Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
06.Ayah Meninggal


__ADS_3

Hari ini Alin tidak bekerja ia berencana mengunjungi ayah nya ada rasa rindu yang ia rasakan meski ayahnya telah membuat masa depan nya hancur tapi Alin tidak pernah membencinya.


Dengan sabar Alin menunggu Lingga keluar dari kamarnya untuk meminta izin dan tak berapa lama Lingga sudah terlihat tampan dengan setelan jasnya.


"Mas..aku mau minta izin." ucap Alin dengan wajah menunduk "Aku ingin mengunjungi ayah aku sangat merindukan nya."


"Aku tidak peduli.."Jawab Lingga dengan sinis "Kamu mau kemana aku sangat tidak peduli bahkan jika kamu mati sekali pun aku sangat bersyukur." Lingga berlalu pergi.


Alin yang mendengar ucapan Lingga hanya bisa diam membisu, perkataan Lingga seakan menusuk hati nya begitu hina kah dirinya? bahkan Lingga sangat menginginkan kematiannya.Kini mata yang indah itu sudah mengeluarkan air mata dada nya sangat sesak namun dengan sekuat hati Alin menghapus air matanya.


Di sinilah Alin sekarang di depan rumah yang sangat sederhana dinding tembok yang sudah usang nampak tidak terurus.Hatinya makin teriris manakala mengingat kenangan manis saat ibunya masih hidup cinta dan kasih yang di berikan kedua orang tua nya sangat luar biasa.


Tok...tok..tok...


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."jawab ayah Alin sambil membuka pintu laki-laki paruh baya nampak kurus itu adalah ayah Alin bernama Iswan.


"Ayah.."panggil Alin yang langsung memeluk Iswan "Apa ayah sakit kenapa tubuh ayah sangat kurus." langsung menatap wajah ayahnya.


"Alin..nak...masuk lah dulu ayah sangat merindukan mu...uhuk...uhuk..." mengajak Alin masuk dengan batuk tiada henti.


"Ayah, bagaimana keadaan ayah kenapa ayah sangat kurus?"


"Ayah hanya terkena flu...nak maafkan ayah yang sudah menghancurkan masa depan mu."


"Tidak ayah, Alin baik-baik saja tapi kenapa keadaan ayah seperti ini?"


"Ayah sangat merindukan ibu mu nak, Alinda apakah kamu bahagia nak? Apa suami baik kepada mu?" tanya Iswan tiba-tiba.


Sejenak Alin terdiam melihat keadaan ayahnya tidak mungkin ia menceritakan keadaannya itu.


"Alin..kenapa diam?"


"Tidak yah...suami Alin sangat baik ia memperlakukan Alin sangat baik." bohong Alin agar ayah nya tidak kepikiran.


Uhuk....uhuk....uhuk......


Iswan kembali batuk bahkan batuknya mengeluarkan banyak darah Alin yang melihat keadaan ayahnya sangat panik.


"Ayah.....kenapa seperti ini ayah sakit apa?" tanya Alin dengan tangis nya.

__ADS_1


"Tidak nak...ayah tidak apa-apa." namun, tiba-tiba Iswan tidak sadarkan diri membuat Alin semakin panik tangisnya pun semakin menjadi dengan segera ia meminta tolong kepada tetangga untuk mengantar ayah nya ke rumah sakit.


Di depan ruangan UGD Alin dengan gelisah menunggu Dokter yang menangani ayah nya sesekali ia meremas tangannya kini rasa takut akan kehilangan sangat menghantuinya. Saat ini ayahnya lah keluarga satu-satunya yang ia miliki meski seburuk apa pun ayahnya Alin sangat menyayangi nya. Tak lama kemudian dokter yang menangani Iswan keluar dan mengajak Alin ke ruangannya.


"Dok...bagaimana keadaan ayah saya?"Tanya Alin gelisah.


"Pak Iswan keadaannya saat ini sangat buruk bahkan untuk bernafas sekali pun harus di bantu alat karena paru-parunya mengalami kerusakan yang cukup parah."Jelas Dokter tersebut.


Tubuh Alin nyaris roboh air matanya tidak terbendung lagi mengingat bagaimana keadaan ayahnya.


"Apakah pak Iswan pencadu minuman keras?"Tanya dokter


"Iya dok..sejak kepergian ibu saya beberapa tahun lalu ayah selalu minum-minuman keras pagi siang malam."Tutur Alin dengan sedih


Alin keluar dengan mata sembab melihat ayah nya yang di pindahkan ke ruangan ICU membuat hatinya semakin gelisah.Tatapannya kosong dengan langkah gontai ia berjalan menuju tempat administrasi untuk ayah nya.


Mengingat perkataan Dokter yang mengharuskan ayahnya untuk operasi pembersihan paru-parunya membuat Alin berfikir dari manakah ia mendapatkan uang untuk biaya operasi ayahnya.


Dan kini saat Alin melihat total biayanya mencapai seratus dua puluh lima juta mata nya seakan panas bagaimana tidak, dari mana ia mendapatkan uang segitu banyak nya, bahkan menurut dokter ayah nya harus melakukan dua kali operasi.


