Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
79.Arsenio Edzard Anggara


__ADS_3

Satu minggu berlalu, Zian dan Melly akhirnya pulang dari bulan madu mereka. Zian terlihat sangat bahagia, bahkan senyum nya selalu mengembang seperti adonan donat🍩


Sambil memantau persidangan yang di jalani keluarga Hendra, Zian hanya mewakilkan diri nya pada pengecara keluarga nya.


Zian sangat puas atas hukuman yang di jalani mereka, Hendra dan istri menerima hukuman lima belas tahun penjara sedangkan Jenie harus menjalani masa hukuman lebih lama yaitu dua puluh tahun penjara.


Beberapa bulan kemudian, Alin dan Lingga menjalani rumah tangga mereka dengan penuh kebahagiaan, di tambah lagi mereka sedang menantikan kelahiran anak pertama mereka.


Melly yang sudah mulai mengandung, kini usia kandungan nya baru memasuki bulan ke dua. Zian bahkan selalu nampak bahagia dengan keluarga kecil nya sekarang.


Pagi ini, Alin menjambak-jambak rambut suami nya, wanita itu terlihat gemetar menahan sakit di perut nya.


"Ayo mas....." teriak Alin " Aku sudah mau melahirkan."


"Sabar sayang jangan lahir dulu, papah pasang celana dulu." ujar Lingga sambil berganti pakaian.


Lingga menggendong istri nya, sambil berteriak memanggil seisi rumah. "Mamah papah....." teriak nya.


Mayang dan Angga yang mendengar teriakan Lingga langsung menghampiri anak nya.


"Alin kenapa?" tanya Mayang panik saat Lingga menggendong tubuh istri nya.


"Mau melahirkan mah masa mau berenang."

__ADS_1


Semua orang kalang kabut di buat Alin dan Lingga, bahkan Angga sendiri yang mengemudi mengantarkan anak dan menantu nya ke rumah sakit.


Dalam perjalanan, Alin tak henti-henti nya mencakar mencubit bahkan menjambak rambut suami nya.


"Aduh.....sakit sayang." rengek Lingga.


"kamu gak tahu kalau aku lebih sakit mas." jawab Alin "Kamu tahu enak nya aja, dasar laki."


Mayang dan Angga hanya terkekeh mendengar keributan kecil antara Lingga dan Alin. Rasa panik seakan hilang melihat kelakuan anak nya.


Tak berapa lama, mereka tiba di rumah sakit, Alin langsung mendapatkan penanganan langsung dari dokter. Zian dan Melly yang baru saja tiba langsung menghampiri Mayang dan Angga. Zian terlihat panik, pria itu ingin menerobos masuk untuk menemani adik nya.


"Maaf pak, anda tidak boleh masuk hanya suami pasien yang boleh menemani." ucap perawat.


Cukup lama, akhir nya terdengar suara tangis bayi laki-laki yang menggema di dalam ruangan hingga keluar. Lingga meneteskan air mata, mencium kening istri nya dan mengucapkan terimakasih.


Semua yang berada di luar ruangan bernafas lega juga mengucapkan syukur atas kelahiran anak yang selama ini mereka tunggu.


Lingga masih setia menemani istri nya,pria itu bahkan tak ingin beranjak sedetik pun dari sang istri. Lingga mengazankan anak nya dengan penuh haru.


Tak berapa lama, Alin dan anak nya di pindahkan ke ruang rawat VVIP dengan fasilitas yang sangat waw. Mayang dan Angga bahkan rebutan untuk menggendong cucu mereka begitu juga Zian dan Lingga.


"Siapa nama Ling?" tanya Zian sambil menggendong keponakan baru nya.

__ADS_1


"Arsenio Edzard Anggara." ujar Lingga.


"Nama yang bagus." ucap Mayang dan Angga.


Melly menghampiri suami nya yang sedang menggendong baby Arsen, "Walcome baby Arsen." ucap nya sambil mencium baby Arsen.


"Tidak sedikit pun mirip diri ku hiks hiks." ujar Alin.


Semua orang terkekeh termasuk Lingga "Kan bibit nya dari suami tampan mu ini sayang." sambil menepuk dada nya bangga.


Zian mendecih mengejek, "Bangga banget lo."


"Tentu, nanti anak lo juga bakal mirip ama lo."


Adu mulut pun terjadi, membuat Alin mulai jengah "Keluar lah kak." ucap Alin dengan malas "Kamu juga mas, kalian berisik aku butuh istirahat."


Seketika mereka terdiam, kemudian Angga menjewer ke dua telinga pria yang sedang beradu mulut itu.


"Istirahat lah sayang." ujar Mayang "kamu juga Mell, kamu sedang mengandung gak boleh capek-capek."


"Semoga anak kita kelakuan nya tidak seperti papah nya kak." ucap Alin


"Yah..mau bagaimana lagi, mereka ayah nya." ujar Melly.

__ADS_1


ketiga wanita itu tertawa kecil, namun tiba-tiba baby Arsen menangis. Dengan penuh kasih Alin mulai memberikan asi pertama untuk putra nya.


__ADS_2