Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
28.Berlutut


__ADS_3

Makan malam,Alin sangat tidak berselera menyantap makanan milik nya. Wanita bingung harus mulai dari mana membicarakan masalah yang di hadapi nya sekarang kepada kakak nya, padahal Zian sendiri sudah merestui hubungan Adik nya tersebut.


"Apa makanan ini tidak enak?" tanya Zian yang melihat Alin hanya mengaduk-aduk makanan nya.


"Enak kok..." Jawab Alin singkat.


"Lalu kenapa? apa masalah kerjaan atau laporan yang kemaren? kamu tenang aja kakak udah dapat semua bukti nya tinggal menunggu tanggal main nya." ujar Zian memberitahu.


"Bukan masalah itu kak." Alin meletak kedua sendok nya.


"Lalu...masalah nya apa?" tanya Zian tidak mengerti.


"Tapi janji jangan marah." Pinta Alin.


"Kamu butuh sesuatu bilang sama kakak, apa pun kakak lakukan apa kamu minta mobil yang paling mahal?"


"Bukan itu kak..."


"Jadi apa?" tanya Zian bingung.


"Janji dulu jangan marah." rengek Alin.


"Hmmm...iya ....iya."


"Ini masalah hubungan Alin dan mas Lingga." Ucap Alin gugup.


" Kenapa? apa dia menyakiti mu?" tanya Zian santai.


" Tidak kak...menurut kakak Alin harus bagaimana?"


" Terserah kamu...kamu pasti tahu yang terbaik untuk mu kakak sebagai saudara mu hanya bisa mendukung semua keputusan mu." ucap Zian.


"Ada apa dengan kak Zian? kenapa dia berubah?" batin Alin.


"Heiii....malah melamun kenapa?"


" Eh...gak kok..." Ucap Alin sedikit kaget " Hemmm...apa kakak gak marah?" tanya Alin hati-hati.


" Mau nya kamu kakak marah gitu ngamuk guling-guling." Jawab Zian menggoda.


"Kak...Alin serius." rengek Alin.


"Masalah ini sebaik nya kamu selesaikan sendiri kamu sudah dewasa dan ini rumah tangga mu, kakak tidak bisa ikut campur. Tapi kalau Lingga menyakiti kamu lagi tangan kakak sendiri yang akan menghabisinya." ujar Zian.


"Apa yang merubah pemikiran kakak?" tanya Alin yang melihat wajah kakak nya santai.


"Apa sih gak ada." Jawab Zian " Sudah habis kan makanan mu kakak mau melanjutkan pekerjaan kakak dulu."


Zian meninggalkan adik nya di meja makan sendiri yang masih di penuhi dengan tanda tanya.

__ADS_1


Bagaimana bisa kakak nya tidak marah saat Alin membahas masalah nya bersama Lingga. Bahkan dulu Zian begitu marah saat Alin menyebut nama Lingga.


"Terserahlah...." ucap Alin pusing dan ia melanjutkan makan malam nya.


Setelah perutnya kenyang ia kembali ke kamarnya menatap kembali tumpukan bunga yang di kirim Lingga setiap pagi.


"Seharusnya kalau kamu sudah berubah dan menyesali perbuatan mu, kamu harus nya datang pada ku." lirih Alin sambil mengambil setangkai mawar merah.


Tak seperti pagi biasa nya dengan penuh keberanian Lingga datang langsung ke rumah Alin ia dengan santai nya menunggu Alin keluar dari dalam rumah.


Saat Alin keluar bersama kakak nya ia nampak terkejut dengan kehadiran Lingga namun tidak berlaku untuk Zian ia seakan paham dengan apa yang akan di lakukan Lingga.


"Mau apa lo?" tanya Zian pura-pura.


"Gue pengen minta izin buat ngajak istri gue pergi sebentar." Jawab Lingga.


"Sialan lo adik ipar macam apaan ngomong pakai lo gue." bentak Zian.


"Kan kakak Zian sendiri yang mulai." ucap Lingga dengan nada mengejek.


Sedangkan Alin hanya terperangah melihat kelakuan kedua laki-laki di depan nya sekarang.


"Ayolah...kakak hanya sebentar saja aku akan menjaga nya dan tidak akan menyakiti nya lagi."


"Terserah kalian." ucap Zian langsung masuk kedalam mobil dan pergi.


Hanya ada keheningan di dalam mobil Alin membuang pandangan nya keluar jendela mobil. Jantung mereka berpacu sangat kencang sesekali Lingga melirik ke wajah Alin.


ketegangan di dalam mobil pun akhirnya terhenti, kini Lingga mengajak Alin ke sebuah danau yang ia datangi bersama Zian tempo hari. Di tempat itu Lingga langsung berlutut untuk meminta maaf dan jelas membuat Alin terperangah dengan apa yang di lakukan Lingga.


"Maafkan aku.." ucap Lingga sambil berlutut.


