
Malam ini Zian langsung membawa Alin pergi ke Singapura tanpa sepengetahuan Lingga. Bahkan Zian meminta Jimmy untuk merahasiakan kepergian mereka.
kondisi Alin yang semakin memburuk membuat Zian panik bagaimana tidak, baru saja ia menemukan adiknya dan sekarang dalam kondisi yang sangat memprihatinkan.
Sesampai nya di singapura Zian langsung memerintahkan dokter kepercayaan nya untuk mencari kan pendonor ginjal untuk Alin.
Sedangkan Lingga yang mulai frustasi karena kehilangan Alin untuk yang kedua kali nya.
Bahkan Jimmy pun tetap mengunci mulut nya dengan rapat karena ia sudah berjanji kepada Zian.
"Katakan Jim..gue mohon katakan kemana Zian membawa Alin?" tanya Lingga mulai frustasi.
"Maafkan gue Lingg...tapi Zian meminta gue untuk merahasiakan nya dan gue gak mau berkhianat kepada sahabat gue sendiri." tolak Jimmy.
"Lo juga sahabat gue Jim...katakan lah di mana?"
"Lo memang sahabat gue Lingg, tapi perlakuan lo yang udah nyakitin Alin gue rasa lo harus terima ini semua dan lo tahu sendiri bagaimana sikap Zian dia itu sangat rumit pasti tidak mudah untuk Zian melepaskan Alin, apalagi Zian baru saja bertemu dengan adiknya itu." tutur Jimmy sambil meneguk air mineral nya.
Lingga hanya bisa terdiam ingatan nya kembali melayang mengingat perlakuan nya terhadap Alin.
"gue hanya ingin bertemu minta maaf apa gue salah?"
"Meminta maaf gak salah...tapi untuk sekarang biarkan Zian merawat adik nya itu, lo harus memikirkan kesehatan Alin yang semakin memburuk bahkan untuk saat ini dokter yang menangani Alin belum mendapatkan pendonor yang cocok untuk Alin."
Lingga membuang nafas kasar mengusap wajah dan mengacak rambut nya frustasi.
Bahkan untuk masalah ini pun orangtua Lingga sama sekali tidak mengetahuinya, Lingga tidak membayangkan jika orangtuanya tahu pasti akan marah besar terutama Mayang mamah nya.
Di lain tempat tepat di rumah sakit singapura Zian merasa bahagia karena ada pendonor yang cocok untuk adik nya itu, bahkan dengan tidak sabar Zian memerintahkan dokter untuk melaksanakan operasi pencangkokan ginjal sesegera mungkin.
Dengan harap-harap cemas mondar mandir di depan ruangan operasi Zian sesekali melirik ke lampu yang berwana merah menandakan operasi belum selesai.
Wajah gelisah nampak terlihat dari laki-laki tampan itu ia tidak ingin kehilangan adik nya untuk yang kedua kalinya, cukup lah sekali yang membuat Zian kehilangan semua keluarga nya.
Ting...lampu berganti jadi warna hijau menandakan operasi selesai tapi Zian masih gelisah dengan kondisi Alin. Tak berapa lama keluar lah seorang dokter dengan cepat Zian langsung menghampiri dokter itu.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi adik saya?" tanya Zian cemas.
"Selamat...." ucap Dokter sambil menyalami Zian "Operasi nona Alin berjalan lancar."
"Syukurlah...lalu langkah selanjut nya apa dok."Zian melemaskan tubuhnya yang sempat menegang.
"Masa pemulihan...nona Alin harus istirahat total selama dua bulan dan asupan makanan harus di perhatikan."
Dokter tersebut berlalu pergi kini Zian tidak sabar untuk melihat kondisi Alin namun ia harus sabar menunggu Alin yang harus di pindahkan ke ruangan rawat.
Senyum Zian mengembang ia tidak sabar menunggu Alin sadar, dengan penuh kasih sayang Zian duduk di samping brankar di mana Alin terbaring. Karena terlalu lelah Zian tertidur bagaimana tidak seminggu terakhir adalah hari yang sangat menegangkan bagi Zian jangankan makan tidur saja tidak bisa jika mengingat kondisi adiknya.
Sedikit demi sedikit Alin mencoba membuka matanya pandangan nya sedikit rabun akibat kelamaan tidak sadar kan diri, ia mencoba memfokus kan pandangan kepada sosok laki-laki yang tertidur di sebelahnya saat ini.
"kak Zian.." lirih Alin pelan namun cukup terdengar oleh Zian.
"Dek..kamu udah sadar?" tanya Zian sedikit tidak percaya.
"Kak Zian...tubuh Alin sangat lemas berapa lama Alin tertidur?"
"Aahh....benarkah?" tanya Alin tidak percaya " kenapa kakak begitu baik kepada Alin bahkan Alin bukan siapa-siapa kakak."
