
Alin memilih pulang bersama Lingga, sedangkan Zian membawa mobil sendiri begitu juga bu Sita dan Pak Danu. Alin terlihat santai duduk di dalam mobil Lingga, sedangkan pria itu sangat menegang dengan apa yang terjadi saat ini. Lingga melirik sekilas ke wajah istri nya dan hanya di balas dengan senyuman.
Lingga tidak berani membuka suara perihal perubahan Alin. Mobil melaju dengan kecepatan sedang menembus jalanan yang agak sepi karena sekarang masih pukul sebelas siang.
Mobil Lingga sudah berhenti tepat di depan rumah begitu juga Zian dan pak Danu, Lingga menatap lekat wajah istri nya lalu bertanya untuk memastikan apakah Alin mau di gendong suaminya itu. Sedangkan Zian pria itu sudah menyediakan terlebih dahulu kursi roda di depan pintu mobil.
Lingga keluar mobil dan membuka pintu mobil untuk Alin "Apa aku boleh menggendong mu lagi?" Tanya Lingga hati-hati.
Alin menatap wajah Lingga bergantian ke wajah kakak nya "Kata nya kamu suami ku kenapa masih bertanya pada ku." Ujar Alin sedikit ketus, wanita itu rasa nya ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajah bingung Lingga.
Lingga kemudian memindahkan Alin ke kursi roda " Aku bosan di kursi roda bisa kah mas Lingga menggendong ku sampai kamar." Pinta Alin membuat Lingga terperangah sedangkan Zian hanya tersenyum simpul melihat adik nya yang sedang mengerjai suaminya.
"Kenapa? tidak mau?" Ujar Alin memanyun kan bibir nya.
"Eehh....mau kok." Ucap Lingga langsung menyambar tubuh istri nya.
Lingga menggendong istri nya dengan hati-hati, pria tampan itu sedang berbunga-bunga hati nya saat ini. Senyum Lingga mengembang saat wajah nya dan Alin saling berdekatan membuat Alin salah tingkah sendiri.
"Jangan menatap ku terus perhatikan jalan." Ujar Alin sedikit gugup.
__ADS_1
"Sudah lama aku tidak memandang wajah istri ku sedekat ini." Ucap Lingga sambil menaiki anak tangga.
"Kenapa tidak lewat lift saja."
"Karena lewat tangga lebih romantis." Goda pria itu.
Alin hanya bisa menyembunyikan wajah nya di dada bidang milik suami nya. Sesampai nya di kamar Lingga langsung merebahkan tubuh istri nya.
"Istirahat lah aku mau bicara dengan kakak mu." Ujar Lingga sambil membenar kan posisi istri nya.
Alin hanya mengangguk menanggapi ucapan suami nya, setelah Lingga dan Zian keluar Alin tertawa geli mengingat kejadian hari ini.
"Gue juga tidak tahu." Jawab Zian berbohong padahal ia sudah tahu bahwa ingatan adik nya itu sudah pulih "Kenapa? apa lo gak suka sikap adik gue?" Tanya balik Zian dengan sorot mata tajam.
"Gue bahkan sangat bahagia." Ujar Lingga kembali meneguk minuman nya " Ngomong-ngomong kapan lo nikah sama Melly?"
"Belum tahu.." Ujar Zian kemudian bersandar pada pintu kulkas " Gue mau lihat adik gue bahagia dulu."
Lingga hanya menatap ke arah wajah kakak ipar nya itu " Gue janji sama lo." Ucap nya tegas.
__ADS_1
"Besok lusa jadwal terapi Alin semoga Alin mau di temani sama lo." Ujar Zian berlalu pergi.
"Mau kemana lo?" Tanya Lingga sedikit berteriak.
"Balik ke kantor." Jawab Zian sambil melambaikan tangan " Lo jaga Alin." Sambung nya.
Lingga kemudian kembali ke kamar istri nya, ia melihat Alin masih dengan posisi semula.
"Kenapa gak istirahat?" Tanya Lingga menghampiri Alin.
"Aku sangat bosan mas bisakah kamu mengajak ku jalan-jalan aku ingin makan di yang segar-segar." Ujar Alin.
Bukan mengiyakan permintaan istri nya Lingga justru bertanya kepada Alin " Apa kamu tidak membenci ku?" Tanya Lingga yang sedikit mengangkat alis nya.
Alin yang mendapatkan pertanyaan itu merasa gugup, karna ia tidak tahu mau jawab apa "Bukan nya kamu mau jadi suami yang baik jadi aku memberi mu kesempatan kalau gak mau ya udah." Ujar Alin sedikit merajuk, wanita itu berharap suami nya mempercayai ucapan nya.
"Iya...iya...aku mau kok, maafkan mas mu ini." Ujar Lingga dengan senyum langsung memindahkan istri nya ke kursi roda.
Siang ini, Lingga mengajak Alin untuk jalan-jalan kemana pun yang di inginkan istri nya bahkan Lingga tidak malu saat mendorong kursi roda Alin, sesekali pria itu mengusap lembut rambut istri nya. Perasaan Lingga hari ini sangat bahagia, Lingga dan Alin selalu menjadi pusat perhatian semua orang yang melihat keromantisan mereka.
__ADS_1