Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
39.Terapi


__ADS_3

Hari ini adalah jadwal pertama Alin melakukan terapi pada kaki nya di temani kakak nya Zian dan Melly. kurang lebih satu jam terapi yang di jalani Alin telah selesai.


"Bagaimana Dok?" tanya Zian kepada Dokter Arman.


"Cidera pada kaki Alin tidak terlalu parah kemungkinan butuh waktu empat bulan untuk masa penyembuhan." terang Dokter Arman "Alin tidak boleh memaksakan untuk melurus kan kaki nya karena itu sangat berbahaya. Sebisa mungkin kaki yang sakit harus sering di kompres air es agar mengurangi rasa nyerinya." Jelas Arman lagi.


"Baiklah dok."


"Saya akan memberi resep obat dan vitamin."


Lingga hanya melihat dari balik kaca jendela sesekali pria tampan itu menghindar saat Alin menoleh ke arah jendele kaca.


Melihat mereka yang akan keluar dari ruangan, Lingga bergegas pergi sebelum Alin melihat kehadiran diri nya.


Alin sudah berada di rumah nya di temani Melly yang setia mengurus nya. Hari ini Alin kedatangan kedua mertua nya, meski Lingga mengetahui kedatangan orang tua nya tapi pria itu memilih bersembunyi di kamar nya.


"Sayang bagaimana keadaan mu?" yanya Mayang memeluk menantunya.


"Baik mah...pah." Jawab Alin tersenyum kecil.

__ADS_1


"Ini mamah bawa kan kue kesukaan kamu." Mayang menyodorkan paper bag yang berisi kue tiramisu kesukaan Alin.


"Makasih mah...emmm enak nya." ujar Alin saat memakan potongan kue " Mamah bikin sendiri?"


"Iya...khusus untuk menantu mamah yang cantik." ujar Mayang tersenyum lebar.


Semua orang yang melihat Alin memakan kue dengan lahap hanya bisa tersenyum termasuk Lingga yang sedari tadi mengintip istri nya.


Mayang dan Angga tidak sekali pun menyebut nama Lingga karena mereka tahu kalau Alin saat ini sangat membenci suami nya itu.


Setelah puas bercengkerama Zian menggendong tubuh adik nya menuju kamar untuk istirahat. Setelah Alin berada di kamar nya, barulah Lingga keluar menghampiri kedua orang tua nya.


"Mah pah." Sapa Lingga.


Lingga hanya terisak di pelukan mamah nya, Zian yang sudah ikut bergabung merasa sedih dengan keadaan yang terjadi pada keluarganya.


"Kamu yang kuat Zian." ujar Angga menepuk pundak Zian yang sedang menangkup kan kedua tangan pada wajah nya.


"Sejak kecil Alin sudah begitu menderita, kenapa semua inu harus terjadi pada nya." gumam pria yang sudah meneteskan air mata nya. Bahkan ia tidak malu terlihat lemah di hadapan Melly.

__ADS_1


"Sabarlah nak...om tahu sekarang kamu begitu rapuh tapi om mohon jangan tunjukan kerapuhan mu di depan adik mu. Alin saat ini butuh kita untuk mensupport nya." tutur Angga.


Mata Melly berkaca-kaca melihat pria yang selama ini begitu kuat kini terlihat begitu menyedihkan.


"Berapa lama Alin bisa kembali berjalan?" tanya Angga memecah kesedihan.


"Sekitar empat bulan om, tergantung respon cepat atau tidak nya dari kaki Alin." terang Zian.


"Zian kalau kamu mau kamu boleh memanggil kami mamah dan papah karena kamu sudah kami anggap sebagai anak sendiri sejak dulu." Pinta Mayang.


Zian menatap sendu wajah Mayang pria itu begitu rindu dengan kedua orang tua nya saat ini. Tanpa menjawab Mayang Zian langsung memeluk Mayang, kerinduan nya terhadap pelukan seorang ibu membuat Zian menumpahkan tangis nya di pelukan Mayang.


Semua orang yang melihat Zian dan Mayang bahkan ikut meneteskan air mata termasuk bu Sita dan Pak Danu yang mengintip sejak tadi.


Melly bahkan tidak tahan dengan apa yang ia lihat sekarang, air mata nya bahkan mengalir lebih deras.


"Sudah...sudah..." ujar Lingga " Nanti Alin dengar bahaya."


Mereka akhirnya menghapus air mata nya masing-masing.

__ADS_1


"Terimakasih mah...Zian merasa punya orang tua sekarang." ucap pria itu, mata nya masih merah akibat tangis nya.


Akhirnya Lingga dan Zian kembali ke kantor masing-masing begitu juga dengan Mayang dan Angga yang sudah pulang. Tinggal lah Melly yang sedang menjaga Alin saat ini, wanita itu begitu telaten mengurus Alin karena ia sudah menganggap Alin seperti adik nya.


__ADS_2