Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
57.Tujuh


__ADS_3

Malam pekat di temani bunyi debur ombak berbaur menjadi satu irama dengan desahan kedua insan yang baru saja merasakan nikmat nya surga dunia.


Lingga, pria itu seakan tak ada habis nya menggauli istri nya. gurat lelah nampak terlihat dari wajah Alin yang sudah tertidur sangat pulas. Lingga memandang wajah istri nya mengingat kembali perlakuan kejam terhadap Alin, Lingga mengusap lembut pipi serta bibir istri nya meminta maaf berulang kali namun tak ada jawaban dari sang istri.


Setelah puas bercengkerama dengan hati nya, Lingga mengecup kening Alin lalu ikut berbaring di samping Alin dengan pelukan yang sangat erat.


Kilau mentari menduduki tempat nya, Alin merasakan berat di bagian perut apa lagi kalau bukan lingkar kekar milik suami nya.


Perlahan lengan suami nya ia pindahkan agar tak membangunkan pria yang masih tertidur pulas itu.


Alin menatap inci demi inci wajah tampan milik suami nya, berseloka ria di dalam hati yang sedang bahagia.


"Aku tahu aku tampan jangan menatap suami mu sampai ileran." Ujar pria yang masih setia memejamkan mata nya.


Alin seketika gugup kemudian membuang pandangannya "Siapa yang menatap mu mas." Ujar Alin mengalihkan.


Lingga menarik Alin kedalam pelukan nya "Aku sudah bangun sebelum kamu bangun dan saat aku melihat kamu masih tidur dengan pulas jadi aku urungkan niat ku untuk bangun." Tutur Lingga.


"Sejak kapan kamu menjadi selebay ini mas?" Tanya Alin kemudian beranjak bangun.


"Mau kemana?" Tanya Lingga.

__ADS_1


"Mandi, tubuh ku lengket."


"Mandi berdua." Ujar Lingga tersenyum licik.


Alin menatap tajam suami nya " Aku mandi sendiri kalau mandi sama kamu gak kelar-kelar." Tukas nya.


Tanpa menghiraukan suami nya, Alin langsung pergi ke kamar mandi. Sedangkan Lingga Pria itu memilih pergi ke balkon kamar menikmati suasana pagi yang indah.


"Mandilah mas." Tegur Alin yang baru saja selesai dan melihat suami nya sedang melamun " Apa yang kamu pikirkan?"


Lingga membalikkan tubuh nya menghadap Alin "Aku hanya takut kebahagiaan ini akan terusik kembali." Lirih nya pelan.


"Semua akan baik-baik saja mas." Ujar Alin "Sekarang kamu mandi bukankah hari ini hari terakhir kita disini? Aku ingin menikmati nya mas."


"Sayang sudah dong ini barang nya udah banyak." Ujar Lingga yang sudah membawa beberapa paper bag.


"Dikit lagi mas." Jawab nya dengan masih sibuk memilih barang.


"Ayolah sayang." Rengek Lingga.


Alin langsung menoleh ke arah suami nya "Apa kamu takut aku menghabiskan uang mu mas." Tanya Alin dengan tatapan tajam.

__ADS_1


"Bukan begitu sayang, di hotel juga udah banyak dan sebanyak ini buat siapa."


"Bilang aja pelit." Ucap nya "Nanti aku ganti, lagian uang Nugraha gak bakal habis tujuh turunan tujuh belokan tujuh tanjakan." Sambung nya ketus.


"Eehh...bukan gitu sayang, uang suami mu ini juga gak akan habis jika di makan tujuh istri tujuh selir dan tujuh selingkuhan." Canda Lingga namun mendapatkan tanggapan lain dari istri nya.


Tanpa membalas ucapan suami nya Alin memilih pergi kembali ke hotel, dengan cepat Lingga menyusul istri nya sambil merayu istri nya yang sedari tadi berdiam diri.


Sesampai nya di kamar hotel Alin langsung merebahkan diri pura-pura tidur agar tidak di ganggu suami nya.


"Sayang, kamu marah ya?" Tanya Lingga yang bingung "Maafkan mas sayang mas bercanda tadi."Ucap nya kembali namun tidak di respon oleh Alin.


"Aku mau pulang." Ujar Alin ketus.


"Tapikan kita pulang besok, maafkan mas deh soal tadi mas bercanda." Bujuk Lingga.


"Gak lucu bercanda nya, coba aja mas seperti itu akan ku pastikan kamu menyesal seumur hidup."


"Memang nya apa yang akan kamu lakukan jika mas..........." Ujar Lingga tidak meneruskan omongan nya namun bisa di pahami oleh Alin.


"Akan ku sunat untuk kedua kali nya." Jawab Alin hingga membuat wanita itu tertawa terpingkal-pingkal.

__ADS_1


"Astaga sayang, Jangan nanti kita gak bisa punya anak." Balas Lingga.


Riuh tawa memenuhi ruangan kamar, Lingga merasa bahagia melihat istri nya tertawa sangat keras karena sebelum nya, pria itu tidak pernah mendengar istri nya tertawa sampai mengeluarkan air mata.


__ADS_2