
Sudah dua hari Alin terbaring lemah di rumah sakit, Lingga tetap setia menjaga Alin. Zian dan Melly yang baru saja datang langsung menghampiri Alin yang masih belum sadar.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Zian sembari mengusap lembut rambut Alin.
"Masih sama." jawab Lingga singkat dengan wajah lesu nya.
"Lo tahu ulah siapa ini?" tanya Zian yang menatap ke arah Lingga.
Lingga langsung menatap Zian "Siapa?" tanya Lingga balik. Wajah nya memerah, menahan esmosi.
"Alana..." ujar Zian geram "Wanita ular itu yang menabrak Alin."
Lingga yang posisi nya dudui kemudian langsung berdiri "Apa lo yakin?" Lingga tidak percaya.
"Gue udah nyuruh orang-orang gue untuk ngecek cctv yang ada di sekitar tempat Alin tertabrak hasil nya jelas mobil hitam dengan nomor plat yang sama dengan mobil Alana saat di selidiki."
"Gue harus buat perhitungan." Lingga emosi, ia ingin menemui Alana namun langkahnya terhenti saat Alin mulai menggerakkan tangan nya.
"Alin udah sadar." ucap Melly, membuat dua laki-laki yang penuh emosi itu kembali menghampiri Alin.
"Sayang, kamu udah sadar." ujar Lingga saat melihat Alin mulai membuka mata nya.
Alin mengedarkan pandangan nya ke seluruh ruangan.Namun pandangan nya terhenti saat ia melihat ke arah Lingga yang berada tepat di samping nya.
"Pergi kamu..." teriak Alin ketakutan, wajah nya menandakan jika wanita itu sedang ketakutan.
Lingga, Zian dan Melly saling tatap tidak mengerti.
"Pergi kamu..." ucap nya kembali " Kamu jahat...kamu laki-laki jahat." teriak nya kembali histeris.
Zian dan Lingga langsung menenangkan Alin.
"Kak...usir dia...dia jahat..dia menyiksa ku." ujar Alin sambil terisak.
__ADS_1
Tak lama kemudian Dokter Rasya datang untuk mengecek keadaan Alin.
"Pasien mengalami amnesia atau kehilangan ingatan nya." Dokter Rasya memberitahu.
"Tapi dia masih mengingat saya." ujar Zian tidak mengerti.
"Alin mengalami Amnesia Anterograde yang arti nya pasien hanya mengingat kejadian di masa lalu saja. Kondisi ini dapat terjadi ketika area otak yang di sebut Hippocampus mengalami kerusakan. Dan amnesia ini bisa bersifat sementara atau pun permanen." Jelas Dokter Rasya.
Lingga dan Zian hanya bisa terdiam lemas mendengar penjelasan Dokter Rasya.Sedangkan Alin yang mulai tenang kembali histeris saat melihat Lingga.
"Pergi kamu...pergi....kamu jahat kamu suami yang jahat." teriak Alin histeris.
"Maafkan aku sayang..." lirih Lingga menenangkan "Aku suami mu kenapa kamu seperti ini?" tangis Lingga pun pecah melihat keadaan istrinya.
"Pergi...pergi....." teriak nya lagi.
Mau tidak mau Lingga keluar dari ruangan Alin, Zian yang melihat keadaan adik nya saat ini hati nya begitu hancur.
"Biar aku yang menenangkan Alin, pergilah susul Lingga dia butuh teman saat ini." ucap Melly.
"Hukuman apalagi yang gue dapat?" ujar Lingga dengan air mata yang masih menetes.
"Gue juga gak nyangka kalau Alin sampai separah ini." Zian membuang nafas kasar.
"Gue bahkan belum sempat membuat nya bahagia tapi cobaan ini sudah datang lagi." ucap Lingga yang terduduk lemas di rerumputan. Laki-laki tampan itu bahkan tidak perduli dengan tatapan orang di sekitar.
"Bangun Ling...jangan seperti ini Alin butuh kita butuh lo buat sembuh."
"Gue harus buat perhitungan dengan Alana."
"Dia sudah berada di kantor polisi."
Lingga menghapus air mata nya dengan kasar, pria itu langsung bangkit dan pergi menuju kantor polisi.
__ADS_1
Sesampai nya di kantor polisi Lingga langsung bertemu dengan Alana, emosinya sudah tidak terkendali lagi bahkan beberapa polisi mencoba menenangkan kan Lingga.
Sedangkan Alana begitu takut luar biasa melihat kemarahan dari Lingga.
"Perempuan brengs*k...sialan lo...!" umpat Lingga emosi "Lo akan membusuk di penjara ini lo udah buat istri gue menderita."
Alana hanya tertunduk takut saat mendengar ucapan terakhir Lingga.Andra yang baru saja tiba di kantor polisi langsung membawa Lingga pergi.
"Jangan seperti ini lo harus sabar Lingga."
"Gimana gue mau sabar sekarang Alin membenci gue." ujar Lingga sambil mengacak rambut nya frustasi.
"Maksud lo gimana?" tanya Andra tidak mengerti.
"Alin mengalami amnesia dia hanya mengingat masa lalu nya saja." jawab Lingga sedih.
Andra hanya bisa menguatkan sahabat nya itu, Andra mengantar Lingga kembali ke rumah sakit.
Sesampai nya di rumah sakit Lingga tidak berani masuk ia hanya menatap Alin dari jendela kaca.
Di dalam ruangan Mayang dan Angga yang melihat Lingga dari jendela kaca langsung keluar menghampiri anak nya.
"Sabar nak..." Mayang menguatkan " Mamah sudah mendengar semua nya dari Zian."
Lingga menjatuhkan bobot tubuh nya di kursi, Angga hanya menepuk pundak anak nya memberi semangat.
"Alana pelakunya tante." ujar Andra memberitahu.
Mayang terkejut "perempuan itu " Ucap nya geram.
Zian kemudian keluar memberikan waktu untuk Melly agar bisa menenangkan Alin.
"Bagaimana?" Singkat Lingga.
__ADS_1
"Berdoa dan berusaha mungkin ini yang sebaiknya lo lakukan." ujar Zian.
Lingga hanya membuang nafas kasar niat nya ingin memperbaiki hubungan nya bersama Alin kembali di uji dengan cobaan yang lebih berat untuk Lingga.