Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
90. Dalam Doa


__ADS_3

"Jangan suka mencintai dalam diam Jim," ujar Andra menasehati.


"Aku tidak mencintai nya dalam diam, tapi aku mencintai nya dalam doa." balas Jimmy.


"Sama aja." sambung Lingga.


"Seharus nya dia mengerti akan perasaan lo, masa Astri tidak pernah melihat kebaikan yang lo lakukan selama ini."


"Gue tidak pernah mengharapkan balasan Dra."


"Dasar jomblo bijak." ledek Lingga.


"Sialan lo." umpat Andra.


"Lihat kita sekarang, Zian pasti sedang sibuk-sibuk nya sekarang." ujar Jimmy.


"Seperti gak tahu ama dia aja, kerjaan serius gak bisa di ajak bercanda." balas Jimmy.


Dan yang di ghibahi sedang sibuk-sibuk nya mengurus baby Adlan dan Adlina, pria itu kalang kabut saat mendengar kedua anak nya menangis.


Weekend kali ini Zian habiskan membantu istri nya, ia bahkan tak merasa jijik saat membuang kotoran kedua anak nya.


Marwah hanya tertawa geli saat melihat menantu nya itu begitu cekatan mengurus anak dan istri nya.


"Kamu akan lebih susah jika mereka sudah bisa berbicara dan berjalan Zian." ucap Marwah.


"Benarkah bu? aku tak sabar menunggu waktu itu."


"Kamu ini mas." ujar Melly.


Zian senang sekali bermain dengan ke dua anak nya, pria itu semakin semangat bekerja meski terkadang ia ingin cepat-cepat pulang.


Alin, wanita itu bahkan lebih sering menginap di rumah kakak, ia bahkan sangat iri kepada kakak ipar yang bisa melahirkan dua anak sekali gus.


"Kamu tak ingin pulang?" tanya Zian menghampiri adik nya yang sedang menidurkan Arsen.

__ADS_1


"Aku senang melihat kedua anak mu kak."


"Mertua mu pasti sangat merindukan cucu nya saat ini."


Alin memanyunkan bibir nya, wanita itu tahu jika mertua nya terus menelpon menyuruh nya untuk pulang.


"Suami mu belum pulang?"


"Belum kak, mas Lingga bilang dia akan bertemu dengan Jimmy dan Andra."


"Astaga, aku melupakan pertemuan kami." ucap Zian menepuk jidat nya.


"Sudahlah kak, mereka pasti mengerti."


"Semoga saja."


Zian kemudian duduk di samping keponakan nya yang baru saja tidur pulas.


"Ada apa kak?" tanya Alin bingung.


"Maksud kakak?"


"Maksud nya tinggal di rumah sendiri biar kalian mandiri."


"Mas Lingga mau nya begitu kak, tapi Alin gak tega melihat mamah dan papah nya kesepian di rumah sebesar itu." tutur Alin.


"Lalu bagaimana dengan Lingga."


"Mas Lingga hanya menurut apa kata ku saja kak, lagian aku gak tega jika Arsen berjauhan dari nenek dan kakek nya."


"Ya sudahlah kalau begitu, semua keputusan ada di tangan mu."


"Jangan membuat ku berpikir berat kak." lirih Alin.


"Tidak, sebelum kakak menemukan mu sebenar nya kakak sudah membangun satu rumah untuk kamu."

__ADS_1


Alin menautkan ke dua alis nya, "Kenapa kakak tidak pernah cerita?"


"Kakak lupa." jawab Zian terkekeh.


"Apa Alin boleh melihat nya kak?"


"Boleh dong, kan kakak bangun nya buat kamu."


"Terimakasih kak." ucap Alin.


"Rumah apaan?" tanya Lingga yang baru saja masuk.


"Jangan suka menguping pembicaraan orang." ledek Zian.


"Siapa yang menguping? gue gak sengaja aja dengar." balas Lingga.


"Sialan lo." umpat Zian.


"Sayang, rumah apa yang di maksud kakak mu?"


"Rumah yang di bangun kakak khusus untuk ku." jawab Alin.


"Owh...buat aku gak ada kakak ipar?"


"Bangun sendiri." ujar Zian.


"Emmmm...sayang, sore ini kita pulang ya, mamah udah teriak-teriak." ajak Lingga.


"Iya mas, tunggu sebentar aku berkemas barang Arsen dulu." ujar Alin kemudian beranjak bangun.


"Kalian ini suka sekali membuat orang tua khawatir." ujar Zian kemudian keluar dari kamar.


"Siapa?" tanya Lingga setengah berteriak.


"Lo dan Alin." jawab Zian.

__ADS_1


Seperti biasa, Lingga akan mengganggu anak semata wayang saat tidur, pria itu bahkan tak bosan jika harus mendengarkan ocehan Alin.


__ADS_2