
Pagi cerah dengan udara segar, Zian mengajak istri nya untuk jalan-jalan di taman dekat rumah nya. Zian senantiasa menggenggam tangan Melly, menuntun wanita dengan perut buncit itu sedikit berolahraga.
"Aku lelah." ucap Melly, kemudian Zian langsung menggendong istri nya ke bangku taman.
"Minumlah."
Melly meneguk air dalam botol hingga habis, Zian mengusap perut istri nya dengan sesekali mengajak perut itu bicara.
Dari sudut taman, seorang wanita menggeram kesal menahan emosi saat melihat kemesraan Zian dan Melly.
"Kalian bisa berbahagia di atas penderitaan ku." lirih wanita itu kemudian berlalu pergi.
Zian menggendong istri nya menuju mobil, mereka memilih pulang karena Zian tak tega saat melihat wajah lelah istri nya.
Sesampai nya di rumah, Zian menyiapkan air hangat untuk Melly, pria itu sangat telaten merewat istri nya yang sedang hamil besar.
Zian melihat kaki istri nya yang bengkak, ia langsung bergegas memijat pelan kaki Melly. Setelah merasa nyaman, barulah Zian menggendong istri nya kembali menuju kamar mandi. Lagi-lagi Melly di manjakan oleh suami dengan menyuapi makan.
"Kamu sangat memanjakan diri ku mas." ujar Melly membuka suara.
"Karena aku tahu, menjadi seorang ibu tak mudah."
"Tapi kamu juga butuh istirahat mas, libur kerja harus nya kamu berleha-leha tapi nyata nya kamu harus mengurus ku."
"Semua itu wajar, kamu istri ku dan sebentar lagi akan menjadi ibu dari anak-anak ku."
__ADS_1
Obrolan mereka terhenti saat buat Sita mengetuk pintu kamar, memberitahukan jika Alin dan Lingga baru saja tiba.
Zian dan Melly kemudian menghampiri Alin dan Lingga juga baby Arsen yang sudah berada di ruang keluarga.
"Heii.....keponakan om yang tampan." ujar Zian langsung mengambil alih Arsen.
"Gimana kabar kak Melly?" tanya Alin sambil mengusap perut buncit Melly.
"Baik-baik saja Lin, kakak mu sangat memanjakan kakak."
"Kakak memang suka gitu, dia pria yang sangat luar biasa." puji Alin.
"Suami mu ini juga pria luar biasa sayang." sambung Lingga.
Tanpa menghiraukan pembicaraan mereka, Zian lebih memilih bermain dengan keponakan nya yang sudah bisa mengoceh itu.
"Jadi gak sabar menanti kelahiran si kembar." ucap Zian sambil menciumi Arsen.
"Sama, Alin gak sabar menunggu kelahiran mereka, kira-kira mirip sama kak Zian gak ya?" sambung Alin.
"Tentu nya mirip aku, karena aku yang mengandung mereka."
"Pasti aku, karena aku papah nya sumber bibit nya." gurau Zian.
"Laki-laki mau nya menang sendiri." ujar Alin "Lihat Arsen, dia adalah fotocopy papah nya bahkan tak ada mirip nya dengan ku."
__ADS_1
"Wanita harus sadar diri, kami kaum pria adalah sumber benih terpercaya juga mumpuni." balas Lingga.
"Dan kalian kaum pria juga harus sadar diri, jika hamil dan melahirkan tak seenak menabur benih." ucap Melly ketus.
Zian dan Lingga hanya saling tatap kemudian mencibir kan sedikit bibir mereka. "Mengalah jauh lebih baik." ucap Zian pada Lingga.
"Benar, lo harus ingat jika istri salah harus kembali ke pasal satu." balas Lingga.
"Pasal apa?" tanya Zian bingung.
"Pasal satu, jika istri salah mereka tetap benar."
"Pasal apaan tu enak banget." ujar Zian dengan suara tinggi.
"Hei, kakak ipar ku.....pasal itu di buat sendiri oleh adik tercinta mu." jawab Lingga.
Zian menoleh ke arah adik nya, wajah nya berubah masam mengejek tidak terima. Namun Alin dan Melly tidak menggubris kekesalan Zian.
"Jangan menatap adik mu seperti itu kak." ujar Alin risih.
"Mau menang sendiri." ucap Zian pada adik nya.
"Memang harus begitu kenapa? tidak terima."
Zian menoleh ke arah istri nya, dengan mata yang hampir Keluar, Melly mencoba membela adik ipar nya itu. Hari ini mereka habiskan dengan bercanda juga saling bertukar cerita.
__ADS_1