
Seperti janji Lingga, ia mengajak istri nya untuk jalan-jalan memutari mall seperti pasangan lain nya berbelanja sesuai dengan kebutuhan mereka. Alin nampak senang dan bahagia bahkan senyum manis nya terus terukir dari bibir tipis milik nya.
"Apa kamu lapar?" Tanya Lingga.
"Iya mas aku juga haus." Ujar nya.
"Maafkan mas...sampai lupa ngasih kamu minum."
" Gak kok mas aku senang malah."
Akhir nya mereka mencari tempat makan di dalam mall,setelah menemukan tempat yang cocok mereka langsung memesan makanan dan minuman. Lingga berusaha menjadi suami yang baik bahkan pria itu tidak malu saat menyuapi istri makan.
"Mas aku bisa makan sendiri malu di lihatin orang." Ujar Alin sedikit berbisik.
"Biarkan saja mereka toh kamu istri ku ngapain mikirin mereka." Jawab Lingga yang masih menyuapi istri nya.
Setelah selesai makan Lingga langsung mengajak sang istri untuk pulang, karena sudah seharian mereka berkeliling mengitari kota ini.
"Bagaimana? apa kamu senang?" Tanya Zian yang menghampiri adik nya di kamar.
"Senang kak mas Lingga ngajak Alin kemana pun Alin mau."
"Maafkan kakak akhir-akhir ini kakak sangat sibuk." Lirih pria yang sedang menyesal.
"Alin tahu kak, Alin juga minta maaf udah egois Alin tahu kakak bahkan gak punya waktu untuk istirahat."
"Yang penting kamu sehat kakak juga akan sehat." Ucap nya sambil mengelus rambut adik nya "Istirahat lah."
__ADS_1
Zian kemudian keluar dari kamar adik nya, tak lama Lingga yang baru saja selesai mandi dan berganti pakaian langsung mengajak istri nya untuk istirahat.
"Setelah kamu sembuh boleh mas meminta hak kamu sebagai istri?" Tanya Lingga tiba-tiba sehingga membuat jantung Alin berdegub kencang, karena ia tidak pernah membayang kan kalau suami nya akan memberinya pertanyaan seperti itu.
Alin masih diam mata indah nya lekat menatap wajah tampan milik suami nya "Bukankah seharusnya begitu mas." Ucap nya pelan namun masih terdengar jelas di telinga suami nya.
"Terimakasih, tidurlah kamu pasti lelah."
Lingga mencium kening istri nya sambil mengusap lembut rambut sang istri. Alin tidur dengan damai bebantalkan lengan kekar sang suami. Lingga tersenyum melihat wajah istri nya, ia mengusap lembut wajah Alin "Maaf kan aku yang dulu Istri Gadaian ku." Lirih nya dan kembali mencium tipis bibir istri nya. Lingga kemudian memeluk istri nya dan langsung tidur.
Matahari sudah menampakan sinar nya, Lingga dan Alin sudah bersiap untuk pergi tak lupa mereka mengajak kakak nya bahkan Melly juga ikut bersama mereka.
Mobil yang mereka kendarai berhenti tepat di area pemakaman, Lingga mendorong kursi roda istri nya menyusuri jalan yang membawa mereka pada makam ke dua orang tua Alin dan Zian.
Lingga dan Zian nampak gagah dengan menggunakan pakaian serba hitam di tambah kacamata hitam yang menghiasi wajah mereka.Sedangkan Alin dan Melly juga nampak cantik dengan balutan kerudung.
Alin dan Zian meletakan satu persatu buket bunga di atas pusara kedua orang tua mereka.
"Pah mah kenalin juga ini Melly calon istri Zian." Sambung Zian.
"Pah mah doa kan Alin dari atas sana semoga Alin cepat sembuh biar Alin bisa mendampingi kakak menikah nanti."
Lingga memegang kedua pundak istri nya yang masih duduk di kursi roda " Mah pah Lingga janji gak akan menyakiti putri kalian lagi, Lingga janji akan buat putri kalian bahagia." Ujar Lingga berucap.
Setelah selesai berziarah mereka memutuskan langsung pulang kerumah. Di dalam perjalan pulang Alin hanya diam menatap ke luar kaca mobil.
"Kamu kenapa?" Tanya Lingga yang sambil mengemudi.
__ADS_1
"Gak kok mas." Jawab nya sambil tersenyum.
"Gak usah bohong dari tadi kamu diam aja."
Zian dan Melly juga penasaran dengan keadaan Alin yang berada di kursi depan "Kamu kenapa?" Tanya Zian.
"Alin sedih kak." Ucap dengan air mata mengalir "Alin sedih gak pernah lihat papah dan mamah." Lirih nya.
Zian hanya diam, pria itu tak mampu menjawab ucapan adik nya hati nya juga sakit mendengar ucapan adik nya. Melly menggenggam tangan Zian memberi semangat begitu juga dengan Lingga mengusap kepala istri nya untuk menguatkan.
Sesampai nya di rumah Lingga langsung merebahkan tubuh sang istri yang kini terlihat lelah. Melihat keadaan Alin yang sudah mulai tenang ia menghampiri Zian dan Melly.
"Sebentar lagi ulang tahun Alin." Ujar Lingga yang baru saja menjatuhkan bobot tubuh nya.
"Gue tahu bahkan gue udah menyiapkan kado yang pasti akan membuat dia senang." Ujar Zian.
"Apa itu?" Tanya Lingga penasaran.
" Mau tahu aja lo."
Melly hanya bisa menggelengkan kepala nya melihat kedua pria di hadapan nya.
"Apa Alin masih sedih?"
"Sudah tenang." Jawab Lingga sambil mengusap wajah nya "Entah lah seperti nya dia selalu menyalahkan diri nya akan kepergian kedua orang tua kalian."
Zian mendengus "Gue bahkan udah berusaha memberi pengertian tapi ya begitulah Alin tetap menyalahkan diri nya."
__ADS_1
Zian dan Lingga hanya bisa memijat pelipis nya memikirkan keadaan Alin yang sekarang.
Lingga kembali menghampiri istri nya yang sedang tidur di kamar sedangkan Zian mengantar Melly untuk pulang kerumah nya.