Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
95.Tangkap Mereka


__ADS_3

"Mas mohon, untuk sekarang kamu gak usah keluar dulu." pinta Lingga pada Alin.


"Kenapa mas?" tanya Alin penasaran.


"Mamah nya Alana sedang mencari anak nya, mas yakin jika tante Dina akan terus mengejar kita."


"Aku jadi takut mas." ucap Alin.


"Gak usah takut, kakak mu dan aku akan membereskan nya."


"Apa yang akan kalian lakukan?"


"Dia kan ingin bertemu anak nya, jadi kami akan mengabulkan nya." ujar Lingga.


"Mas, boleh aku bertanya?"


"Tanya apa?"


"Dimana kalian membuang Alana?" tanya Alin penasaran.


"Emmm.....jauh sangat jauh, di luar negara kita di sebuah kita T dan di daerah terpencil nya." ujar Lingga.


"Kalian kejam mas."

__ADS_1


"Sayang, jika kita terus membiarkan Alana berkeliaran, wanita itu akan berbahaya untuk keluarga kita."


"Hmm...terserah kalian saja mas." ucap Alin pasrah.


Hari ke hari, Dina terus saja datang menteror Lingga dan keluarga nya. Wanita paruh baya itu bahkan tak segan-segan untuk menyuruh orang bayaran untuk menteror rumah Lingga.


"Mamah rasa dia sudah mulai keterlaluan." ucap Mayang geram.


"Iya, papah harus segera bertindak." sambung Angga "Kamu Lingga, kenapa hanya diam saja?"


"Lingga bukan nya diam pah, hanya saja aku dan Zian sedang mencari titik lemah untuk menjatuhkan nya."


"Tapi mamah geram Ling, ibu dan anak sama aja."


"Kasih waktu dua hari mah pah, Lingga dan Zian akan mengirim nya untuk bertemu anak nya, sesuai permintaan dia."


"Sebagaimana anak buah Zian melakukan nya pada Alana dulu." jawab Lingga.


Alin hanya diam saat mendengarkan obrolan suami dan kedua mertua nya, wanita itu sedikit kasihan dengan nasib Alana dan ibu nya, namun apa daya, Alin tak bisa berbuat apa-apa.


Malam semakin larut, semua orang sudah berada pada mimpi nya masing-masing. Di luar rumah Lingga, dua orang pria sedang menteror dengan melemparkan sejumlah bangkai ayam tepat di depan gerbang.


Namun tanpa sepengetahuan kedua orang tersebut, beberapa anak buah Lingga sudah mengintai sejak tadi.

__ADS_1


Anak buah Lingga langsung menghadang motor kedua pria tersebut, cukup banyak, membuat kedua pria itu takut karena melihat pria berpakaian serba hitam yang jumlah nya lebih dari sepuluh orang.


"Tangkap mereka." perintah ketua mereka dengan suara sangar.


Kedua orang tersebut berontak minta ampun, namun semua anak buah Lingga tak mendengarkan permintaan mereka.


Pagi menjelang, Lingga yang mendapat kabar dari Andra langsung bergerak menuju gudang mereka. Tidak lupa juga ia menghubungi Zian. Sesampainya di gudang, Lingga langsung menghampiri kedua pria yang telah di tangkap anak buah nya tadi malam.


"Katakan, apa wanita ini yang memberi mu perintah?" tanya Lingga geram, namun mereka tak menjawab.


"Cepat katakan." bentak Andra tak kalah geram.


Lingga dan Zian tertawa sinis, "Sudahlah adik ipar, biarkan bos mereka yang datang membebaskan mereka sendiri." ujar Zian.


"Ambil ponsel mereka." perintah Lingga pada anak buah nya.


Sedikit memberontak, pria pertama mulai ketakutan. Lingga mengambil ponsel dari tangan anak buah nya.


"Wah...wah...apakah ini anak dan istri mu?" tanya Lingga sambil memperlihatkan layar ponsel.


"Jangan ganggu mereka." pinta pria itu ketakutan.


"Jika kau tak ingin anak mu jadi anak yatim, cepat telpon bos mu suruh datang kemari." perintah Lingga lalu melemparkan ponsel tersebut.

__ADS_1


Pria itu langsung menelpon bos mereka, ia memberi perintah jika bos mereka harus mengadakan pertemuan dengan mereka.


Lingga, Zian dan Andra tertawa puas, karena mereka sudah lama tak mendapatkan mainan seperti ini.


__ADS_2