Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
07.Pingsan


__ADS_3

Pagi ini tepat pukul sembilan, proses pemakaman ayah Alin berjalan dengan lancar sesekali Alin mengeluarkan air mata apa lagi ketika jasad ayah nya akan di masukan ke liang kubur Alin nyaris saja roboh namun dengan penuh kasih bu Aini mencoba menguatkan Alin.


Sedangkan dari kejauhan, laki-laki berpakaian serba hitam nampak gagah dengan kacamata nya menyaksikan proses pemakaman siapa lagi kalau bukan Lingga. Ada rasa menyesal saat melihat Alin begitu rapuh namun lagi-lagi rasa benci itu muncul di hati Lingga seolah-olah Alin patut mendapatkan balasannya.


Saat ini semua orang sudah pergi dari kuburan tinggal lah Alin yang masih meratap di atas gundukan tanah yang masih basah itu ia hanya bisa menangis untuk mengeluarkan kata-kata pun rasanya tak mampu.


Mengingat keadaan Alin yang tak memiliki siapa-siapa Bu Aini kembali menghampiri Alin, dengan sabar ia membujuk Alin agar mau pulang dengan berat hati Alin menerima Ajakan bu Aini.Sedangkan Lingga melihat Alin yang sudah beranjak pergi bergegas ia kembali ke mobilnya dan pergi.


Setelah sampai di rumah ayah nya Alin langsung membersihkan diri.


"Alin..." Sapa bu Aini "Apa ibu boleh bertanya?"


"Iya bu."


"Kemana suami mu ..seperti nya ibu tidak melihatnya?"


Deg...


Pertanyaan Bu Aini membuat Alin bingung ia harus mencari alasan.


"Suami Alin sedang berada di luar kota bu." jawab Alin berbohong.


"Oh...sudah lah jangan sedih ada ibu tapi kamu harus menginap di rumah ini selama tujuh hari ya."


"Iya bu Alin mengerti."


Hari ini adalah hari ke tujuh kepergian ayah Alin tak sekali pun Lingga menampakan batang hidung nya,


Alin sangat sedih Lingga begitu tidak peduli dengan keadaannya bahkan datang untuk mengucapkan bela sungkawa saja tidak.


Jam menunjukan pukul delapan malam Alin sudah berada di rumah Lingga kembali. Lingga yang saat itu tidak berada di rumah membuat Alin langsung pergi beristirahat tubuh nya sangat lelah bahkan nampak sekali kurus nya wajah cantik yang semula berseri kini sayu.


Suara adzan subuh sudah berkumandang di mana-mana nampak Alin sudah menjalankan kewajiban nya dan kini tugas Alin membersihkan rumah yang sudah satu minggu ini ia tinggalkan.


Saat sedang asik menyapu halaman Lingga sedikit kaget melihat Alin tubuh nya sangat kurus tidak terurus namun dengan cepat ia mengalihkan pandangan nya dan masuk ke dalam mobil untuk berangkat kerja.


karena pekerjaan nya sudah selesai Alin


berencana untuk kembali ke rumah ayah nya namun baru saja ia tiba Alin di kejutkan dengan kedatangan dua orang laki-laki yang menagih hutang ayahnya.


"Selamat siang." ujar salah seorang itu

__ADS_1


" Siang...siapa ya?" tanya Alin.


" kami kesini untuk menagih hutang pak Iswan."


"Maaf sebelum nya tapi saya tidak punya uang." Alin mulai merasa takut.


" kalau begitu rumah ini kami sita."ujar orang tersebut.


" Jangan pak.." pinta Alin " Ini satu-satunya peninggalan orang tua saya."


"Saya tidak mau tahu dan ini lihatlah ini adalah sertifikat rumah yang sudah di gadaikan pak Iswan kepada bos kami."


Seketika Tubuh Alin lemas dan jatuh kebawah air mata yang sudah kering kini kembali basah lagi rumah ini adalah satu-satunya kenangan yang ia miliki namun sekarang sudah berpindah ke lain tangan.


Alin kembali ke rumah Lingga dalam keadaan sedih ia berjalan lunglai matanya seakan berkunang-kunang dan bruukk...Alin jatuh pingsan, Lingga yang baru saja tiba terkejut melihat Alin yang tiba-tiba tidak sadarkan diri, dengan cepat ia mencoba membangunkan Alin namun tidak ada respon dari Alin.


Wajah nya sangat pucat tubuhnya sangat panas segera Lingga membawa Alin pergi ke rumah sakit.


