Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
82.Tamat


__ADS_3

Ruang gelap dan hampa menemani seorang wanita yang sudah terikat di kursi tua yang masih kokoh menahan tubuh nya.


Akmal menyiram wajah nya, sontak membuat wanita itu bangun dengan tersedak.


"Bangun.." bentak Akmal.


Alana bangun, mengangkat wajah nya kemudian menatap tiga pria yang berdiri di depan nya. Alana memberontak, berusaha melepaskan ikatnya.


"Lepaskan gue." teriak Alana kencang.


Lingga menghampiri Alana, mantan yang pernah mengisi hidup nya dulu ya dulu tidak sekarang. "Hukuman apa yang kau minta?" tanya Lingga pelan.


"Lepasin gue Ling." pinta Alana.


Zian maju, menjambak rambut Alana, "Dapat keberanian dari mana, wanita murahan seperti lo untuk menghancurkan rumah tangga adik gue?" tanya Zian emosi.


"Gue mau kalian semua hancur terutama lo Lingga ." teriak Alana, membuat jambakan semakin kencang.


"Dasar wanita tidak tahu diri, gue menyesal pernah kenal sama lo." ucap Lingga.


Zian melepaskan rambut Alana, "Akmal, buang dia di kota yang paling terpencil." perintah Zian.


Zian dan Lingga kemudian pergi, menyisakan Alana yang sedang berteriak histeris, "Awas kalian brengs*k." umpat nya.


Kemudian beberapa anak buah Zian dan Lingga menyuntikan sesuatu ke dalam tubuh Alana, membuat tubuh wanita itu langsung terkulai lemas lalu tak sadarkan diri.


"Buang dia, ingat hilang semua jejak." perintah Akmal.

__ADS_1


Beberapa pria berpakaian hitam mulai melaksanakan perintah dari bos mereka.


Sejak kejadian yang membawa nama, Alin menjadi sosok yang pendiam bahkan ia tidak mau keluar rumah.


Alin tidur dengan memeluk baby Arsen, wajah nya menampakan kelelahan akibat kurang tidur. Lingga mengusap rambut istri nya kemudian beralih menatap buah hati nya yang masih tidur dengan lelap.


Lingga memilih membersihkan tubuh nya yang lengket, ia memilih berendam di air hangat yang ia sediakan sendiri.


Jam makan malam, semua orang sudah berkumpul di meja makan termasuk Alin.


Baby Arsen nampak senang berada di gendongan oma nya.


"Mamah jadi ingat Lingga masih bayi." ucap Mayang gemas.


"Apa mas Lingga nakal saat masih kecil mah?" tanya Alin.


"Lingga anak yang penurut, hanya saja....." ucap Angga terhenti.


"Hanya saja menyusahkan." sambung Angga tertawa membuat pria tua itu kesedak makanan yang ia makan.


"Nah, kan papah." dengan cekatan Alin mengambilkan minum untuk papah mertua nya.


Setelah selesai makan malam, mereka memilih berkumpul di ruang keluarga, Mayang yang mau lepas dari baby Arsen membuat Alin hanya berpangku tangan melihat mertua nya tersebut.


"Kalian harus segera membuatkan Arsen adik." ucap Mayang tiba-tiba.


Alin dan Lingga terperangah mendengar ucapan mamah nya, Alin bahkan belum sempat berpikir ke arah yang di ucapkan Mayang.

__ADS_1


"Papah ingin rumah ini harus ramai meski seperti pasar." sambung Angga.


Alin tertawa kikuk, ia tidak tahu harus bicara apa, sedangkan Lingga mengedipkan sebelah mata kepada istri nya membuat Alin sedikit jengah.


"Berhenti dengan tingkah mengelikan itu mas." ucap Alin membuat Lingga tak berhenti tertawa.


"Ada apa?" tanya Mayang kepada Alin.


"Mas Lingga seperti bayi mah." ucap Alin kesal.


Lingga menggelitiki pinggang istri nya, membuat Alin tak berhenti tertawa.


"Sudah." bentak Angga "Kalian hanya menankuti cucu ku saja." sambung nya saat mendengar baby Arsen yang mulai menangis.


Malam semakin panjang, mereka memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing. Alin menyusui baby Arsen agar bayi tampan ith bisa cepat terlelap.


"Terimakasih sudah menjadi istri ku." ucap Lingga yang memeluk Alin dari belakang "Terimakasih sudah menjadi ibu dari anak-anak ku, semoga bahagia ini selalu bersama kita hingga tua nanti."


Alin terharu mendengarkan kata-kata suami nya, "Terimakasih juga telah menjadikan aku ratu dalam hidup mu."


Semakin erat pelukan mereka, bahkan baby Arsen masih menikmati susu ibu nya, mata kecil itu kemudian terlelap dan di susul dengan kedua orang tua nya yang saling berpeluk erat.


π“πšπ¦πšπ­


π“π„π‘πˆπŒπ€πŠπ€π’πˆπ‡ 𝐒𝐔𝐃𝐀𝐇 πŒπ€πŒππˆπ‘ 𝐃𝐀𝐍 πŒπ„πŒππ€π‚π€ ππŽπ•π„π‹ "πˆπ’π“π‘πˆ π†π€πƒπ€πˆπ€π" πŒπŽπ‡πŽπ πŒπ€π€π… π‰πˆπŠπ€ 𝐀𝐃𝐀 πŠπ„π’π€π‹π€π‡π€π πƒπ€π‹π€πŒ π’π„π“πˆπ€π ππ„ππ”π‹πˆπ’π€π 𝐀𝐓𝐀𝐔 πŠπ€π“π€ π˜π€ππ† π“πˆπƒπ€πŠ ππ„π‘πŠπ„ππ€π πƒπˆ π‡π€π“πˆ 𝐏𝐀𝐑𝐀 ππ„πŒππ€π‚π€.


π’π„πŠπ€π‹πˆ π‹π€π†πˆ π“π„π‘πˆπŒπ€ πŠπ€π’πˆπ‡ 𝐃𝐀𝐍 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐋𝐔𝐏𝐀 π‹πˆπŠπ„, 𝐑𝐀𝐓𝐄,π‚πŽπŒπ„ππ“ 𝐀𝐍𝐃 π•πŽπ“π„ πŠπ€π‘π˜π€ πŽπ“πŽπ‘ 𝐍𝐈 𝐑.

__ADS_1


π’π€π‹π€πŒ 𝐇𝐀𝐍𝐆𝐀𝐓 πƒπ€π‘πˆ πŽπ“πŽπ‘ 𝐍𝐈 𝐑 𝐉𝐀𝐍𝐆𝐀𝐍 𝐋𝐔𝐏𝐀 πŒπ€πŒππˆπ‘ πƒπˆ πŠπ€π‘π˜π€ πŽπ“πŽπ‘ π˜π€ππ† π‹π€πˆπ ππ˜π€ 𝐉𝐔𝐆𝐀 π˜π€.


😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊😊


__ADS_2