Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
67.Sabar


__ADS_3

Jenie mengobrak abrik kamar milik, membuat kedua orang tua nya penasaran dengan apa yang di alami Jenie. Jenie berteriak meluapkan sumpah serapah yang mengganjal di hati nya sejak siang tadi.


"Kamu kenapa seperti orang gila gini?" Tanya Ratih menghampiri anak nya.


"Kamu kenapa jawab Jen?" Sambung Hendra.


"Kia, perempuan itu harus mati." Ujar Jenie dengan tatapan penuh emosi.


"Apa maksud kamu?" Tanya Ratih bingung.


Jenie menceritakan apa yang terjadi pada nya hari ini, membuat Hendra dan Ratih menggeram marah.


"Keponakan kamu itu harus di beri pelajaran pah." Ujar Ratih berucap "Dia sudah berani menjatuhkan harga diri anak kita." Sambung nya.


Emosi Hendra ikut tersulut "Apa kita harus menculik nya lagi lalu menghabisi nya secepat mungkin."


"Jangan pah." Tahan Ratih "Papah tahu sendiri kalau semua harta Ananta dan Nugraha sudah di wariskan kepada Kia sejak ia masih dalam kandungan."


Hendra mengingat kembali "Astaga, papah hampir lupa." Ucap nya "Tapi kita bisa menculik Kia dan menukar nya dengan semua harta mereka." Ide Hendra.


Ratih dan Hendra tertawa namun tidak dengan Jenie "Kamu kenapa?" Tanya Ratih.


"Jenie mau Lingga mah pah." Ucap nya.


"Rebutlah apa susah nya, buat Lingga membenci Kia."

__ADS_1


"Tapi, Lingga bukan laki-laki yang mudah tergoda dan Jenie bingung."Tukas Jenie "Bahkan Lingga tak kalah kaya nya, jika Jenie berhasil merebut Lingga, Jenie yakin kita akan menjadi orang paling kaya." Sambung nya.


"Papah dan mamah selalu mendukung kamu." Ujar Hendra.


Pagi menjelang seperti biasa, Lingga sudah berada di dalam ruangan kerja nya begitu juga dengan Andra yang selalu setia menemani sahabat nya itu.


Jenie, wanita itu masuk tanpa mengetuk pintu ke dalam ruangan Lingga dengan membawa sebuah paper bag.


"Apa kamu tidak punya sopan santun?" Tegur Lingga membuat Andra yang sedang focus refleks menoleh ke arah mereka.


"Oh...ini pak saya bawa kan sarapan." Ujar Jenie tanpa merasa bersalah.


Lingga melirik paper bag "Andra." Panggil Lingga.


Andra yang merasa nama nya di panggil langsung menghampiri mereka.


"Ambil." Ucap nya singkat dan dengan cepat Andra mengambil paper bag tersebut "Makan lah." Perintah Lingga.


"Tapi itu buat pak Lingga bukan buat pak Andra." Sela Jenie.


"Masakan istri ku jauh lebih enak dari pada makanan luar mana pun." Ujar Lingga "Sekarang kamu keluar, sekali lagi kamu bersikap tidak sopan saya tidak segan-segan untuk memecat kamu."


Jenie kemudian keluar dengan perasaan malu yang sampai ke ulu hati. Di dalam ruangan, Lingga tak habis-habis nya mengumpat perbuatan Jenie.


"Sabar." Ujar Andra.

__ADS_1


"Sabar gimana? untung gue mandang Zian kalau gak udah gue banting tu cewek." Ucap Lingga penuh emosi.


"Tunggulah sebentar lagi mereka sudah menjalankan rencana nya."


"Gue gak mau Alin kenapa-kenapa, Apa lagi dia lagi mengandung anak gue."


"Gue paham, sebaik nya masalah ini lo bicarakan dengan dengan Zian."


Mulai tenang, Lingga dan Andra kembali melanjutkan pekerjaan mereka yang masih menumpuk.


Ke toilet, Jenie sedang menggerutu sikap bodoh nya yang barusan terjadi "Susah banget, trua gue pakai cara apa biar gampang." Ucap Jenie pelan.


Zian yang mendapatkan telpon dari Lingga menjadi tidak focus untuk bekerja. Ia sedang memikirkan cara untuk mengusir Jenie dari perusahan adik ipar tersebut.


"Apa yang bisa saya lakukan tuan." Tanya Akmal.


"Tarik perempuan itu untuk bekerja di sini, bilang saja ini sudah menjadi kesepakatan antara aku dan Lingga."


"jika dia tidak mau tuan."


"Dia akan mau, bahkan mereka bisa mengira kalau rencana mereka akan berhasil karena anak nya bekerja di perusahan ku dan pasti mereka akan mengira kalau aku tidak mengenali anak nya." Tutur Zian.


"Baik tuan saya mengerti."


Akmal berlalu pergi menjalan kan semua perintah Zian. Zian kembali menyusun rencana agar bisa membuka kebenaran yang sudah puluhan tahun tertutup dengan rapat.

__ADS_1


"Kalian harus membayar semua nya dengan setimpal." Batin Zian penuh emosi.


__ADS_2