Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
21.Melirik


__ADS_3

Dari kejauhan nampak seorang laki-laki tampan menatap Alin,Senyum tipis tergambar jelas dari wajah nya.


"Sudahlah, kalau Alin jodoh lo Tuhan tidak akan memisahkan kalian." ucap Andra menguatkan.


"Nyata nya Tuhan memisahkan gue dan dia begitu lama." lirih Lingga membuang nafas kasar.


"Jangan egois, mungkin ini adalah hukuman buat lo."


"Gue sangat tersiksa dengan hukuman ini."


"Sabar aja." ujar Andra.


Setelah melihat Alin masuk ke dalam kantor kakak nya Lingga dan Andra memilih untuk pergi kembali ke kantor nya.


Saat ini Alin sudah berada di dalam ruangan kakak nya dan di dalam ruangan tersebut terpajang foto keluarga mereka saat Alin masih kecil.


"Hari ini kakak sudah janji akan makan siang bersama Jimmy." ucap Zian kepada Alin.


"Dokter Jimmy kak? Yang dulu udah bantu Alin."


"Iya..kakak mau berterimakasih sama dia karena dia udah banyak bantu kakak."


"Alin juga mau berterimakasih kak."


Dengan antusias Alin memperhatikan cara kerja kakak nya, ia begitu salut karena kakak nya mampu bertahan hingga sekarang.


"Kenapa hemm?" tanya Zian yang melihat Alin sibuk menatap nya.


"Kakak kerja terus cari pasangan nya kapan?" tanya Alin.


"Kakak yakin tanpa harus mencari pun pasti Tuhan sudah menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kakak." Jawab Zian sambil beranjak dari duduk nya "Udah ah...bahas jodoh mulu, udah siang ayo kita kan ada janji."


Alin dan Zian kemudian pergi untuk makan siang bersama Jimmy.

__ADS_1


Mobil Zian sudah berhenti di salah satu reston,sejenak Alin menatap tempat itu tempat di mana saat ia bekerja dulu.


"Kamu kenapa?" tanya Zian yang melihat Alin terdiam.


"Alin pernah kerja di sini kak." Jawab Alin "Alin rindu tempat ini,Alin sangat senang kerja di sini karena Alin punya sahabat yang baik disini."


"Benar kah? Apa dia masih kerja di sini?"


"Entah lah kak sudah lama sekali Alin tidak bertemu dengan nya."


Akhirnya mereka masuk ke dalam restoran dan mereka langsung melihat Jimmy yang sudah datang menunggu mereka.


"Udah lama?" Sapa Zian sambil menepuk pundak Jimmy.


"Eh...lo Zian, Barusan aja."Balas Jimmy "Hi..Alin apa kabar?" Sapa Jimmy saat melihat Alin.


"Baik kak..kak Jimmy sendiri gimana?"


"Baik juga...ya udah sekarang kita pesan makanan dulu."


"Loh Alin." Sapa nya.


"Kak Melly." Balas Alin.


"Kamu kemana aja tiba-tiba hilang gak ada kabar?" tanya Melly.


"Panjang cerita nya kak." jawab Alin.


"Oh..ini hampir lupa silahkan pesan dulu makanannya." Ucap Melly "Hmm..Alin kamu kok bisa bareng si bos sih?" tanya Melly berbisik.


"Siapa?" tnya Alin singkat.


"Itu pak Zian pemilik restoran ini." ucap Melly

__ADS_1


Seketika Alin langsung menatap kakak nya.


"Kak...kenapa gak cerita sih kalau restoran ini milik kakak?" tanya Alin kesal.


"Kamu nya gak tanya." jawab Zian tersenyum nakal.


Akhir nya makanan yang di pesan pun datang,Alin masih kesal dengan kakak sedangkan Jimmy hanya bisa tersenyum melihat Alin yang merajuk.


"Gak usah marah." ucap Zian


"Habisnya kakak gak cerita tadi."


"Melly...." Panggil Zian.


Melly yang mendengar nama nya di panggil langsung menghampiri meja bos nya.


"Iya pak..ada yang bisa saya bantu?" tanya Melly.


"Kamu duduk di sini aja...temani Alin." pinta Zian sontak membuat Melly sedikit kaget.


"Aduuh...gimana ya pak saya gak enak." tolak Melly tidak enak.


"Duduk lah saya bos nya." Pinta Zian kembali "Kamu tenang aja Alin adalah Adik saya jadi gak usah sungkan bukan kah kalian berteman?''


Melly yang mendengar penuturan Zian semakin terkejut.


"Udah..biasa aja wajah nya." ucap Alin.


Mau tidak mau Melly bergabung dengan mereka.Sesekali Zian mencuri pandang melihat Melly.


"Cantik juga kalau dilihat dari dekat." Batin Zian.


Alin menangkap hal aneh dari kakak nya yang suka melirik Melly sedangkan yang di lirik hanya bisa tertunduk malu.

__ADS_1


Cukup lama mereka menghabiskan makan siang nya canda tawa terdengar dari gurauan mereka.


Sama seperti biasa dari kejauhan Lingga hanya bisa menatap Alin dari jauh.Kesabaran nya seakan di uji saat ini.


__ADS_2