Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
11.Dia Adik ku


__ADS_3

Seperti biasa, Zian selalu mengunjungi Alin setiap hari dan keakraban Meraka semakin kuat. Hari ini Zian Diam-diam mengunjungi apartemen Alin, ia tahu kalau siang Alin pasti tidur siang bahkan terkadang Alin tidur sampai sore.


pelan-pelan Zian melangkahkan kaki nya agar tidak membangunkan Alin, di hampirinya Alin yang tertidur begitu nyenyak di sofa dalam keadaan televisi menyala.


Zian mengeluarkan gunting kecil yang sudah ia persiapkan dalam saku celana nya, dengan hati-hati Zian menggunting rambut Alin sedikit untuk membuktikan kegelisahannya selama ini Zian harus segera melakukan tes DNA.


Setelah mendapatkan rambut Alin secukupnya, Zian kemudian bergegas pergi ia langsung menuju rumah sakit untuk melakukan tes DNA.


Setelah tiba di rumah sakit Zian langsung bertemu dengan dokter yang tak lain adalah sahabatnya Jimmy Sanjaya.


"Apa yang membawa mu datang ke rumah sakit ini Zian?" tanya Jimmy yang merangkul sahabatnya itu.


"Tentang seseorang yang gue ceritain beberapa waktu lalu."


"Apa lo udah dapat sampel nya?" tanta Jimmy kembali.


Zian memberikan potongan rambut yang terbungkus tissu kepada Jimmy.


"Tolonglah Jim gue sangat berharap dengan hasil nya."ucap Zian yang menatap sahabat itu.


"Tenang aja gue yakin pencarian lo selama ini pasti akan membuahkan hasil."


"Kapan gue bisa lihat hasil."


"Besok sore..gue akan cepat melakukan nya karena gue tahu lo pasti harap-harap cemas dengan hasilnya."


"Makasih Jim..kalau gitu gue pergi dulu dan lo pasti ingatkan permintaan gue waktu itu?"


"Iya..gue pasti bantu lo."


Zian kemudian keluar dari ruangan Jimmy ia kembali ke kantor nya, di sepanjang perjalanan pikiran Zian hanya berharap kalau Alin adalah adik kandungnya yang hilang selama ini.


Alin saat ini sedang menikmati indahnya pemandangan kota dari atas balkon di sore hari, Zian merawat Alin dengan sangat baik sehingga membuat tubuh Alin mulai pulih beberapa minggu terakhir.


karena merasa bosan Alin mencoba keluar apartemen dan berjalan-jalan di taman.


Tatapan mata Alin tertuju pada kedai es cream yang berada di sebrang jalan, Alin berniat membeli es cream karena sudah lama ia tidak menikmati es cream. Dengan tersenyum lebar Alin berjalan menuju kedai tersebut.


Di bahu jalan Lingga yang mengemudikan mobil nya tidak sengaja melihat Alin dengan cepat ia keluar mobil dan menghampiri Alin.


Alin yang menoleh saat Lingga memanggil nama nya sangat terkejut bahkan wajah nya sampai memucat.


"Mas Lingga ..." ucap Alin kaget.


" Alin ..kamu kemana aja mas nyariin kamu." Sambil memegang kedua bahu Alin.


"Lepas mas .."Alin kemudian menepis tangan Lingga dan langsung berlari pergi.


Dengan cepat Lingga mengejar Alin saat berada di loby apartemen Lingga berhasil menarik tangan Alin.

__ADS_1


"Lepas mas...lepas kan aku." teriak Alin.


"Gak...kamu kemana aja jawab dulu aku."


Masih kekeh Alin mencoba melepaskan tangan Lingga namun entah kenapa Alin tiba-tiba pingsan membuat Lingga panik.


Zian yang melihat Alin pingsan dengan cepat keluar dari mobil nya dan menghampiri Alin yang tergeletak.


"Breng*ek lo apain Alin sampai pingsan." teriak Zian yang langsung mendorong Lingga.


"Zian....." belum sempat Lingga melanjutkan kata-kata nya Zian sudah menggendong Alin memasukan nya ke dalam mobil dan pergi kerumah sakit.


Sedangkan Lingga kembali ke mobil nya dan mengikuti Zian yang membawa Alin, kali ini otak nya hanya di penuhi pertanyaan tentang hubungan Alin dan Zian, dengan kesal Lingga memukul stir mobil beberapa kali.


Zian kini mondar mandir gelisah di depan pintu ruangan UGD,Sedang Lingga yang baru saja tiba membuat Zian emosi.


"Lo apain Alin? kenapa bisa pingsan?" mencengkeram kerah baju Lingga.


"Harus nya gue yang tanya ada hubungan apa Lo dan Alin?" tanya balik Lingga dengan penuh emosi.


"Gue punya hubungan atau gak bukan urusan Lo, apa lo gak puas udah nyiksa dan menyakiti Alin?"