"Mas...bangunlah." ucap Alin kebetulan danau masih sangat sepi karena hari ini bukan akhir pekan.


"Ku mohon maafkan aku." ucap Lingga kembali.


Alin kemudian berjongkok menyamakan tinggi tubuh mereka.


"Apa yang membuat mu seperti ini mas?" tanya Alin dingin mata nya menatap ke arah wajah Lingga yang tertunduk, ingin rasa nya Alin menumpahkan air mata nya tapi dengan sekuat hati ia tahan.


"Aku menyesal, aku suami yang jahat aku suami yang kejam." ucap Lingga sambil menampar wajah nya sendiri.


"Mas berhenti jangan seperti ini." Alin menghentikan tangan Lingga.


"Aku tersiksa dengan hukuman ini kesalahan ku pada mu membuat aku begitu tersiksa maafkan aku." Air mata Lingga menetes dari mata elangnya.


"Aku hanya menuruti permintaan mu saja mas." ujar Alin semakin membuat Lingga merasa bersalah.


"Dan itu adalah hal bodoh yang pernah aku lakukan saat itu aku membenci apa yang terjadi pada ku." ucap Lingga sambil menghapus kasar air mata nya.

__ADS_1


"Kita hanya berada di kesalahpahaman saja mas, kalau aku tahu orang tua mu melindungi diri ku dengan cara menikahkan aku dengan mu, pasti aku akan menolak dan pergi sejauh mungkin untuk menghindari ayah." Kali ini air mata Alin keluar tak tertahan.


"Mereka menjelaskan nya pada ku setelah kamu pergi dan mereka menjadi kan Alana sebagai alasan agar kita berdua menikah."


"Aku tidak tahu soal itu mas tapi yang jelas mereka memaksa ku menikah namun belakangan aku tahu semua alasan di balik pernikahan kita."


"Jadi, ku mohon maafkan aku." mohon Lingga menatapa mata Alin" Ingin rasanya aku memeluk mu." Batin Lingga


Alin terdiam...." Aku sudah memaafkan mu mas tapi...."


"Tapi apa? masalah Zian kakak mu?" tanya Lingga berbinar.


Alin hanya mengangguk.


"Masalah kakak mu itu gampang yang terpenting apa kamu mau kembali lagi bersama ku?" Pinta Lingga.


"Maaf mas...aku belum siap." ucap Alin.


"Aku mengerti tapi setidak nya beri aku kesempatan apa kamu tahu aku hampir gila mencari mu dua tahun ini."Lingga sedikit kecewa.


"Mas mencari ku?" tanya Alin terkejut.


"Sejak kamu menaruh amplop yang berisikan uang dan secarik kertas aku langsung kalut dan pergi mencari mu. Beberapa waktu kemudian apa kamu ingat saat aku mengejar mu dan kamu pingsan? aku menunggu mu di rumah sakit namun saat itu aku pulang sebentar dan saat aku kembali kamu sudah tidak ada kamu pergi di bawa kakak mu." Jelas Lingga.


Alin lagi-lagi dirinya hanya terdiam mendengar penjelasan Lingga.


"Apa kamu tahu saat aku mendapat kabar kalau kamu berada di Singapura aku langsung menyusul mu tapi aku tidak berani untuk bertemu. Dengan kamu akhir nya aku mengikuti kemana pun kamu pergi menatap mu dari jauh bahkan saat kamu tiba di Indonesia sekali pun."


Alin masih diam tak bersuara.


"Kamu ingat laki-laki yang menggunakan kacamata dan masker yang duduk di samping mu saat di bandara Singapura itu adalah aku dan belakangan kakak mu bercerita kalau dia tahu segalanya."


"Tapi aku belum bisa melupakan perlakuan kasar mu mas." ucap Alin berjalan ke tepi danau.


"Maafkan aku." ujar Lingga "Kita bisa mulai semua nya dari awal lagi."


"Untuk sekarang aku belum bisa mas."


"Mamah sangat merindukan mu apa kamu tahu setelah mamah mengetahui kepergian mu mamah begitu marah sama aku bahkan ia sampai jatuh sakit berkali-kali."


"Ya Allah...aku melupakan mereka." ucap Alin tiba-tiba " Bagaiman kabar mereka mas?" tanya Alin.


"Semenjak kamu pergi mamah sakit-sakitan dan papah dia lah satu-satunya orang yang menasehati ku di kala aku butuh teman untuk bicara."


"Aku ingin bertemu mereka mas ."


"Besok aku akan menjemput mu, sebaiknya kita pulang kamu butuh istirahat dan menenangkan pikiran mu." Ucap Lingga.


Lingga mengantar Alin pulang lagi-lagi hanya ada keheningan yang terjadi di dalam mobil Lingga hanya bertanya tentang pekerjaan yang di lakukan Alin dan Alin pun menjawab sesuai pertanyaan.

__ADS_1


__ADS_2