
Jam menunjukan pukul satu siang, kini Lingga sedang mengantar Alin ke restoran milik nya. Rasa canggung di antara mereka mulai memudar semenjak pertemuan di rumah orang tua Lingga.
Alin melangkahkan kaki nya masuk kedalam restoran yang di ikuti oleh Lingga.
Namun sepasang mata menatap tidak suka atas kedatangan Alin bersama Lingga.
"Wah...wah...hebat ya kamu dulu menghilang sekarang muncul lagi." ucap Alana tiba-tiba.
Alin sangat terkejut karena langkah nya terhenti di hadang oleh Alana.
"Mau apa kamu?" tanya Lingga ketus.
"Kenapa kamu bersama perempuan ganj*n ini...?" tanya Alana menunjuk wajah Alin.
"Tutup mulut mu Alana...! dia istri ku dan sampai kapan pun akan tetap menjadi istri ku." bentak Lingga dengan nada tingginya.
Alin hanya membuang nafas kasar rasa nya malas sekali untuk menanggapi ocehan Alana.
"Lo...lihat sekarang dulu Lingga gak pernah bentak gue dan sekarang demi lo dia bentak gue kasarin gue." ucap Alana kesal.
"Itu urusan kalian berdua." Jawab Alin datar.
Semua mata tertuju pada keributan yang di buat oleh Alana.
"Jika anda ingin ribut silahkan cari tempat lain saya tidak ingin pelanggan saya merasa terganggu dengan sikap anda." ujar Alin dengan wajah dingin.
"Siapa lo berani ngusir gue?" bentak Alana kemudian mendorong Alin namun dengan sigap Zian menahan tubuh adik nya.
"Jauhkan tangan kotor mu itu jangan menyentuh adik ku." teriak Zian mendorong Alana.
__ADS_1
Alana terdiam sejenak mendengar ucapan Zian.
"Maksud kamu apa Zian?" tanya Alana tidak mengerti.
"Alin adik ku dan ini restoran milik dia hotel Ananta Nugraha juga milik nya bahkan seluruh kekakyaan pun milik adik ku." ujar Zian membanggakan Alin karena ia tahu selama ini Alin selalu di pandang rendah oleh sebagian orang.
"Aku tidak percaya...bukan nya kamu hidup sendiri?" ucap Alana penasaran.
"Pergilah aku tidak ingin berbuat kasar pada mu dan satu lagi jauhi Alin atau gak kamu berurusan sama aku." ancam Zian.
Dengan perasaan marah Alana mengambil tas nya kemudian beranjak pergi.
"Lo...kalau gak bisa jaga adik gue harus nya ngomong gue masih bisa jaga dia." ucap Zian geram.
"Maafkan gue ..bener gue gak tahu kalau Alana ada di sini." ujar Lingga.
"Sudahlah kak..jangan di perpanjang lagi." ucap Alin menengah " Sebaiknya kita urus dulu masalah kita."
"Bagaimana Mell sudah kamu siapkan semua yang saya minta?" tanya Zian.
"Sudah pak." jawab Melly.
"Apa itu kak?" tanya Alin.
"Rekaman cctv tentang perbuat perempuan itu." jawab Zian.
"Kalian ada masalah apa?" tanya Lingga penasaran.
"Restoran ini di khianati oleh orang kepercayaan kak Zian sendiri bahkan teman nya saat kuliah." jawab Alin.
__ADS_1
"Maksud kamu si...." belum selesai Lingga berbicara Zian sudah memotong ucapan nya.
"Lo gak percaya kan?" tanya Zian yang melirik Lingga.
"Astaga...apa iya? bukan nya dia baik banget dan itu dia kan suka ama lo udah lama kok tega nya berbuat seperti itu?" ujar Lingga tidak percaya.
"Aku juga tidak menyangka padahal kurang apa aku baik sama dia." ucap Zian "Ah...sudahlah sebaik nya kita pergi ke taman hiburan atau apa aku sedang pusing dan butuh hiburan." ujar Zian.
"Tapi kak Melly ikut ya." Pinta Alin.
Zian menatap sekilas wajah Melly " Hmm...baiklah." ucap nya.
Mereka berempat keluar bersama menuju mobil sepasang mata kembali menatap tidak suka kepada salah satu dari mereka.
"Eh...tunggu sebentar pak tas saya ketinggalan di dalam." ucap Melly tiba-tiba.
"Ambil lah cepat kami akan menunggu di dalam mobil." perintah Zian.
Melly bergegas kembali ke ruangan Alin untuk mengambil tas nya namun setelah ia keluar Melly di cegat oleh Astri.
"Pelet apa yang lo pakai sehingga Alin dan Zian bisa sedekat ini sama lo.?" tanya Astri ketus.
Melly membuang nafas kasar "Terserah lo." ucap nya singkat.
"Sialan lo ya...lo kan tahu Zian incaran gue bahkan kami teman dari kuliah dan lo siapa babu?" ujar Astri sombong.
"Tapi teman yang tega berkhianat dan menusuk dari belakang." balas Melly kemudian berlalu pergi.
"Sialan lo ya..maksud lo apa bilang gitu." Umpat Astri kesal.
__ADS_1
Melly masuk kedalam mobil ia duduk di belakang bersama Zian, entah kenapa jantung mereka berdua berpacu sangat kencang bahkan membuat mereka jadi salah tingkah sedangkan Alin hanya tersenyum melihat pemandangan di belakangnya.