Istri Gadaian Lingga

Istri Gadaian Lingga
96. Di Buang


__ADS_3

Dina berjalan menyusuri gudang besar tersebut, wanita paruh baya itu seakan tak ada takut nya sama sekali. Ia kemudian memanggil nama kedua anak buah nya namun tak ada jawaban. Dina berdiri tepat di depan pintu besi besar, wanita itu mencoba mengetuk dan kaget, pintu itu tiba-tiba terbuka secara otomatis.


Setalah Dina masuk, ia semakin kaget mendapati kedua anak buah nya yang duduk terikat di kursi. Wanita itu berusaha melepaskan ikatan anak buah nya namun sayang tak berhasil.


"Biar aku yang mengurus nya." ucap Zian pada Lingga.


"Baiklah."


Zian dan semua anak buah nya keluar dari ruangan tersembunyi mereka, membuat Dina yang semula berjongkok untuk melepaskan ikatan tali kini berdiri ketakutan.


"Siapa kau?" tanya Dina gugup.


"Siapa aku tak penting untuk mu, yang terpenting saat ini anda ingin menemui anak anda bukan?" tanya Zian dengan suara dingin nya.


"Katakan di mana anak ku?" tanya Dina kembali semakin gugup.


"Anak mu hampir membunuh adik ku, untung saja nyawa adik ku selamat tapi adik ku menderita karena perbuatan anak mu. Adik ku mengalami kelumpuhan yang lumayan lama saat itu." tutur Zian "Kenapa aku yang turun tangan? kenapa bukan Lingga? karena aku tak suka siapa pun merusak kebahagian adik ku."


"Jadi kemana anak ku? tanya Dina sekali lagi "Cepat katakan." teriak nya.


"Aku tidak membunuh nya, aku hanya menempatkan di mana seharusnya dia berada."

__ADS_1


"Jangan sentuh anak ku."


"Bius dia." perintah Zian.


Beberapa pria kekar berpakaian hitam menghampiri Dina, membuat wanita itu ketakutan. Anak buah Zian kemudian memegang tangan Dina, dan jelas saja ia memberontak minta lepaskan. Tubuh Dina mulai lemas saat anak buah Zian menyuntikan obat bius dengan daya kesadaran yang cukup lama.


"Kirim dia pada anak nya." perintah Zian lalu kembali menghampiri Lingga yang sedari tadi hanya menonton saja.


"Kenapa tak mengijinkan gue untuk bicara pada tante Dina?" tanya Lingga.


"Untuk apa? jangan mengotori tangan dan mulut lo untuk orang seperti dia."


Jauh di negara tetangga, setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh akhir nya Dina yang masih belum sadarkan diri di buang begitu saja di depan rumah kumuh. Desa itu sangat jauh dari pusat kota, bahkan mereka di buang di sebuah pulau kecil yang hanya memiliki jumlah empat desa saja.


Alana, wanita yang dulu cantik kini berubah dratis, wanita itu kurus dan berkulit sedikit gelap. Alana terkejut bukan main saat mendapati mamah nya tertidur tepat di depan pintu rumah nya.


Cukup lama, akhir nya Dina sadar "Di mana aku?" tanya nya sambil memegang kepala yang masih pusing.


Dina kemudian bangun dan memperhatikan tempat di sekeliling nya. Wanita kaget saat melihat anak nya yang dulu cantik kini sudah berubah.


"Apa yang mamah lakukan hingga mereka membuang mamah kesini?" tanya Alana tanpa menatap Dina.

__ADS_1


"Kita di mana?" tanya nya balik tanpa menjawab pertanyaan anak nya.


"Di tempat yang tak akan bisa kita keluar dengan mudah nya." jawab Alana.


"Kenapa kamu menjadi seperti ini?"


"Mereka membuang ku seperti sampah." ucap Alana kemudian menangis.


Dina kemudian memeluk anak nya, "Kenapa nasib kita menjadi seperti ini."


"Apa yang mamah lakukan pada mereka?" tanya Alana sekali lagi.


"Mamah menteror keluarga Lingga setiap hari, bahkan mamah membuat rusuh untuk menghancurkan mereka."


"Dan jelas saja, mereka akan membuang mamah sebagaimana mereka membuang Alana."


"Apa kita tak bisa keluar dari sini?"


Alana tersenyum masam, "Coba saja mah, bahkan kita ini berada di pulau paling terpencil bahkan aku sendiri tidak tahu kita berada di mana."


Dina kemudian menangis histeris, niat hati pulang ke dalam negeri untuk memanfaat kan uang anak nya malah ia sendiri yang di buang dan kucilkan sama seperti anak nya.

__ADS_1


__ADS_2