Dengan gelisah Alin menunggu Lingga pulang tubuhnya panas dingin mau tidak mau Lingga adalah orang pertama yang ia tuju.


Mendengar suara deru mobil menandakan Lingga sudah pulang Alin semakin gugup penampilan yang acak-acakan tidak di perduli kan nya lagi.


"Ada apa?" tanya Lingga datar.


"Emmm...mas boleh aku meminjam uang."


"Untuk apa?" seketika tatapan membunuh menghampiri Alin.


"Tolong lah aku mas, ayah masuk rumah sakit ayah harus di operasi." Jawab Alin sambil meneteskan air mata.


"Enak saja ..kamu pikir cari uang gampang ayah kamu aja gak bisa bayar utang ke orang tua ku bahkan harus menggadaikan kamu dan lihat sekarang mamah ku memaksa ku harus menikah dengan kamu."


"Mas..ku mohon bantulah aku." Sambil terisak " Aku janji akan membayarnya aku janji mas.''


Dengan kasar Lingga menjambak rbut Alin "Heeh..kamu denger ya biaya operasi itu tidak sedikit kalau kamu mau, lunasi utang ayah mu dulu."


Sekuat tenaga Alin menahan rasa sakit di kepala nya tubuhnya mulai lemas "Mas ku mohon."


"Dasar kalian keluarga tidak tahu diri mata duitan." Ucap Lingga yang mendorong tubuh Alin dengan kasar bahkan kepala nya terbentur tembok dengan keras.

__ADS_1


"Kamu ingat di otak mu, bayar dulu utang ayah mu dan aku akan membebaskan mu. Kamu boleh pergi sejauh mungkin dan juga untuk ayah mu aku tidak akan mengeluarkan uang sepeser pun kalian orang miskin hanya tahu uang uang dan uang." Lingga berlalu pergi meninggalkan Alin yang masih sesegukkan menangis entah kemana lagi ia meminta bantuan kepada mertuanya sangat tidak mungkin.


Dengan lunglai Alin masuk ke kamarnya untuk membersihkan diri hari ini keadaanny sangat kacau.


Setelah rapi Alin kembali ke rumah sakit untuk melihat keadaan ayah nya, namun baru saja ia tiba di depan ruangan seorang dokter keluar dan memberi tahu keadaan ayah nya.


"Mbak Alin...maafkan saya sebelumnya, pak Iswan tidak bisa kami selamatkan." ucap dokter dengan menyesal seketika tubuh Alin ambruk apa yang ia takut kan telah terjadi dengan lemas ia bangkit berjalan menuju jasad ayah nya yang sudah terbujur kaku.


"Ayah......" teriak Alin sambil menggoyangkan tubuh ayahnya " kenapa ayah pergi secepat ini jangan tinggal kan Alin ayah, Alin sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ayah." air mata Alin semakin deras bahkan kini tangis itu semakin sendu.


Jasad itu kini sudah terbujur kaku terbaring di tengah rumah, tetangga semakin banyak yang datang untuk melayat Alin menatap tubuh ayahnya dengan tatapan kosong air matanya seakan sudah habis wajah cantik itu kini meratap sayu.


"Bu Aini ..Alin bisa minta tolong."Ucap Alin kepada Bu Aini tetangga yang sudah di anggap nya seperti saudara itu.


"Iya..ada apa Alin?"


"Alin mau pulang sebentar bisa kah Bu Aini mengurus jenazah ayah." Pinta Alin


"Pergilah Alin...tapi ingat jangan lama-lama."


"Baik bu, terimakasih sebelum nya."


Dengan cepat Alin kembali kerumah Lingga dingin nya angin malam sudah tidak di rasakan nya lagi dengan menaiki ojek Alin sudah sampai di rumah Lingga.


Sesampainya di rumah Alin langsung menuju kamar Lingga dengan maksud hati mengabarkan tentang kepergian ayah nya, dengan malas Lingga membuka pintu kamar nya.


"Ada apa? Uang lagi?" Tanya Lingga Sinis.


"Tidak mas..aku hanya ingin memberi tahu kalau ayah sudah meninggal." ucap Alin sedih.


"Oh...trus aku harus apa?"jawab Lingga datar.


"Datanglah mas untuk melihat ayah yang terakhir kalinya ." pinta Alin.


"Alin...Alin...kamu ini seenak nya saja menyuruh ku itu kan ayah mu kenapa aku yang harus repot-repot." tertawa sinis.


Air mata Alin kembali jatuh hatinya begitu sakit bahkan lebih sakit dari pada kehilangan ayahnya.


"Mas ku mohon hargai aku." pinta wanita itu.


Lagi-lagi dengan kasar Lingga mencengangkan bahu Alin.

__ADS_1


"Kamu dengar baik-baik aku tidak akan menginjakkan kaki ku di rumah ayah mu sebab dia hidup ku berantakan dan kamu itu pembawa sial aku bahkan jijik muak melihat wajah mu." Mendorong tubuh Alin dan menutup pintu kamar.


Dengan berurai air mata Alin bangkit dan meninggalkan rumah Lingga untuk kembali mengurus pemakaman ayahnya.


__ADS_2