
"Kalian ini kenapa baru pulang?" tanya Mayang lalu mengambil alih Arsen.
"Tanya sama Alin." jawab Lingga.
"Hehe....Alin betah di sana mah." ucap nya terkekeh.
Alin yang merasa bersalah langsung masuk kedalam kamar, tak lupa di susul suami nya.
"Kan mamah dah marah." ujar Lingga.
"Iya, aku tahu aku salah." ucap Alin.
"Sayang, bagaimana jika kita menambah satu anak lagi." ujar Lingga merayu.
"Hmmmm....doa aja semoga cepat di kasih lagi."
Lingga kegirangan, ia kemudian masuk ke kamar mandi namun kalah cepat oleh Alin. Suami istri tersebut saat ini sedang rebutan kamar mandi.
"Aku dulu mas." ucap Alin.
"Kan mas dulu yang masuk."
"Sama istri ngalah mas."
"Kamu yang harus ngalah sama suami."
"Aku gak mau tahu, aku dulu mandi."
__ADS_1
"Ya udah gak usah ribut, kita mandi berdua aja." ujar Lingga tersenyum licik
Alin menatap tajam suami nya, "Jika mandi berdua dengan mu sudah pasti akan memakan waktu dan aku tidak mau."
"Ayo lah sayang." bujuk Lingga.
Dengan secepat kilat Alin langsung masuk dan mengunci pintu, wanita itu bahkan tertawa puas melihat kekalahan suami nya.
"Sayang kamu sangat curang." teriak Lingga.
"Sudah ku bilang jika dengan istri itu harus mengalah." balas Alin.
Alin menggerutu kesal, pria itu kemudian memilih mandi di kamar anak nya yang berada tepat di samping kamar mereka.
"Lihatlah Adlan mas, dia tersenyum." ujar Melly.
"Dia sangat mirip dengan ku." ucap Raka sontak mendapatkan tatapan tajam setajam omongan tetangga.
"Dia anak ku." ucap Zian datar.
"Dan dia keponakan ku." balas Raka.
Melly dan ibu nya hanya bisa tertawa tiap kali melihat perdebatan Zian dan Raka, kedua pria yang berbeda umur itu selalu memamerkan ketampanan mereka.
"Sebaika nya kamu belajar sana." perintah Zian.
"Nanti aja." balas Raka.
__ADS_1
"Raka, jika kamu bilang belajar nya nanti kapan kamu akan jadi pemimpin di salah satu usaha ku." ujar Zian membuat Melly, Raka dan ibu nya ternganga.
"Apa Raka gak salah dengar kak?"
"Apa nya yang salah, kamu akan kakak tempat kan di salah satu hotel milik kelurga AnantaNurgara jadi mulai sekarang belajar lah tentang bisnis. Karena apa guna nya kakak memasukan mu kuliah di tempat yang mahal itu." tutur Zian.
"Zian, apa itu tidak berlebihan nak?"tanya Marwah.
"Tidak bu, ibu gak usah khawatir."
"Ibu dan Melly menjadi tidak enak dengan adik mu Alin."
"Ibu tenang saja, semua nya sudah aku bicara kan dengan Alin, dan dia hanya tahu beres nya saja bu."
"Tapi ini terlalu berlebihan mas." sambung Melly.
"Raka aja bisa kuliah sudah bersyukur kak."
"Sudahlah Raka, kamu anak yang pintar, sangat di sayangkan jika kepintaran mu itu tidak di kembangkan."
"Raka gak pernah bayangin hidup Raka bisa berubah kak." ucap nya dengan mata berkaca-kaca. "Dulu gak ada yang mau berteman sama Raka, tapi sekarang sejak kak Zian mengajak Raka masuk kedalam keluarga kakak semua mendekat."
"Sudahlah, ini pelajaran untuk mu, jika mau berteman harus di pilih dulu agar kamu tal terjerumus ke dalam lubang hitam." nasehat Zian.
"Terimakasih untuk semua nya kak." ucap Raka tulus.
Marwah meneteskan air mata bahagia saat melihat kedua anak nya bahagia, wanita paruh baya itu Sekaran bisa bernafas lega sejak kematian suami nya.
__ADS_1