
Malam ini Alin masih sangat sedih bahkan ia menolak untuk makan malam entah kenapa ia menyalahkan diri sendiri atas kematian kedua orang tua.
Zian yang baru saja selesai membersihkan diri langsung menuju ruang makan namun ia tidak melihat Alin di sana.
"Bu Sita.." Panggil Zian.
"Iya tuan muda."
"Kenapa Adik ku belum turun?"
"Nona Alin menolak untuk makan malam tuan."
Zian bergegas pergi ke kamar Alin, Zian sangat takut kalau terjadi apa-apa terhadap adiknya.
"Dek...boleh kakak masuk?" tanya Zian sambil mengetuk pintu.
"Masuklah kak pintu nya gak di kunci."
Zian membuka pintu kamar dan kemudian masuk menghampiri Alin yang duduk di meja rias.
"Kenapa...apa kamu menangis lagi." tanya Zian "Berhentilah bersedih jalan hidup mu masih panjang...hidup tidak melulu soal kesedihan dan masa lalu, ada kala nya kita harus memikirkan kehidupan yang sekarang pikirkan bagaimana kita bahagia untuk saat ini, mengingat masa lalu sama saja kamu menutup masa depan, Jadikan lah masa lalu sebagai pembelajaran untuk kedepan nya." Nasehat Zian.
"Maafkan Alin ka...harus nya Alin tidak membuat kakak sedih." ucap Alin sambil menatap kakak nya dari cermin.
"Ayo...sekarang makan malam kakak gak mau kamu sakit."
__ADS_1
Alin dan Zian akhirnya beranjak meninggalkan kamar untuk makan malam.
"Eemmm...ini makanan kesukaan Alin semua rugi nih kalau gak di makan." ucap Alin yang melihat hidangan di atas meja makan.
"Iya...kakak meminta bu Sita menyiapkan ini semua."
"Makasih kak." ucap Alin dengan senyum mengembang.
Zian merasa bahagia melihat adik nya yang tersenyum kembali.
"Kamu sudah siap untuk besok?"
"Sudah kak.." Ucap Alin sambil menguyah makanan nya.
"Tanya apa?"
"Kakak belum punya pacar?" tanya Alin tiba-tiba.
uhuukk...uhukkk....Zian tersedak mendengar pertanyaan adiknya, segera Alin menyodorkan gelas yang berisi air.
"Aduuh...maafkan Alin kak."
"Gak apa-apa...sebenarnya kakak belum punya pacar selama ini kakak mendekati perempuan hanya untuk mencari kamu saja."
"Tapi kan umur kakak sudah dua puluh delapan tahun sudah siap untuk menikah."
__ADS_1
"Kakak sudah janji pada diri kakak..kalau kamu belum ketemu kakak gak akan nikah."
"Jangan gitu dong kak...kakak harus bahagia."
"Kakak ingin melihat kamu bahagia dulu setelah itu baru kakak."
Alin hanya tersenyum mendengar ucapan kakak nya ia tidak menyangka kalau diri nya memiliki seorang kakak laki-laki yang sangat menyayangi nya.
Pagi ini Alin nampak cantik dengan kemeja putih dan rok span berwarna navy di tambah blezer yang berwarna senada. Rambut cantik nya sengaja di biarkan tergerai. Begitu juga Zian nampak gagah dengan setelan jas nya.
Kini mobil mewah yang di kendarai Zian berhenti di depan loby perusahan.Terlihat barisan rapi yang akan menyambut kedatangan Zian dan Alin.
"Selamat pagi pak." Sapa Akmal asisten pribadi Zian.
Alin nampak gugup namun ia menutupi kegugupan nya dengan tersenyum.Seluruh karyawan memberi salam atas kedatangan Zian dan Alin.
"Selamat pagi semua." ucap Zian kepada karyawan nya.
Semua karyawan kemudian membalas sapaan bos mereka.
"Hari ini saya akan memperkenalkan seseorang yang sangat penting dalam hidup saya...dia yang berdiri di samping saya saat ini adalah adik kandung saya Alin Sunny Nugraha."
Kemudian semua karyawan memberi hormat kepada Alin, ada yang berbisik-bisik kalau mereka pernah melihat Alin di kantor ini sebelum nya.
Acara penyambutan selesai Zian mengajak Alin pergi ke ruangan nya dan juga mengajak Alin berkeliling untuk mengenal perusahan yang di kuasi kakak nya tersebut.
__ADS_1