
"Jadi selanjutnya gimana?" tanya Andra.
"Apa nya?" tanya balik Jimmy.
"Kapan rencana lo akan menikah dengan Astri?"
"Baru juga jadian masa ia langsung nikah."
"Dari pada kelamaan nanti malah di tikung orang."
"Lo mendoakan jodoh gue di tikung?"
"Bercanda bro."
Kedua pria itu hanya berdua, karena Lingga dan Zian pasti sibuk dengan keluarga kecil mereka.
"Tinggal lah gue yang jomblo." ujar Andra.
"Tenang, masih ada Akmal." ucap Jimmy lalu tertawa lepas.
"Sialan lo, lo pikir gue cowok gak normal."
Sore berganti malam, seperti biasa Zian dan Melly di bantu ibu nya bergantian mengurus baby Adlan dan Adlina. Bahkan untuk makan sekali pun mereka harus bergantian dengan ibu nya.
"Istirahat lah mas, kamu sudah lelah bekerja sampai di rumah masih membantu ku mengurus Adlan dan Adlina." ujar Melly.
"Mereka anak-anak ku, wajar jika aku mengurus nya."
"Tapi kamu butuh istirahat mas, nanti kamu sakit."
__ADS_1
"Yang seharus nya istirahat itu kamu, aku tahu kamu lebih lelah dari aku saat mengurus kedua anak kita."
"Kan ada ibu yang bantu aku mas."
"Jangan merepotkan ibu sayang, beliau sudah tua dan seharus nya dia menikmati istirahat nya."
Melly hanya tersenyum mendengar ucapan suami nya, wanita itu bersyukur karena telah mendapatkan suami yang sangat baik dan mau menerima keluarga nya apa ada nya.
Gelap semakin menyapa malam, Zian masih sibuk mengurus baby Adlina yang sedang rewel. Zian menggendong anak nya dengan hati-hati untuk menidurkan anak nya yang tak kunjung tidur.
Tetes embun membasahi bumi, sudah pasti semua orang akan sibuk dengan aktifitas nya masing-masing. Begitu juga dengan Alin dan Lingga, meski hanya mengurus satu anak, namun mereka juga kewalahan mengurus Arsen yang sudah bisa berlari kesana kemari bahkan terkadang ia mengejek kedua orang tua nya.
Suara keributan terdengar jelas saat Alin dan Lingga keluar dari kamar, mereka seperti mendengar suara Mayang yang sedang beradu mulut dengan seorang wanita paruh baya.
"Katakan di mana anak ku?" ucap nya dengan nada tinggi.
"Kalian pasti tahu di mana anak ku, kalian pasti bohong." ucap wanita itu kembali.
Sementara di dalam rumah, Alin dan Lingga yang akan menghampiri Mayang tiba-tiba di halangi oleh Angga.
"Pah, mamah sedang ribut dengan siapa?" tanya Lingga.
"Sudahlah, sebaiknya kalian langsung ke meja makan." perintah Angga.
"Pah, Lingga mau lihat."
"Sudahlah, itu tidak penting." ujar Angga yang langsung mendorong Alin dan Lingga menuju meja makan.
"Panggil anak sialan mu itu." pinta wanita itu.
__ADS_1
"Tutup mulut kotor mu, anak ku pria baik-baik."
"Kalau anak mu pria baik-baik tidak mungkin anak ku menghilang seperti ini."
"Jangan ganggu anak ku lagi, Lingga sudah lama menikah bahkan sudah hampir lima tahun." tutur Mayang.
"Bohong, kau pasti bohong Mayang, anak kita menjalin hubungan sangat lama tidak mungkin Lingga menikah dengan wanita lain."
"Memang begitu nyata nya kau mau apa?"
"Cepat katakan, di mana anak ku." kini suara nya meninggi.
Di meja makan, Lingga yang akan beranjak dari meja makan langsung di halangi oleh Angga kembali.
"Pergi sana, pergi dari rumah ku." usir Mayang.
Mayang kemudian memanggil security rumah nya untuk mengusir wanita itu. Setelah di rasa aman, Mayang langsung bergabung di meja makan.
"Mamah ribut dengan siapa?" tanya Lingga penasaran.
"Gak penting, hanya teman arisan mamah." kilah Mayang.
"Jangan bohong mah."
"Untuk apa mamah bohong."
Lingga masih penasaran dengan tamu wanita pagi ini, pria itu merasa curiga jika orang tua nya sedang menutupi sebuah masalah dari nya.
"Siapa Wanita tua itu?" batin Lingga.
__ADS_1