Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
41.Mulai Mengingat


__ADS_3

Kau dan Aku yang sudah menjadi kita


Namun tak bisa bersama kenapa?


Seperti biasa Lingga menjaga Alin ketika Zian dan Melly pergi, pria tampan itu selalu bersembunyi agar Alin tidak melihat diri nya.


Lingga bersandar pada dinding tembok di samping jendela yang menghadap taman. Hati Lingga seakan tertusuk ribuan jarum saat merasakan bagaimana rumah tangga nya saat ini.


"Sesakit ini kah kamu dulu?" Batin Lingga, mata nya mulai berkaca-kaca.


Lingga kembali manatap istri nya yang sedang duduk di kursi roda itu. Tak sedetik pun mata Lingga berpaling dari istri nya.


Alin saat ini mencoba mengangkat bobot tubuh nya untuk berdiri, tangan nya bertumpu pada kursi roda. Dengan penuh keyakinan Alin mulai berdiri dan ingin melangkah menuju kursi taman. Namun baru saja Alin berdiri tubuh nya langsung ambruk jatuh bahkan menghantam kursi roda. Lingga yang melihat Alin jatuh langsung berlari menghampiri istri nya.


Tanpa bicara Lingga langsung menggendong tubuh Alin, Alin yang melihat Lingga menggendong diri nya langsung memukul tubuh Lingga. Karena tubuh Lingga kekar pukulan Alin menurut nya tidaklah menyakitkan.


"Lepas kan aku.." Teriak Alin sambil memukul dada bidang suami nya.


"Jangan membahayakan diri mu sendiri." Hanya itu jawaban yang Alin dapat. Pria itu tetap menggendong istri nya menuju kamar.


"Kamu jahat..kamu suami kejam kenapa ada disini?" Racau Alin namun tak di dengar oleh Lingga.


Lingga dan Alin sekarang berada di lift khusus yang di buatkan Zian untuk Alin. Lingga menurun kan Alin di dalam lift ia mendudukan Alin begitu saja.


"Pergi ke kamar mu." Ujar Lingga "Sekali saja mengingat kebaikan ku bisa kah?" Ucap nya kembali sedih.


" Kamu jahat." Ujar Alin tertunduk takut.


"Aku memang jahat iya aku suami yang kejam sehingga membuat mu seperti ini. Tapi tahu kah kamu karena kejahatan ku pada mu membuat aku tersiksa begini?" Lingga terduduk lemas bahkan tak terasa air mata nya mengalir. Lingga mengusap wajah nya kasar menghapus air mata yang sejak tadi keluar.


"Ku mohon maaf kan aku." Ucap pria itu lemas, Kemudian Lingga kembali menggendong istri nya yang sudah tidak berontak lagi. Lingga merebahkan tubuh Alin di tempat tidur nya.


"Istirahat lah." Ucap nya singkat.


"Jangan membuat ku semakin merasa bersalah atas sikap mu di taman tadi itu sangat membahayakan mu." Ucap Lingga kembali kemudian berlalu pergi. Pria itu keluar dan menutup pintu bersandar pada dinding yang berada di samping pintu, lagi-lagi air mata pria tampan itu menetes.


Sedangkan Alin hanya bisa terisak ia tidak tahu apa yang terjadi pada diri nya sekarang, yang ia ingat hanya lah kekejaman Lingga terhadap diri nya. Merasa lelah menangis Alin pun tertidur hingga jam makan malam pun Alin belum kelihatan, dengan gelisah Zian yang sudah pulang kemudian menghampiri adik nya di kamar.


Zian menatap wajah adik nya ia melihat mata Alin yang sembab habis menangis, membuat Zian khawatir.

__ADS_1


"Bangun..." Ujar Zian membangunkan adik nya sambil mengusap pucuk kepala Alin.


Alin menggeliat bangun dan langsung memeluk kakak nya.


"Laki-laki itu kak ada disini." Ucap Alin ketakutan.


"Siapa?" Tanya Zian tidak mengerti.


"Mas Lingga." Jawab nya lirih.


Zian sangat gugup saat Alin mengucapkan nama Lingga "Kakak tidak tahu." Alasan Zian " Kakak ambil makan malam mu dulu." Ujar nya melepaskan pelukan adik nya.


Zian kemudian keluar dari kamar Alin dan langsung masuk ke kamar Lingga.


"Ada apa?" Tanya Lingga mengerutkan Alis nya.


"Kenapa Alin bisa lihat lo?" Tanya Zian datar.


Lingga menutup laptop nya " Alin jatuh di taman ia mencoba untuk berjalan." Jawab Lingga menatap Zian.