"Kamu adik ku sudah sepantas nya aku melakukan ini semua bahkan untuk nyawa sekali pun."
"Tapi kak...Alin kan cuma orang yang kakak anggap sebagai adik."
"kamu adik kandung ku." ucap Zian sambil menatap Alin ada rasa kelegaan saat Zian mengungkap nya.
"Maksud kakak?" Alin masih bingung " Bagaimana bisa dan dari mana kakak tahu."
"Aku melihat mu sangat mirip dengan mamah , saat melihat mu pingsan untuk pertama kali nya jiwa melidungi ku keluar begitu saja bahkan hati ku sangat yakin kalau kamu adik ku yang hilang. Di tambah lagi dengan pernyataan mu jika orang yang merawat mu selama ini bukanlah orang tua kandung mu dan untuk menghilangkan rasa penasaran ku aku melakukan tes DNA aku mengambil rambut mu sedikit saat kamu tertidur. Setelah mendapatkan rambut mu aku langsung melakukan tes DNA dan kamu tahu aku tidak tidur tidak makan hati ku gelisah saat menunggu hasil nya namun Tuhan sangat baik hasil dari tes itu menunjukan 99,99% kalau kita positif saudara kandung." Jelas Zian yang langsung menitik air mata begitu juga dengan Alin ia tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.
"Alin...apa kamu marah? apa kamu berpikir kami yang membuang mu? tidak...saat kamu berumur satu tahun pengasuh yang merawat mu sejak bayi menculik mu dan membawa mu pergi dia adalah pesuruh dari salah satu pesaing bisnis papah, setelah papah mengetahui keberadaan kamu dan penculik mu papah dan orang-orang nya langsung mendatangi kamu tapi sayang papah hanya menemukan mayat wanita itu dan kamu entah siapa lagi yang membawa mu pergi.
Semenjak kehilangan kamu papah tidak berhenti mencari mu sedangkan mamah hanya bisa mengurung diri tidak makan tidak minum sampai suatu hari mamah sakit ia depresi dan meninggal dan tak berapa lama papah juga meninggal terkena serangan jantung. kehilangan kamu dan mamah menjadi pukulan terberat untuk papah termasuk diri ku. Setelah papah meninggal aku di asuh oleh nenek namun saat aku berusia dua puluh tahun nenek meninggalkan ku. Hidup ku sangat kesepian rasa frustasi mulai menghantui ku, kenapa? karena pencarian ku selama bertahun-tahun tidak membuahkan hasil tapi sekarang aku sangat bersyukur bisa menemukan mu." Zian kembali menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu ia tidak ingin Alin berpikir yang tidak-tidak.
__ADS_1
Tangis Alin semakin menjadi dia tidak bisa berkata-kata lagi Alin hanya bisa memeluk kakak nya begitu juga Zian ia membalas pelukan dari adiknya itu.
"Alin tidak marah ka semua ini bukan salah kakak bahkan karena Alin mamah dan papah pergi." Ucap Alin yang masih dalam pelukan kakak nya.
"Tidak...jangan menyalahkan diri mu ini semua takdir sekarang kakak sangat bahagia bisa menemukan mu kakak janji akan melakukan apa pun untuk melindungi mu."
"Kak...terimakasih."
"Istirahat lah ingat kondisi mu kamu harus pulih dalam waktu dua bulan kakak tidak ingin kamu kenapa-kenapa lagi."
Tiba-tiba seorang Dokter dan perawat masuk untuk mengecek kondisi Alin, setelah selesai mereka langsung keluar.Sedangkan Alin dan Zian kembali melanjutkan pembicaraan mereka.
"Kak...sebenarnya kita di rumah sakit mana kok dokternya bule?" tanya Alin yang belum tahu keberadaan nya.
"Di Singapura kamu akan di sini selama dua bulan setelah pulih kita akan pulang ke Indonesia."
"Tapi bagaimana pekerjaan kakak?"
"Ada sekretaris dan asisten yang mengurusnya kamu gak usah khawatirkan pekerjaan kakak."
"Hmmmm...berati kakak bos dong?"
"hehe...kamu mau tahu nama asli mu dek?"
"Siapa ka?"
"Kia Ananta Nugraha...mamah dan papah memberikan nama itu."
"Tapi kak..Alin sudah nyaman dengan nama Alinda Sunny bisa kah Alin tetap memakai nama itu?"
"Terserah kamu..tapi kakak akan menambahkan nama Nugraha di belakang nama mu karena itu nama keluarga kita."
"Ok...kak...Alin sangat senang."
Malam ini adalah malam yang paling bahagia untuk Alin dan Zian kedua kakak beradik itu menghabiskan waktu dengan saling bertukar cerita sesekali Zian membelai rambut adiknya.
__ADS_1