
Hari pertama Jenie bekerja di kantor Zian, wanita itu melangkahkan kaki dengan mantap saat memasuki perusahan besar tersebut.
Jenie melihat ke sekeliling dengan senyum yang selalu mengembang "Sebentar lagi aku dan papah yang akan jadi bos di sini." Lirih Jenie "Dan kalian siap-siap jadi gelandangan yang terbuang." Sambung nya kembali.
"Nona Jenie." Sapa Akmal.
Jenie terlonjak "Astaga maaf."
"Anda sehat." Tanya Akmal.
"Sangat sehat." Jawab Jenie "Sialan dia pikir gue sakit jiwa kali." Umpat nya dalam hati.
"Mari ikut saya." Pinta Akmal.
Jenie mengikuti langkah kaki Akmal menuju ruangan Zian, Akmal mengetuk pintu kemudian masuk.
Zian, pria itu langsung merubah raut wajah nya mana kala melihat kedatangan Jeni. Tatapan tajam sangat menusuk membuat Jenie menjadi gusar.
"Tak akan ku biarkan kau merusak kebahagiaan adik ku." Batin Zian.
"Tuan." Tegur Akmal "Ini nona Jenie, sekretaris baru anda."
Jenie memperkenalkan diri nya, ia mulai grogi namun berusaha menguasai diri nya.
"Selamat bergabung di perusahan milik ku dan adik ku." Ujar Zian dengan penuh penekanan di kata adik ku.
Wajah Jenie menjadi pias, nyali nya menciut saat wajah Zian terlihat dingin bahkan sangat mengerikan menurut nya.
Dengan bantuan Akmal, Jenie sudah memulai pekerjaan nya.
__ADS_1
"Apa langkah selanjut nya tuan." Tanya Akmal.
"Dia wanita yang mudah goyah." Ujar Zian " Cari kelemahan nya dan selidiki masa lalu nya." Perintah Zian.
"Baik tuan."
Akmal berlalu pergi meninggalkan Zian yang sedang menyusun rencana.
Hari ini, Alin sangat malas untuk melakukan hal apa pun bahkan ia merengek saat suami nya akan berangkat kerja, sehingga membuat Lingga memilih untuk menemani istri nya yang sedang manja-manja nya.
"Sayang, ayo mandi ini sudah siang." Ajak Lingga.
"Jangan memaksa ku mas." Jawab Alin sambil memakan cemilan nya.
"Ya Tuhan." Keluh Lingga "Kenapa kamu jadi jorok begini?"
Lingga menggaruk kepala nya yang tidak gatal "Istri ku cantik sayang ku ayo mandi biar bersih dan wangi." Kilah Lingga.
Alin tertawa mendengar ucapan suami nya "Aku mau mandi jika mas membelikan ku martabak daging sapi." Pinta nya.
"Astaga sayang, yang ada cuma martabak telur dan bebek"
"Aku tidak peduli.."Ucap nya "Bagaimana pun cara nya mas harus bisa membawa pulang martabak daging sapi. Kalau gak, mas gak usah pulang sebelum mendapat kan nya."Rengek Alin "Demi anak Kita." Rayu nya.
Mau tidak mau Lingga menuruti permintaan istri nya, meski tengah malam hujan badai, pria itu rela melakukan apa pun asal ngidam istri nya terpenuhi.
"Mau kemana?" Tanya Mayang saat melihat anak nya berjalan keluar.
"Menantu kecintaan mamah ngidam nya aneh-aneh bingung aku." Keluh nya.
__ADS_1
"Memang nya Alin meminta apa?" Tanya Angga penasaran bahkan pria tua itu bertanya paling cepat dari istri nya.
"Martabak daging sapi." Jawab Lingga sontak membuat Mayang dan Angga tergelak tawa.
"Sudahlah, turuti saja sana memang nya kamu mau anak kamu ileran." Ujar Mayang sambil mendorong tubuh Lingga ke arah luar.
Mayang dan Angga tertawa kembali setelah Lingga pergi "Menantu mu seperti diri mu mah." Ujar Angga.
"Iya pah, kalau ngidam suka minta yang aneh-aneh."
Mereka tertawa kembali saat mengingat masa lalu mereka.
Tiga jam kemudian, Lingga pulang dengan membawa pesanan sang istri. Wajah lelah terlihat jelas namun apa daya demi istri dan anak ia rela menjadi gembel sekali pun.
Alin membuyar memeluk suami nya saat melihat Lingga membawa bungkusan "Apa ini pesanan ku mas?" Tanya Alin senang.
Lelah Lingga seketika hilang saat melihat istri nya senang dan bahagia "Iya sayang, makanlah selagi masih hangat." Ujar nya sambil mengusap rambut Alin.
"Tapi kok kamu bau mas?" Tanya Alin sambil mengendus tubuh suami nya.
Lingga membuang nafas kasar "Bagaimana tidak, aku membeli dulu daging sapi nya terus ikut meracik semua nya membantu penjual nya biar cepat." Jelas Lingga.
"Maaf kan Aku mas." Ucap Alin sedih.
"Tidak apa sayang, mas senang asal kamu bahagia."
Alin tersenyum bahagia "Mandilah nanti kita makan sama-sama."
Lingga kemudian pergi membersihkan diri nya, setelah selesai ia langsung menemani istri nya makan martabak daging sapi, bahkan pria itu dengan telaten menyuapi sang istri.
__ADS_1