Zian hanya bisa membuang nafas kasar "Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa." Ujar Zian pasrah.


Zian kembali menuju meja makan mengambil kan makan malam untuk Alin, meski pelayan di rumah itu ada banyak namun Zian ingin diri nya sendiri yang melayani kebutuhan adik nya saat ini.


Baru saja Alin tidur kurang lebih sepuluh menit Zian di kejut kab dengan Alin yang berteriak ketakutan, bergegas Zian berlari menghampiri Alin dan membangunkan adik nya yang masih dengan mata terpejam.


"Alin bangun...Alin bangun.." Ujar Zian gelisah dan takut melihat Alin berteriak.


Alin akhir nya bangun dan langsung memeluk kakak nya kembali.


"Kamu kenapa hah? apa kamu mimpi buruk?" Tanya Zian gelisah.


"Alin takut kak...tabrakan itu salah Alin bukan mas Lingga." Ucap Alin dengan tubuh gemetar "Alin takut kak kenapa saat itu Alin bisa bersama mas Lingga bukan nya mas Lingga jahat sama Alin."


Racau Alin semakin menjadi bahkan tangis nya pun pecah, Zian yang melihat keadaan adik nya menjadi takut di tambah Alin yang mulai tidak sadar kan diri. Zian Langsung membopong tubuh Alin turun kebawah.


"Lingga...Lingga. .." Teriak Zian " Tolong gue Lingga."


Lingga yang mendengar teriakan Zian langsung keluar begitu juga para pelayan yang lain nya mereka terkejut melihat Zian menggendong Alin.

__ADS_1


"Istri gue kenapa?" Tanya Lingga kaget.


"Udah gak usah banyak tanya ayo kerumah sakit." Ujar Zian.


Lingga dan Zian langsung menuju rumah sakit, dengan perasaan cemas kedua pria itu tak henti-hentinya mengkhawatirkan keadaan orang yang sangat mereka sayangi yang saat ini tidak sadarkan diri.


Sesampai nya di rumah sakit Alin langsung di tangani oleh Jimmy, sedangkan Lingga dan Zian menunggu dengan gelisah di depan ruang UGD.


Dari jauh terlihat Melly yang sudah berlari tergopoh-gopoh di lorong rumah sakit, karena saat berada di dalam mobil Zian langsung menghubungi Melly.


Dengan nafas tersengal-sengal Melly menghampiri kedua pria itu.


"Bagaimana?" Tanya Melly dengan nafas tidak beraturan.


"Masih di tangani Jimmy." Jawab Zian "Aku sangat takut Mell dia adik ku satu-satunya." Ujar Zian terduduk lemas.


"Sabarlah, sebaiknya kita berdoa yang terbaik untuk Alin." Ucap Melly menguatkan.


Tak berapa lama Jimmy keluar di ikuti Alin yang masih tidak sadarkan diri di atas brankar yang di lorong oleh perawat.


"Mau di bawa kemana?" Tanya Lingga.


"Di pindahkan ke ruang rawat." Ujar Jimmy "Kalian berdua ikut gue." pinta pria yang memakai baju berwarna putih.


"Mell jaga Alin." Pinta Zian pada Melly.


Kemudian Zian dan Lingga langsung mengikuti Jimmy ke dalam ruangan nya.


"Gimana keadaan adik gue?" Tanya Zian khawatir.


"Alin mengalami kemajuan pada ingatan nya dan membuat nya tidak sadarkan diri karena terlalu syok dengan apa yang terjadi pada diri nya." Terang Jimmy " Sebenar nya apa yang terjadi?" Tanya Jimmy penasaran.


Zian kemudian menceritakan apa yang terjadi pada Alin saat tidur, membuat Lingga terkejut bukan main.


"Jadi Alin mulai bisa mengingat?" Tanya Lingga senang.


"Kemungkinan besar begitu, tapi kalian berdua harus sabar karena ingatan Alin akan kembali secara perlahan terutama lo lingga." Ujar Jimmy menatap ke arah Lingga.


"Kenapa gue?" Tanya Lingga tidak mengerti.

__ADS_1


"Gue tahu posisi lo gak mudah sekarang gue harap lo masih sabar menunggu ingatan Alin kembali gue yakin Alin bisa mengingat kejadian saat kalian bersama beberapa waktu yang lalu."


Lingga hanya mengangguk dengan ucapan sahabat nya itu, ada binar bahagia di hati nya saat Alin mulai mengingat diri nya meski belum sepenuh nya.Zian hanya bisa menepuk pundak Lingga memberi kekuatan pada adik ipar sekaligus sahabat nya itu meski diri nya juga sangat rapuh melihat keadaan adik nya saat ini.


__ADS_2