
"Mas dari mana?" tanya Melly "Kok gak bisa di hubungi seharian ini?"
"Mengerjakan apa yang seharus nya di kerjakan." jawab Zian berbelit.
"Mas, kamu kenapa?"
Tak ada yang di tutupi Zian, pria itu kemudian menceritakan apa yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Melly yang mendengar cerita suami nya sangat terkejut.
"Lalu, bagaimana keadaan Alin sekarang?"
"Baik-baik saja, hanya saja dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi."
"Kenapa bisa gitu?"
"Kamu kan tahu sendiri bagaimana sifat Alin, dia itu mudah kasihan dan memaafkan orang lain."
"Iya juga sih." ucap Melly.
"Sayang, malam ini aku izin ya."
"Mau kemana lagi?"
"Malam ini kami ingin membantu Jimmy membahas rencana lamaran nya pada Astri."
"Wah...secepat itu?"
"Lebih cepat lebih baik sayang,"
__ADS_1
Zian kemudian mandi, tubuhnya sudah serasa lengket seperti karet. Setelah selesai, Zian langsung bergabung makan malam sebelum pergi.
"Kamu titip sesuatu gak?" tawar Zian.
"Emmm...gak ada mas, ya udah hati-hati pulang nya jangan terlalu malam."
"Siap ratu ku."
Melly tersenyum, ia kemudian masuk kedalam rumah menghampiri ke dua anak nya yang sedang bermain bersama ibu dan adik nya.
Sesampai nya di tempat biasa, Zian dan Lingga yang datang bersamaan masih menunggu kedatangan Jimmy dan Andra.
"Bagaimana keadaan Alin?" tanya Zian sedikit khawatir.
"Baik-baik aja, gue udah memberi nya pengertian tapi ya begitu lah, lo tahu sendiri sifat Alin."
"Lo sabar aja Ling, Alin sangat mirip dengan nyokap gue, lembut."
"Gimana Jim, apa pilihan lo udah mantap?" tanya Zian.
"Sangat mantap?" jawab nya tegas.
"Jadi kapan lo akan melamar nya?" tanya Lingga.
"Nah, gue minta bantuan ama kalian untuk membuat kejutan khusus untuk Astri, gue mau membuat sesuatu yang berkesan dalam hidup gue dan Astri."
"Dan kalian tidak kasihan dengan gue yang jomblo ini?" tanya Andra dengan wajah sedih nya.
__ADS_1
"Apaan sih lo Ndra, orang lagi serius juga." tegur Jimmy.
"Ye elah, gitu aja sewot." ucap Andra dengan memanyunkan bibir nya.
Mereka masih membahas rencana lamaran Jimmy, yah maklum saja karena selama ini Jimmy tak pernah pacaran atau pun mengenal wanita secara dalam.
Malam semakin larut, Zian dan Lingga memutuskan untuk pulang terlebih dahulu. Sedangkan Jimmy dan Andra masih menikmati obrolan mereka.
"Lo kenapa gak nyari jodoh?" tanya Jimmy.
"Gue masih ingin menikmati kebebasan, menikamati masa lajang gue aja." jawab nya santai.
"ingat umur." ujar Jimmy.
"Jika Tuhan sudah menyiapkan satu untuk gue di garis takdir nya, kenapa gue harus sibuk mencari? lagian gue gak ingin menikah dengan wanita yang salah."
"Wah, bijak sekali ucapan sahabat gue ini." puji Jimmy.
"Dengerin gue, menikah itu soal kemantapan hati, jika di hati lo masih ada sedikit saja keraguan maka suatu saat keraguan itu yang akan menghancurkan lo sendiri. Setiap orang memiliki jodoh nya masing-masing, hanya saja kita tidak tahu kapan waktu nya kita akan berjumpa dengan jodoh kita. Seperti lo Jim, bertahun-tahun lo menunggu Astri dan lo gak tahu hasil nya gimana? lo gak tahu yang lo tunggu akan berakhir bahagia atau kecewa." tutur Andra.
"Karena gue mencintai nya di dalam doa."
Andra tertawa pelan, "Jim, menunggu itu adalah hal membosan menurut gue, apa lagi menunggu sesuatu yang tak akan pernah kita tahu hasil nya bagaimana."
"Tapi, berkat kekuatan doa akhirnya Tuhan mengabulkan semua nya."
"Dan lo harus banyak bersyukur akan hal itu."
__ADS_1
"Cinta gue tulus Dra, maka nya Tuhan mengabulkan semua doa gue, beda dengan yang sudah-sudah." ucap Jimmy memberi kode.
"Jangan bicara begitu, nanti cecunguk itu dengar bisa bahaya kita." ujar Andra lalu mereka tertawa bersama.