
Lingga, ia kembali mengikuti Alin dan Zian bahkan saat di bandara sekarang pun Lingga memakai masker dan kacamata hitam agar bisa lebih dekat dengan Alin.
Wajah bahagia terpancar dari Alin, sedangkan Zian yang melihat adik nya itu hanya bisa tersenyum simpul dan sesekali mengusap lembut rambut Alin.
Saat ini mereka bertiga telah tiba di salah satu bandara di Indonesia.
Andra yang sedang menunggu kedatangan Lingga pun di perintah Lingga untuk memakai masker dan kacamata karena mereka akan mengikuti ke mana Alin akan tinggal sekarang.
"Ngapain coba lo nyuruh gue pakai ginian?" tanya Andra kesal.
"Berisik lo...kalau Zian lihat lo nanti mereka akan curiga...udah ayo ikutin mobil mereka."
Andra hanya menurut omongan Lingga, sekitar satu jam mengemudi mobil yang membawa Alin dan Zian masuk ke dalam pagar rumah mewah di kawasan elit.
Sedangkan Lingga dan Andra berhenti sedikit jauh dari pagar rumah Zian.
"Benarkan gue bilang...Zian pasti akan membawa Alin pulang ke sini." ucap Andra.
"hmmmm." Balas Lingga tanpa membuka mulutnya.
"Dan yang lo siksa selama ini adalah salah satu keturunan Nugraha...habis lo Lingg." ucap Andra mengejek.
"Breng*ek lo...udah ayo pulang capek gue."
__ADS_1
Lingga dan Andra meninggalkan kawasan elit itu.Sedangkan Alin saat ini nampak terkagum-kagum melihat besar dan megah nya rumah yang akan ia tinggali.
"Kak...ini rumah siapa?" tanya Alin.
"Ini rumah kita...rumah papah, mamah dan kita berdua." Jawab Zian mata nya mulai berkaca-kaca karena sudah hampir delapan tahun ia tinggalkan.
"Kak...Alin gak nyangka hidup Alin akan berubah seperti." ujar Alin yang memeluk kakak nya.
"Ya...udah ayo masuk." ajak Zian.
Mereka di sambut dengan beberapa pembantu termasuk bu sita yang sudah bekerja hampir dua puluh lima tahun di keluarga Nugraha.
Bu Sita meneteskan air mata nya saat melihat kedua anak majikan nya berkumpul kembali.
"Alin...ini kenalkan nama nya bu Sita." ucap Zian memperkenalkan " Bu Sita ini udah puluhan tahun bekerja di sini sejak mamah hamil kamu."
"Dan ini pak Danu suami Bu sita yang akan menjadi supir pribadi kamu sekarang, dan yang lain sebagai tukang masak dan bersih-bersih di rumah ini."
Alin hanya manggut-manggut sambil tersenyum, kemudian Zian mengantar kan Alin ke kamarnya untuk beristirahat.
Kamar yang begitu luas dan di lengkapi berbagai fasilitas mewah. Zian saat ini hanya ingin memanjakan adik satu-satunya.
"Kak..ya ampun ini kamar Alin?" tanya Alin tidak percaya.
__ADS_1
"Iya...kakak udah mempersiapkan kamar kamu dari jauh-jauh hari apa kamu suka."
"Suka kak...terimakasih." ucap Alin kembali memeluk kakak nya.
"Istirahatlah."
Alin masuk ke dalam kamar nya di jelajahi satu-satu setiap sudut ruangan kamar, Alin masih tidak percaya dengan apa yang ia lalui belakangan ini.
"Welcome kehidupan baru." ucap Alin sambil merebahkan tubuhnya.
Merasa cukup ia bermain dengan kasur baru nya Alin bergegas menuju kamar mandi dan membersihkan diri.
Setelah selesai Alin duduk di meja rias nya dengan menggunakan piyama Alin keluar kamar dan turun ke lantai bawah ia sudah melihat kakak nya sedang menikmati kopi dengan senyum mengembang Alin menghampiri Zian.
"Kak...kok gak istirahat?" tanya Alin.
"Nanti saja...kamu kenapa gak istirahat apa kamu gak nyaman?" tanya balik Zian.
"Eh...gak kok kak...Alin hanya ingin melihat rumah ini."
"Kalau begitu besok pagi kakak akan mengajak mu memutari rumah ini." Ucap Zian " Di belakang ada taman bunga yang di buat mamah saat kamu masih dalam kandungan kakak sengaja menyuruh bu Sita untuk merawat nya untuk mu."
"Terimakasih ka." Ucap Alin "Alin gak nyangka hidup Alin akan berubah seperti ini."
__ADS_1
"Istirahat lah sudah malam."
Alin kembali ke kamar nya perasaan bahagia tidak bisa ia tutupi saat ini.