Setelah melalui beberapa pemeriksaan Alin sudah di pindahkan ke ruang rawat dan belum sadarkan diri.


Setengah jam berlalu Alin mulai membuka matanya rasa pusing masih menggelayuti kepala nya


"Dasar bodoh, menyusahkan saja...Apa mata mu buta kalau kamu lagi di rumah sakit."Jawab Lingga kasar.


"Maafkan aku." Hanya kata maaf yang Alin ucapkan.


"Kalau mau mati jangan di rumah ku pergi sana jauh-jauh."


Dada Alin kembali sesak kata-kata Lingga sungguh menyayat hati sebisa mungkin Alin tidak membiarkan air matanya jatuh, rasa nya ia sudah terlalu lelah untuk menangis.


"Lihat lah bagaimana kamu akan membayar rumah sakit ini kalau tidak aku." ucap Lingga.


" Aku akan membayarnya nanti ke kamu mas." Jawab Alin sedih.


" Dengan apa hah? Dengan nyawa mu?"


Lagi-lagi ucapan Lingga menusuk ke ulu hati Alin hanya bisa pasrah saat ini.


" Tenang saja mas Aku akan membayar nya bahkan utang ayah pun akan ku bayar meski dengan nyawa sekali pun."


" Baguslah kalau kamu mengerti aku bahkan muak melihat mu." berlalu pergi meninggalkan Alin

__ADS_1


Kini Lingga sudah berada di sebuah restoran ternama di kota nya malam ini ia berjanji akan bertemu Alana kekasih nya.


Lingga menunggu sekita lima menit nampak wanita cantik dengan tubuh sexy menghampiri Lingga dan memeluknya mesra.


"Sayang...kamu udah nunggu lama ya?" tanya Alana manja.


" Gak kok...buat kamu apa aja."


Kemudian mereka memesan makan malam tapi Lingga sangat terganganggu dengan bunyi ponsel Alana.


" Siapa yang menelpon mu?" Tanya Lingga dengan wajah dingin


" ah....ini teman ku." Jawab Alana gugup " Dia mengajak ku untuk menghadiri pesta ulangtahun sahabat nya tapi aku menolak dan dia terus saja menelpon ku." Ujar Alana memberi alasan.


"emmm...sayang aku ke toilet sebentar."


"hmmmm."


Dan Lagi ponsel Alana berbunyi dengan penasaran Lingga meangkat telpon tersebut, terdengar suara laki-laki sontak membuat Lingga geram.


"sayang kamu dimana? Aku udah di apartemen kamu nih udah gak tahan." ucap laki-laki dari telpon seketika Lingga mematikan telpon tersebut wajahnya terlihat kesal bukan hanya sekali Alana berkhianat tapi Lingga selalu memaafkan Alana karena Alana adalah cinta pertamanya.


Alana yang melihat wajah Lingga merasa Was-was seperti terjadi sesuatu kepada Lingga.


"Siapa laki-laki itu?" Bentak Lingga.


" Siapa?" Tanya balik Alana.


"Yang di telpon bahkan dia menunggu mu di apartemen."Bentak Lingga kembali.


Alana langsung diam dia sudah biasa di tangkap basah oleh Lingga namun dengan tipu daya Alana bisa mendapatkan maaf Lingga.Tapi malam ini sangat berbeda Lingga sangat marah bahkan meninggalkan Alana yang berdiri tidak percaya melihat ketegasan Lingga.


Lingga melajukan mobilnya sangat kencang entah apa yang merasuki nya ia kembali ke rumah sakit di mana Alin di rawat.Di buka nya pintu dengan pelan terlihat Alin yang sedang tidur di pandangnya wajah sayu Alin, tiba-tiba muncul rasa kasihan terhadap Alin cukup lama Lingga memandang wajah Alin " Cantik" itu lah kata yang keluar dari mulut Lingga.Tapi saat itu Lingga di kejutkan dengan igauan Alin.


" Aku akan membayar hutang ayah."


"Aku akan membayar hutang ayah."


Itu lah kata yang di ucapkan Alin membuat Lingga terkejut perempuan yang terbaring lemah di hadapan nya sekarang ini seakan menanggung beban yang cukup berat.


Lingga yang saat itu berdiri di samping Alin beranjak ke sofa dan menjatuhkan bobot tubuh nya rasa lelah mulai menggerayangi tubuhnya karena dari pulang kerja hingga larut malam ia belum beristirahat sama sekali dengan cepat Lingga pun memejamkan matanya dan tertidur pulas.

__ADS_1


__ADS_2