
Bulan ke tiga terakhir masa pemulihan, Alin sudah bisa berjalan sedikit-sedikit. Semua berkat Lingga yang dengan sabar dan telaten merawat istri nya.
Lingga menatap istri nya yang masih tidur, pria itu sudah rapi dengan setelan jas karena ia akan berangkat ke kantor.
"Sampai kapan kamu membohongi ku." Lirih pria yang sedang memakai jam tangan itu.
Lingga mengusap lembut wajah istri nya mencoba membangunkan wanita yang masih setia dengan mimpi nya.
"Bangunlah sudah siang." Ucap Lingga lembut.
Alin menggeliat meregangkan kedua tangan nya " Sudah pagi ternyata." Ujar Alin dengan suara malas nya.
"Gak ini masih subuh." Canda Lingga.
Alin memanyunkan bibir mungil nya "Mau kemana?" Tanya Alin ketus pura-pura tidak tahu.
"Kerja." Jawab Lingga.
"Pergilah." Ucap Alin kembali ketus membuat Lingga mengerutkan kedua alis nya "Kamu kenapa?" Tanya Lingga yang mencoba menggenggam tangan istri nya namun di tepis oleh Alin "Tidak, pergilah aku ingin sendiri." Pinta nya tiba-tiba sedih.
"Kamu kenapa? apa aku berbuat salah?" Tanya Lingga bingung.
"Tidak, pergilah mas bukan kah kamu mau kerja nanti terlambat." Ujar Alin sambil merebahkan diri nya kembali dan menarik selimut.
Lingga akhirnya memutuskan untuk berangkat kekantor, namun sebelum berangkat ia menelpon Melly untuk menemani Alin karena ia tahu kalau sekarang Alin sedang sedih meski ia tidak tahu sebab nya apa.
Melly menemui Alin yang berada di taman belakang, wanita cantik itu melihat wajah calon adik ipar nya sangat sedih.
"Kenapa?" Tanya Melly yang langsung duduk di kursi.
"Kak Mell..." Sapa nya singkat.
__ADS_1
"Kamu kenapa kok sedih?"
"Alin sedih kak, mas Lingga dan Kak Zian gak pernah peduli lagi sama Alin." Ucap Alin dengan mata berkaca-kaca.
"Maksud kamu gimana? kami semua sayang sama kamu."
"Bukti nya mereka hanya sibuk dengan pekerjaan gak pernah ngajak Alin jalan-jalan atau apa lah Alin hanya di rumah saja sendiri tiap hari kak dan itu membosankan." Ujar Alin dengan air mata yang mulai mengalir.
Melly hanya menarik nafas mendengar ucapan Alin, wanita itu paham dengan perasaan Alin sekarang. " Kakak tahu kamu bosan suntuk tapi kamu harus sabar."
"Apa gak ada waktu sehari saja buat temani Alin jalan-jalan apa mereka malu ngajak Alin yang hanya duduk di kursi roda?" Racau Alin, ia sudah tidak bisa membendung air matanya lagi.
Melly hanya bisa menguatkan Alin den memberi pengertian kepada Alin.
"Kakak gak kerja?" Tanya Alin sambil mengusap air mata nya.
"Kerja tapi kakak mampir dulu ke sini, sebenar nya resto kita di booking buat acara ulang tahun salah satu anak pengusaha di kota ini." Jelas Melly.
"Wah...hebat dong kak sebaik nya kakak pergi sekarang berikan pelayanan yang terbaik untuk pelanggan kita." Ucap Alin dengan penuh semangat.
Alin hanya mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Melly. Setelah melihat Alin mulai tenang Melly bergegas pergi namun ia tidak pergi ke resto melainkan pergi ke kantor Zian. Namun baru saja Melly melangkahkan kaki nya di loby ia tidak sengaja bertemu dengan Zian.
"Tumben...ada hal penting apa?" Tanya Zian kepada Melly.
"Sebaiknya kita bicara di cafe dekat sini itu pun kalau kamu gak sibuk." Ujar Melly.
Akhirnya mereka pergi ke cafe di sebrang kantor milik Zian.
"Kenapa hemm?" Tanya Zian lembut.
"Aku tadi mampir ke rumah sebentar karena Lingga meminta ku untuk menemani Alin."
__ADS_1
"Lantas?"
"Alin menangis dia merasa kalian udah gak peduli lagi sama dia."
"Maksud nya?" Tanya Zian tidak mengerti.
"Kamu dan Lingga sama-sama sibuk tidak pernah mengajak nya keluar untuk jalan-jalan atau melihat dunia luar, Alin merasa jenuh dan bosan bahkan dia menganggap kalian malu dengan keadaan nya." Jelas Melly.
Zian hanya tertunduk diam, pria itu menyadari kalau waktu untuk adik nya sangat kurang "Maafkan aku." Lirih nya sedangkan Melly hanya bisa mengerutkan kedua Alis nya "Kenapa minta maaf?" Tanya Melly bingung.
"Aku tidak punya waktu untuk kalian." Ucap nya mata elang Zian menatap wajah calon istri nya.
"Sudahlah yang penting sekarang kita harus punya waktu untuk Alin aku bisa memahami perasaan nya selama ini beberapa bulan belakangan ia dalam keadaan seperti itu." Ujar Melly pengertian "Kalau gitu aku pergi ke restoran dulu." Sambung nya.
Tinggal lah Zian sendiri, ia meminum coffe kemudian mengambil ponsel dan menelpon seseorang.
Zian menunggu kedatangan orang yang sudah di hubungi nya tadi.
"Ada apa?" Tanya pria yang baru datang.
"Tolong luangkan waktu untuk istri lo Ling." Jawab Zian.
"Melly baru saja menceritakan nya, Alin menganggap kita tidak peduli dengan nya bahkan dia menganggap kita malu dengan keadaan nya." Terang Zian membuat Lingga mengerti tentang kejadian tadi pagi.
"Gue bahkan tidak mengerti perasaan nya." Lirih Lingga.
"Bisakan kalau pekerjaan lo di handle oleh Andra." Pinta Zian.
"Gue akan usahakan."
"Sebaiknya lo pulang kasian Alin dia kan kewajiban lo kalau lo gak sanggup balikin ke gue kakak nya." Celoteh Zian yang membuat Lingga kesal.
__ADS_1
"Sialan lo iya....iya...." Umpat Zian.
Lingga berlalu pergi meninggalkan Zian, pria itu sedang kalut memikirkan perasaan istri nya dan akhirnya Lingga memutuskan untuk pulang.