
Lingga masuk kedalam rumah dan langsung menuju kekamar, di dalam kamar ia mendapati istri nya yang duduk termenung di balkon kamar. Lingga yang melihat istri nya murung dan sedih membuat hati nya merasa bersalah.
"Maafkan aku." Ujar nya sambil bersimpuh di depan istri nya.
Alin terkejut dengan kedatangan Lingga "Mas...kenapa?" Tanya nya bingung.
"Maafkan mas...karena kesibukan mas kamu harus seperti ini."
Alin hanya menatap wajah suami nya, jauh di lubuk hati nya Alin juga merasa bersalah dengan pria yang ada di depan nya "Aku juga minta maaf." Lirih Alin.
"Untuk?" Tanya Lingga bingung sedangkan Alin mulai bimbang untuk memberitahu kebenaran tentang ingatan nya " Aku sebenar nya sudah ingat dengan semua nya." Ucap Alin pelan dengan wajah menunduk. Lingga hanya tersenyum mendengar pernyataan dari istri nya "Mas sudah tahu." Ujar nya sontak membuat Alin memukul lengan suami nya " Sejak kapan?" Tanya nya merajuk " Terus tahu dari mana? kenapa gak tanya?" Rentetan pertanyaan di keluarkan Alin.
"Kenapa kamu marah seharus nya mas yang marah kamu bohongi mas terus." Ujar Lingga sambil memainkan jari istrinya " Mas minta maaf gak punya waktu banyak untuk kamu tapi mas janji akan ngajak kamu jalan-jalan biar gak bosan."
"Benarkah?" Tanya Alin berbinar, Lingga mendorong kursi roda istri nya kemudian memindahkan istrinya ke tempat tidur.
Lingga memijat pelan kaki istri nya dengan penuh kasih sayang.
"Terus kenapa mas pulang?"
__ADS_1
"Rindu sama kamu." Goda nya.
"Lalu pekerjaan mas?"
"Apa guna nya Andra yang ku gajih mahal."
Alin yang duduk bersandar di dipan tempat tidur nya terus menatap wajah tampan suami nya. Lingga yang di tatap kemudian menghentikan pijatan nya " kenapa?" Tanya pria itu.
"Tidak." Jawab singkat Alin dengan senyuman.
"Kita menikah sudah tiga tahun tapi rumah tangga kita seperti ini." Ucap Lingga tiba-tuba bahkan raut wajah nya berubah sedih "Mas iri dengan rumah tangga orang lain yang memiliki anak dan hidup damai bahagia."
Alin terdiam mendengar ucapan suami nya, tak di pungkiri hati dan pikiran nya juga memikirkan hal yang sama dengan sang suami.
"Bisakah kita memulai semua nya dari awal lagi? mas minta maaf udah membuat kamu menderita mas minta maaf udah nyakitin kamu selama ini."
"Aku bukan pendendam mas, buat ku pernikahan adalah sekali seumur hidup."
Lingga menghapus air mata istri nya, pria itu merasa bahagia teramat dalam mendengar ucapan istri nya " Terimakasih." Ucap nya sambil memeluk istrinya.
__ADS_1
"Aku sudah bisa berjalan mas hanya saja masih kaku."
"Mas tahu itu yang penting sekarang kamu banyak berlatih mas pasti akan bantu kamu."
"Aku ingin menyaksikan pernikahan kakak mas aku ingin berdiri di samping kakak mas." Ucap nya kembali dengan air mata.
"Sabar, sebentar lagi kamu sembuh." Ujar Lingga menguatkan sang istri.
"Kakak sudah cukup menderita dengan kehilangan kami semua mas aku ingin kakak bahagia aku gak ingin dia sedih kakak saudara satu-satunya yang ku punya."
"Mas tahu sayang kamu jangan sedih terus semua pasti ada masa nya."
"Tapi kalian pasti terbebani dengan keadaan ku selama ini mas terutama kakak dia bahkan tidak pernah memikirkan diri nya sendiri sedangkan aku apa hanya bisa ngeluh marah hanya karena kalian sibuk dan tak punya waktu untuk ku."
"Tidak....semua salah kami bukan salah kamu kakak mu sangat menyayangi mu."
Lingga ikut meneteskan air mata, bagaimana tidak pria tampan itu sangat mengenal baik Zian yang menderita sejak kecil karena kehilangan keluarga nya.
Zian yang mendengar ucapan adik nya dari balik pintu juga ikut meneteskan air mata, hati nya sangat sakit jika mengingat masa lalu yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
"Kakak janji akan terus bahagia demi kamu Alin adik kakak." Batin nya "Aku bahkan akan merelakan nyawa ku sekali pun untuk kebahagian mu."
Zian kemudian pergi menjauh dari kamar sang adik ia tidak mau Alin melihatnya dalam keadaan menangis.