Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
77.Terbongkar


__ADS_3

Pagi ini, seluruh penjuru kota di heboh kan dengan berita panas yang baru saja rilis pagi ini. Di depan rumah Hendra sudah banyak wartawan dan polisi yang menunggu mereka keluar untuk memberikan penjelasan.


"Kenapa banyak wartawan dan polisi pah?" tanya Ratih panik juga ketakutan.


"Papah juga tidak tahu mah." jawab nya panik.


Jenie kemudian menghidupkan televisinya, dan jelas saja sekarang semua stasiun televisi sedang membicarakan semua kejahatan mereka.


Jenie terkulai lemas begitu juga dengan Hendra dan Ratih, mereka menatap layar televisi, mencerna satu persatu kata yang di ucapkan pembawa berita.


Hendra menggebrak meja "Jelaskan semua nya Jenie!" pinta Hendra dengan penuh emosi.


Jenie mengusap wajah panik nya "Aku telah di tipu." batin Jenie.


"Jelaskan Jen..! apa benar semua berita ini?" tanya Ratih tidak percaya.


"Maafkan Jenie, maafkan Jenie mah pah." ucap nya sambil bersujud di bawah kaki orang tua nya. "Jenie ingin menutupi kejahatan Jenie dengan membongkar kejahatan kalian. Tapi Jenie sudah di tipu." sambung nya.


Ratih nyaris saja pingsan saat mengetahui siapa dalang dari kematian salah satu anak nya. " Kenapa kamu tega membunuh saudara kembar mu sendiri Jen, katakan?" pinta Ratih dalam isak nya.


"Jenie sangat iri pada Junika mah, Junika cerdas banyak orang yang suka pada nya dan juga mamah sama papah lebih sayang pada Junika. Bahkan laki-laki yang Jenie suka lebih menyukai Junika dari pada Jenie." jelas nya dengan tangisan.

__ADS_1


Hendra menampar wajah anak nya sedangkan Ratih, wanita paruh baya itu sudah tidak bisa bicara apa-apa lagi.


"Dasar anak bodoh tidak tahu diri kamu?" bentak Hendra emosi.


Jenie menangis sejadi-jadi nya, dalam posisi masih bersujud di kaki Ratih, "Maafkan Jenie." lirih nya pelan.


Hendra menendang anak nya, emosi nya sudah tidak terkendali lagi. "Anak durhaka kamu." teriak Hendra "Sekarang, tamat riwayat kita."


Ratih masih menangis tersedu-sedu, dada nya sesak saat mengetahui kebenaran yang ada. Ratih menepis tangan Jenie yang berusaha meminta maaf pada nya.


Hendra duduk lemas di sembarang tempat, wajah nya memerah menahan amarah. "Pasti semua kerjaan Zian." ucap nya kemudian bangkit melihat ke arah luar jendela.


Wartawan masih berkerumun seperti meminta sumbangan, sedangkan beberapa polisi berusaha memubujuk agar Hendra keluar dari rumah nya.


"Entah lah mah, kabur pun percuma saja tak akan bisa."


Dengan sekali hentakan, polisi berhasil mendobrak rumah Hendra dan langsung menangkap mereka tanpa perlawan.


Di lain tempat, Zian tersenyum puas saat melihat penangkapan Hendra beserta anak istri nya. Begitu juga dengan Alin dan Lingga, mereka sangat keget dengan berita yang keluar pagi ini.


"Bagaimana kakak melakukan ini semua mas?" tanya Alin tidak percaya.

__ADS_1


"Entahlah, yang pasti kakak mu merencanakan semua nya dengan matang."


Seharian ini, Lingga dan Alin hanya sibuk menonton berita yang sedang panas-panas nya.


Zian bersama Akmal menuju kantor polisi setelah mendapatkan informasi dari anak buah nya bahwa Hendra sudah berada di kantor polisi.


Zian memasukan ke dua tangan nya saat keluar dari mobil kemudian melangkah masuk ke dalam kantor polisi. Dengan menggunakan kacamata hitam, pria itu berjalan dengan gagah nya menuju sel yang di tempati Hendra.


Zian menatap tajam bergantian ke arah Hendra dan anak istri nya, wajah nya berubah dingin dengan aura menakutkan.


"Keluar kan aku..." teriak Hendra emosi.


Zian melepas kacamata nya " Bagaimana rasa nya hancur om?" tanya Zian dengan suara datar "kalian akan membayar mahal atas perbuatan kalian."


"Anak sialan." umpat Hendra "Berani nya kau." geram nya.


Jenie maju menghampiri Zian dari balik jeruji, "Apa semua ini perbuatan mu?" tanya nya dengan penuh amarah.


Zian mendecih lalu tersenyum "Kenapa? apa kamu suka permainan ku?"


Jenie meraung, ia berteriak tidak terima bahkan wanita itu sudah seperti orang gila, membuat Hendra dan Ratih kewalahan untuk menenangkan anak nya.

__ADS_1


Zian dan Akmal memilih pergi meninggalkan keluarga yang kejam itu. Zian menatap kosong ke luar jendela, otak nya seperti bermain ria memikirkan sesuatu kedepan nya. " Semoga ini yang terakhir, aku sudah lelah dengan berbagai macam masalah." batin nya.


__ADS_2