"Alin masih istri gue jadi gue berhak atas dia."


Tiba-tiba dokter yang menangani Alin keluar dengan cepat Zian dan Lingga menghampiri Alin.


"Bagaimana keadaan nya dok?" tanya mereka bersamaan.


"Ginjal...Ada apa dengan ginjal Alin?" tanya Lingga yang masih bingung dengan penjelasan Dokter.


Zian langsung menghantamkan sebuah pukulan di perut Lingga.


"Asal lo tahu Ling demi membayar semua hutang ayah nya Alin menjual salah satu ginjal nya." kembali mencengkram kerah baju Lingga.


Lingga yang mendengar ucapan Zian terduduk lemas karena berkat diri nya hidup Alin semakin menderita.


Lingga dan Zian menunggu Alin semalaman bahkan sampai siang ini Lingga belum juga pergi meski Zian berulang kali mengusirnya.


Saat Lingga hendak mendekati tubuh Alin yang belum sadarkan diri Zian mencoba menghalangi Lingga.


Sore ini adalah sore yang mendebarkan untuk Zian karena sore ini ia akan mengetahui hasil tes DNA yang ia lakukan secara diam-diam.


"Gue ada urusan sebentar lo jaga dia dan awas kalau sampai terjadi apa-apa pada Alin gue akan membunuh lo." berlalu pergi meninggalkan Lingga yang masih terpaku ucapan Zian.


Zian langsung menuju ruangan Jimmy tangan nya berkeringat dingin jantung nya berdetak begitu cepat, Jimmy yang melihat kedatangan sahabatnya itu hanya tersenyum lebar.


"Ngapain lo senyum-senyum? gak tahu apa gue gelisah."


"Senyum aja gak boleh." Celetuk Jimmy.

__ADS_1


"Mana hasil nya cepat.'' Pinta Zian tidak sabar.


Jimmy memberikan sebuah amplop berwarna putih dengan cepat Zian membuka hasil nya, seketika mata Zian melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini.


"Selamat broo...yang lo cari selama ini akhirnya ketemu." ucap Jimmy seraya menepuk pundak Zian.


Zian hanya meneteskan air mata keyakinan yang kuat akhirnya membuahkan hasil.


"Adik gue jim..adik gue ketemu." ujar Zian sambil memeluk sahabatnya.


"Iya..gue tahu dan gue yakin orangtua lo pasti bahagia melihat lo udah menemukan adik lo."


"Jim..gue minta urus keberangkatan adik gue ke Singapura malam ini juga gue gak mau lihat laki-laki bre*gsek itu menyakiti adik gue lagi."


"Baiklah."


"Terimakasih jim.''


Jimmy hanya mengangguk dan Zian kemudian kembali ke ruangan tempat Alin di rawat perasaan bahagia bercampur sedih menjadi satu yang ia rasakan, melihat keadaan Alin sebagai kakak hati Zian begitu teriris.


"Kia...kakak akan melakukan apa pun untuk kesembuhan kamu sayang." ucap Zian sambil berjalan.


Saat Zian memasuki ruangan tersebut ia melihat Lingga yang menggenggam tangan Alin, dengan cepat Zian menarik keluar Lingga.


"Lepaskan gue.." Pinta Lingga.


"Jauhi adik gue lo udah buat dia menderita." Mencengkram kerah baju Lingga.


"Maksud lo adik...siapa adik lo?" tanya Lingga yang merasa heran.


Zian melemparkan amplop itu ke wajah Lingga dengan cepat Lingga membuka nya, jelas saja Lingga merasa terkejut akan semua nya.


"Bagaimana bisa?" tanya Lingga tidak percaya.


"Karena semenjak gue lihat Alin alias Kia Ananta Nugraha jiwa melindungi gue muncul sebab apa karena dia begitu mirip dengan nyokap gue."


Lingga hanya terperangah mendengar penjelasan Zian otak nya berpikir berurusan dengan Zian sangat lah rumit dan sekarang Lingga harus menghadapi masalah yang tidak ia ketahui hasil akhirnya.


"Dan sekarang lo pergi...pergi sana...!" usir Zian.


"Tapi gue suami nya dan gue berhak."


"Atas apa yang lo lakukan terhadap Alin gue akan membuat Lo dan Alin secepat nya berpisah."


"Gak..gak bisa....."


Sempat Lingga melanjukan omongan nya Zian kembali menarik Lingga untuk menjahui ruangan Alin.


Zian kembali masuk ke dalam ruangan di hampiri adik nya yang belum sadar kan diri, air mata nya kembali menetes.

__ADS_1


"Kia...ini kakak sayang...kakak udah nyari kamu kemana-mana akhir nya kakak menemukan mu.kakak janji tidak akan membiarkan kamu tersiksa seperti ini." menggenggam tangan Alin sesekali Zian menghapus air mata nya yang jatuh.


__ADS_2