
Siang ini, Akmal sudah membuat janji temu dengan Jenie untuk membahas rencana kepindahan untuk bekerja.
Sesekali Akmal melirik jam jangan yang bertengger di lengan kiri nya "Dia pikir dia siapa berani membuat ku menunggu lama." Gerutu Akmal.
Tak lama kemudian Jenie pun datang "Maaf membuat anda menunggu lama."
"Tidak masalah." Jawab Akmal dengan wajah dingin.
"Sialan" Umpat Jenie dalam hati "Kenapa semua laki-laki sikap nya dingin semua."
Tanpa basa basi Akmal langsung membicarakan maksud dan tujuan nya "Bagaimana nona? apa nona setuju dengan apa yang sudah kita bicara kan sebelum nya?" Tanya Akmal.
Jenie nampak berpikir"Beri saya waktu sampai besok." Pinta nya.
"Baiklah nona, tapi jika anda tidak setuju anda akan kehilangan pekerjaan, karena saya yakin pak Lingga pasti akan memecat anda."
Jenie hanya mengangguk tanda mengerti, setelah itu ia memutuskan untuk pulang kerumah.
"Kamu kenapa?" Tanya Ratih yang melihat anak nya duduk lemas.
"Zian menarik ku kerja di perusahan milik nya." Ujar Jenie.
__ADS_1
"Wah, bagus itu." Ucap Hendra girang.
"Apa bagus nya?" Tanya Jenie cemberut"Apa karna Zian mengenali ku?"
"Tidak mungkin dia mengenali mu, sejak bayi kamu sudah hidup di luar negeri tanpa pernah bertemu dengan mereka." Jelas Hendra.
"Tapi Jenie gak mau jauh dari Lingga."
"Dasar bodoh." Umpat Ratih "Jika kamu bisa menguasai semua harta keluarga Nugraha, kamu akan lebih mudah menaklukan Lingga."
Jenie tertawa puas begitu juga dengan Hendra dan Ratih, mereka berpikir langkah mereka hanya tinggal selangkah lagi untuk menguasai segala nya.
"Apa maksud dari semua nya mas?" Tanya Alin bingung saat mendengar cerita suami nya.
"Apa segitu marah nya kakak sehingga ia tak mau memaafkan mereka." Tanya bodoh Alin.
"Karena kakak mu yakin, merekalah dalang dari semua nya." Ujar Lingga "Kakak mu merasakan kesedihan di sepanjang hidup nya, dia kehilangan diri mu kemudian mamah mu dan juga papah mu. Jika aku di posisi kakak mu, aku akan membalas mereka dengan hukumun yang paling berat." Tutur Lingga.
Alin meneteskan air mata nya saat membayangkan berat nya hidup yang di jalani Zian selama ini.
"Hi...kenapa menangis istri gadaian ku?" Ledek Lingga sambil mengangkat dagu istri nya.
__ADS_1
"Berhenti mengejek ku mas, biar aku istri dari hasil gadaian tapi nyata nya kamu sangat bucin pada ku." Balas Alin.
Lingga tertawa begitu juga dengan Alin, kesedihan yang sadari tadi ia bendung hilang seketika saat suami nya mengajak bercanda.
"Jangan sedih dan jangan menangis." Ujar Lingga menarik istri nya ke dalam pelukan nya "Aku tidak ingin anak kita ikut sedih." Ucap nya sambil mengusap lembut perut Alin.
Melly menatap suami nya yang sadari sore duduk di balkon kamar dengan raut wajah suram.
"Mas." Sapa Melly "Ada masalah apa?"
Zian menatap istri nya kemudian menyuruh Melly untuk duduk di samping nya, pria itu menyandarkan kepala nya di pundak Melly.
"Aku pernah merasakan kehilangan segala nya dan itu sakit." Ujar nya mulai bercerita "Apa pun akan aku lakukan untuk kebahagian Alin meski nyawa ku taruhan nya."
Melly menggenggam tangan suami nya"Jangan berkata seperti itu, semua akan baik-baik saja, kita jaga Alin bersama-sama."
"Sebenar nya aku masih sakit hati akan sikap orang tua angkat nya yang tega menggadaikan nya hanya demi uang. Begitu juga sikap Lingga yang pernah membuat Alin begitu menderita." Ujar Zian sambil mengubah posisi duduk nya "Namun, tak ku pungkiri kalau aku juga berterimakasih kepada mereka terutama Lingga, tanpa dia aku tak akan bisa bertemu dengan adik ku." Sambung nya.
"Segala yang terjadi pasti ada hikmah."
"Aku hanya ingin mereka yang jahat di hukum sesuai perbuatan mereka." Ucap Zian tegas.
__ADS_1
Begitulah sepenggalan cerita sore sepasang suami istri, mereka saling bertukar cerita tentang masa lalu yang sangat pedih.