aku merasa tidak becus sebagai suami." ujar Lingga sedih.


"Sabar Ling...semua ada masa nya, semoga cobaan ini membuat kamu semakin mengerti bagaimana cara nya menghargai orang yang tulus."


Lingga hanya terdiam sambil menatap Alin dari jendela, setelah itu Melly kembali melanjutkan langkahnya untuk mengambil sarapan.


Saat dengan Melly, Alin terlihat banyak bicara dan tertawa kedua wanita itu nampak akrab seperti kakak dan adik. Sedangkan di jendela masih sama Lingga yang di temani Zian merasa senang melihat Alin yang sudah mau bicara dan tertawa.


"Sebaiknya lo resmikan hubungan lo dengan Melly." ucap Lingga tanpa merubah posisinya.


"Apaan sih lo...?" gumam Zian sambil memukul pelan lengan Lingga.


"Lo gak lihat kalau mereka sangat akrab seperti kakak adik, lagian Melly perempuan yang baik meski bukan dari keluarga yang terpandang."


"Gue gak yakin dengan perasaan gue saat ini...yang gue pikirkan hanya kesembuhan Alin dan kebahagiaan nya." ujar Zian menatap Lingga.


"Sudahlah, sebaik nya lo pikirkan tentang Melly kalian berdua sangat cocok." ucap Lingga berlalu pergi.


Zian kembali menatap kedua wanita di depan nya ia memasukan kedua tangan nya ke dalan saku celana. Pandangan matanya terarah pada Melly yang selalu tersenyum saat bicara dengan Alin.

__ADS_1


"Kau begitu manis." batin pria itu melihat Melly tersenyum, kemudian pria itu berlalu pergi untuk berangkat ke kantor.


__ADS_2