
Hari ini adalah jadwal Alin terapi, dengan di temani suami dan kakak nya, Alin sangat bersemangat untuk bisa berjalan kembali.Mereka semua berada di satu mobil yang sama milik Lingga.
"Setelah ini kita mampir ke rumah orang tua Melly." Ujar Zian membuka pembicaraan.
"Iya kak boleh Alin udah beberapa hari ini gak ketemu sama kak Melly." Sambuang Alin.
"Kalo lo gimana Ling?"
"Ngikut aja." Jawab nya singkat.
Mereka kini sudah berada di dalm ruangan dokter Andre yang merawat Alin selama ini.
"Sekarang cobalah berdiri pelan-pelan." Pinta dokter Andre.
Alin menatap suami dan kakak nya " Aku yakin kamu bisa." Ujar Lingga memberi semangat.
"Pak Lingga bisa bantu untuk memegang tangan istrinya."
Lingga kembali menatap Alin pertanda meminta persetujuan, tanpa ragu Alin terlebih dahulu mengulurkan kedua tangan nya dan di sambut oleh Lingga.
Dengan hati-hati Alin mencoba bangkit dari kursi roda sambil bertumpu pada tangan suami nya.
"Kak lihat lah Alin bisa berdiri." Ujar Alin senang.
"Iya, kakak senang melihat perubahan mu." Balas Zian dengan senang hati.
"Aku juga ikut senang." Sambung Lingga, pria tampan itu sangat bahagia melihat istrinya bahagia.
"Baiklah sekarang duduk kembali." Ujar dokter Andre "Kamu sudah bisa melakukan latihan jalan di rumah tapi ingat harus hati-hati dan tidak boleh di paksakan." Ucap dokter Andre kembali.
"Baik dok." Ucap Alin.
Saking bahagia nya Alin, ia tidak melepaskan genggam tangan nya pada Lingga. Ia merasa ada kekuatan yang tersalur dari tubuh suami nya itu.
Setelah selesai melakukan terapi, mereka langsung pergi menuju rumah Melly.
"Kak...kakak gak bawa sesuatu buat calon mertua kakak?" Tanya Alin.
"Astaga...kakak lupa tapi bawa apa?" Tanya nya tidak mengerti.
"Bawa parsel buah atau apa lah gitu." Sambung Lingga "Dasar lo gak pengertian."
"Boleh juga kak sama kue biar kelihatan lebih pantas."
"Sialan lo." Umpat Zian.
Akhirnya mereka pergi mencari toko buah dan roti, setelah mendapatkan kedua nya perjalan mereka berlanjut menuju sebuah kampung di pinggiran kota dengan jalan yang hanya bisa di lalui satu mobil saja.
Rumah kecil yang sangat asri dan bersih di tambah dengan hiasan pohon mangga menambah teduh halaman rumah Melly.
"Rumah nya terlihat nyaman." Ujar Lingga "Kamu pernah ke sini?" Tanya pada Alin.
"Pernah dulu tapi cuma satu kali."
"Ayo masuk." Ajak Zian
__ADS_1
Lingga yang mendorong kursi roda istri nya hanya bisa mengekor di belakang Zian.
"Assalamualaikum." Ucap Zian.
"Wa'alaikumsalam." Jawab Marwah ibu Melly.
Bu Marwah melihat tamu yang datang ke rumah nya satu persatu.
"Nak Zian." Ucap nya "Ayo masuk." Ajak bu Marwah.
Mereka semua masuk kedalam rumah dan duduk di ruang ramu yang lumayan kecil namun cukup untuk menerima beberapa tamu. Zian meletakan bawaan nya di atas meja yang berada di depan nya.
"Sebentar ibu panggilkan Melly."
Bu Marwah memanggil Melly yang sedang berada di halaman belakang menyuruh nya untu masuk menemui siapa yang datang kerumah nya.
"Mas Zian." Ujar Melly terkejut, ia juga menoleh ke arah Lingga dan Alin.
"Kak Mell."
"Alin, maafkan kakak nya kemarin kamu harus masuk rumah sakit lagi." Ujar Melly sedih.
"Gak kak..Alin baik-baik aja."
Pembicaraan mereka terhenti saat bu Marwah membawa minuman.
"Silahkan di minum maaf cuma seadanya." Ujar bu Marwah sambil tersenyum.
