
Malam ini Lingga pulang ke rumah orangtua nya karena selama ini ia tinggal sendiri di rumah yang dulu Lingga tempati bersama Alin.Wajah tak bersemangat nampak terlihat dari lelaki tampan itu tubuh nya sedikit kurus namun tidak mengurangi sedikit pun ketampanan nya.
"Kenapa?" tanya Mayang.
"Kenapa hukuman ini begitu berat mah?" ucap Lingga,mata nya sedikit berkaca-kaca.
"Sabarlah, Tuhan tidak menguji hamba nya di luar batas kemampuan umat nya." Sambung Angga papah Lingga.
"Lingga hanya bisa melihat Alin dari jauh, ingin rasa nya Lingga berlutut untuk meminta maaf kepada Alin."
"Kenapa kamu tidak mencoba untuk menemui Alin biar bagaimana pun dia masih sah istri mu." ucap Mayang.
"Lingga ingin nya seperti itu mah, tapi Zian pasti akan menghalangi nya."
"Kamu suami sah nya dan kamu masih berhak atas istri mu." Ucap Mayang yang mulai kesal " Mamah dan papah membesarkan mu bukan untuk menjadi laki-laki yang lemah dan tidak bertanggung jawab."
"Tapi,karena Lingga lah Alin hampir kehilangan nyawa nya waktu itu." Ucap Lingga sambil mengacak rambut nya frustasi.
"Sudahlah, ini kesalahan mu dan seharus nya kamu sendiri yang menyelesaikan nya." Ucap Angga.
Merasa kesal dengan ke dua orang tua nya Lingga memilih untuk pergi, kali ini tekat nya sudah bulat Lingga mengemudikan mobil nya menuju kediaman Nugraha.
Sesampai nya di halaman rumah Nugraha, Lingga merasa gugup namun itu tidak menghalangi niat nya.
Lingga memencet bel yang ada di samping pintu dan tak lama Bu Sita datang membuka kan pintu kemudian mempersilahkan Lingga untuk masuk.
"Siapa yang datang Bu?" tanya Zian kepada pembantu nya.
__ADS_1
"Nak Lingga yang datang." Jawab Bu Sita.
Zian kemudian menutup buku yang baru ia baca dan menuju ruang tamu di mana Lingga berada saat ini.
Tatapan kemarahan masih terlihat jelas dari wajah Zian, ia tidak terima dengan perlakuan Lingga dulu kepada adik nya.
Bukan nya menyambut kedatangan adik ipar nya Zian malam menarik tangan Lingga menuju ke luar rumah.
"Mau apa lo?" tanya Zian datar.
"Izinkan gue bertemu Alin." Pinta Lingga.
"Bertemu..untuk apa? apa kurang puas lo nyakitin adik gue?"
"Gue mohon Zian ...biar bagaimana pun Alin masih sah istri gue, dan gue mau minta maaf sama dia apa salah nya?"
"Gue gak mau, please kasih gue kesempatan buat bahagiain Alin." Pinta Lingga.
"Terserah lo...lebih baik sekarang lo pergi dari rumah gue."
"Zian...gue mohon sama lo, gue mau minta maaf sama Alin." Lingga sedikit meninggikan suara nya karena Zian memilih masuk ke dalam rumah nya.
"Aaaahhh....sialan...!" Umpat Lingga sambil menendang ban mobil nya.
Lingga merasa kesal karena tidak bisa bertemu dengan Alin, Akhir nya ia memilih untuk bertemu dengan ke dua sahabat nya Andra dan Jimmy.
Lingga mengemudi dengan cepat ia tidak peduli dengan keselamatan nya sesekali Lingga memukul stir mobil milik nya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama akhir nya Lingga sudah tiba di sebuah cafe yang biasa mereka berkumpul.
"Kenapa wajah lo? tanya Andra.
"Gue habis dari rumah Zian." jawab Lingga datar
"Apa yang lo dapat." tanya Jimmy.
"Zian tidak mengizinkan gue untuk bertemu Alin."
"Itu udah pasti..lo kan tahu sifat Zian gimana." Sambung Andra.
"Maafkan gue, waktu itu gak ngasih tahu lo keberadaan Alin gue kasihan melihat Zian yang hampir gila melihat keadaan Alin kalian tahu sendiri Zian baru ketemu dengan adik nya dengan keadaan seperti itu." Jelas Jimmy.
"Gue ngerti kok." ucap Lingga "Tapi Zian akan mengurus perceraian gue sama Alin secepat nya dan gue gak mau itu terjadi."
"Apa?" tanya Andra dan Jimmy bersama.
"Apa yang gue lakukan selama dua tahun belakang akan sia-sia saja." Lingga mengusap wajah nya.
"Jangan menyerah..gue akan selalu bantu lo." Ucap Andra.
"Gue emang gak pantas buat di maafin." ucap Lingga kembali.
"Sabar Ling..gue akan coba ngomong sama Zian."
"Terimakasih, kalian emang sahabat baik gue."
__ADS_1
Malam semakin larut namun Lingga enggan beranjak begitu juga Andra dan Jimmy mereka mencoba untuk menghibur sahabat nya itu.