Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
73.Pesan


__ADS_3

Ratih membuang tas nya ke segala arah dengan penuh sumpah serapah yang keluar dengan mudah dari mulut nya.


"Ku pikir mereka mudah untuk di dekati." Ujar Ratih penuh emosi.


"Ternyata mereka bukan sembarang orang yang mudah di kelabui." Sambung Hendra.


"Dan bagaimana Lingga tahu kalau kita yang sudah menculik Kia."


"Aku juga tidak tahu, sebaik nya mulai sekarang kita harus lebih hati-hati terutama Jenie."


Seraut wajah ruyam terpampang nyata daro pasangan suami istri itu.


Di lain tempat, Jenie yang sedang focus bekerja lagi-lagi mendapatkan teror dari ponsel nya. Jenie membuka notifikasi yang masuk baru saja, mata terbelalak dan mulut menganga di tampakan Jenie saat ia melihat sebuah rekaman yang baru saja ia dapat.


Seketika tubuh nya melemas "Siapa yang tahu tentang masalah ini?" Batin Jenie, bayangan Junika kembali terlintas saat detik terakhir saudara kembar nya menghembuskan nafas terakhir.


"Kamu kenapa?" Tegur Zian tiba-tiba sehingga membuat Jenie terlonjak sehingga membuat jantung nya berdetak tak karuan.

__ADS_1


"Tidak kenapa-kenapa pak." Jawab nya gugup "Tadi ada kecoa dan saya sangat keget." Kilah nya.


Kemudian Jenie permisi pergi ke toilet, Zian tersenyum sinis bahkan sangat puas dengan hasil kerja Akmal.


"Aku ingin tahu apa motif mu membunuh saudara kembar mu sendiri." Batin Zian kemudian pria itu berlalu pergi.


Di toilet, Jenie kembali membuka ponsel nya untuk menelpon nomor yang sudah dua kali menteror nya. Namun sayang nomor tersebut menghilang juga rekaman yang ia dapat tadi.


"Sialan." Umpat nya "Siapa yang sedang bermain di belakang ku? kalau bigini cara nya aku dalam bahaya." Lirih nya ketakutan "Junika, sudah mati saja masih menyusahkan ku." Sambung nya.


"Beri dia penawaran, tapi jangan tunjukan identitas mu."Perintah Zian "Buat dia mengakui kalau orang tua nya lah yang telah menculik adik ku dan menguras semua harta keluarga ku."


" Baik tuan."


Sayup senja kembali menemani bumi ini, Jenie langsung pulang dan masuk ke dalam kamar nya. Ia membuang sembarang apa yang ada di tangan nya.


Jenie duduk di pinggiran tempat tidur, menatap setiap sudut kamar nya "Siapa sih yang tahu rahasia ku? apa mungkin pembunuh itu mengikuti ku?" Batin nya lalu menggelengkan kepala.

__ADS_1


Sebuah notifikasi kembali berdering di ponsel Jenie, bergegas wanita itu mengambil ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur nya.


"Buat orang tua mu mengakui semua kesalahan di masa lalu nya, maka aku akan menjaga semua rahasia mu." Begitu isi pesan yang terbaca oleh Jenie.


Dengan gemetar Jenie mencoba menelpon nomor yang mengirimi nya pesan tersebut namun nomor itu tidak Dapat di hubungi.


"Brengs*k." Geram nya "Mau apa dan siapa orang ini?" Ujar Jenie dengan gelisah.


Sekali lagi pesan itu masuk "Dalam waktu satu minggu apa yang aku minta tidak terlaksana, aku akan membuat mu hancur." Isi pesan.


Jenie nampak mondar mandir mencari cara agar rahasia nya tidak terbongkar "Kalau semua rahasia ku terbongkar, mamah dan papah akan sangat membenci ku bahkan membuang ku dan semua orang akan mengatai aku pembunuh yang kejam." Ucap nya bingung.


π‘»π’†π’“π’Šπ’Žπ’‚π’Œπ’‚π’”π’Šπ’‰ 𝒔𝒖𝒅𝒂𝒉 π’Žπ’‚π’Žπ’‘π’Šπ’“ π’Œπ’† π’Œπ’‚π’“π’šπ’‚ 𝒐𝒕𝒐𝒓 π‘΅π’Š 𝑹.


π‘±π’‚π’π’ˆπ’‚π’ 𝒍𝒖𝒑𝒂 π‘³π’Šπ’Œπ’† 𝑹𝒂𝒕𝒆 π‘ͺπ’π’Žπ’†π’π’• 𝒂𝒏𝒅 𝑽𝒐𝒕𝒆 π’…π’Š π’Œπ’‚π’“π’šπ’‚ π‘΅π’Š 𝑹.


π‘Ίπ’‚π’π’‚π’Ž π’Žπ’‚π’π’Šπ’” π’…π’‚π’“π’Š 𝒐𝒕𝒐𝒓 π’”π’†π’Žπ’π’ˆπ’‚ 𝒑𝒂𝒓𝒂 π’‘π’†π’Žπ’ƒπ’‚π’„π’‚ 𝒔𝒆𝒉𝒂𝒕 𝒔𝒆𝒍𝒂𝒍𝒖 𝒅𝒂𝒏 π’…π’Š π’Žπ’–π’“π’‚π’‰ π’Œπ’‚π’ π‘Ήπ’†π’›π’†π’Œπ’Š π’π’šπ’‚πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2