Zian membalas senyuman calon mertua nya " Gak bu malahan kami yang merepotkan ibu dan Melly."
"Ah...tidak." Ujar Marwah
"Cantik dan ganteng serasi banget." Ujar bu Marwah "Hmmm...ada keperluan apa kok tumben nak Zian datang ke sini?" Tanya nya langsung.
"Begini bu maksud kedatangan saya cuma mau bilang kalau setelah adik saya sembuh saya akan menikahi Melly tanpa tunangan atau lamaran, saya mau nya langsung aja." Ujar Zian yang menatap ke arah Melly, wanita cantik itu hanya bisa ternganga mendengar ucapan Zian.
"Apa kamu tidak mau berpikir dahulu dengan rencana kamu menikahi anak ibu, kami hanya orang miskin berbeda dengan kalian."
"Tidak bu, saya tidak pernah memandang dari segi harta atau apa pun itu."
"Kalau gitu terserah kalian berdua saja ibu sebagai orang tua hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anak ibu."
"Terimakasih bu..tapi saya mau ibu dan Raka tinggal bersama kami setelah menikah." Pinta Zian.
"Aduh...jangan nanti kami merepotkan."
"Gak bu...tidak sama sekali saya malah senang karena Alin pasti ikut bersama suami nya." Ujar Zian menatap Lingga dan yang di tatap hanya melongo tak percaya.
"Iya bu kasian kak Zian selama ini hidup nya kesepian." Sambung Alin yang langsung mendapatkan tatapan semua orang.
Melly melirik ke arah Zian saat mendengar ucapan Alin, wanita itu seperti meminta penjelasan.
"Kenapa?" Tanya Alin yang menautkan kedua alisnya.
"Gak kok." Jawab Zian singkat "Oh..ya bu Raka kemana?" Tanya Zian mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Pergi kerumah teman nya."
"Saya sudah mendaftarkan Raka kuliah di salah satu universitas swasta di bawah naungan saya bu jadi, ibu gak usah khawatir dengan pendidikan Raka."
"Ini sangat merepotkan gak enak sama kamu."
"Sudahlah bu saya tahu Raka anak yang pintar dan cerdas."
"Terimakasih." Ucap ibu Marwah terharu.
"Kak Mell...besok ajak Alin ke resto ya." Pinta Alin.
"Iya kalau di ijinkan suami mu dan kakak mu."
"Harus kak...Alin bosan di rumah."
"Iya boleh." Ujar Lingga dan Zian bersamaan.
Setelah puas bercengkrama mereka memutuskan untuk pulang karena Alin sudah mulai terlihat lelah dengan aktifitas hari ini.
Sesampai nya di rumah Lingga langsung merebahkan tubuh istri nya yang kelihatan sangat lelah.
"Istirahat lah aku masih ada urusan sebentar." Ujar Lingga.
"Terimakasih mas."
Lingga keluar dari kamar istri nya dan kemudian masuk ke kamar kakak ipar nya.
"Sialan lo bikin kaget gue." Umpat Zian "Ada apa?"
"Apa yang kalian sembunyikan tentang Alin?" Tanya nya tiba-tiba.
"Apa maksud mu?" Tanya balik Zian.
"Beberapa hari ini sikap Alin terhadap ku sangat berbeda dia seperti sudah mengingat semua nya." Ujar Lingga penasaran.
"Em..em...apa ya." Ucap Zian bingung.
"Katakan lah." Pinta Lingga pria itu sangat penasaran.
"Sebenarnya iya...tapi sebaiknya lo pura-pura gak tahu aja biar Alin senang."
"Kenapa?"
"Dia ingin mengerjai mu saja." Ujar Zian tertawa.
"Kalian kakak adik sama saja gak mikirin perasaan gue apa." Ucap Lingga yang mulai kesal.
"Ikuti saja permainan nya mungkin dia butuh hiburan." Goda Zian.
"Gue kerjain balik gimana?"
"Sialan lo...adik gue itu." Umpat Zian.
"Dia juga istri gue ya salah dia sendiri mau bermain-main."
__ADS_1
"Terserah kalian sana keluar gue mau mandi." Usir Zian.
Lingga pun keluar dari kamar Zian dan masuk ke kamar nya sendiri, ia merasa gerah dan juga lengket, kemudian Lingga memutuskan untuk mandi.