
Hari ini Alin sudah di perbolehkan untuk pulang, Zian merasa lega karena keadaan adik nya semakin membaik. Sedangkan Lingga hanya bisa melihat pergerakan dari istri nya yang masih duduk kursi roda.
Zian mendorong kursi roda Alin dan Melly membawa barang-barang milik Alin, sedangkan Lingga, pria itu hanya bisa mengikuti langkah mereka dari belakang. Meski Alin sudah menerima kehadiran Lingga tapi ia belum mau berbicara dengan suami nya itu.
"Kak...kenapa dia selalu mengikuti kita?" Tanya Alin ketus.
"Dia kan suami mu wajarlah kalau dia selalu mengikuti mu." Jawab Zian sambil mendorong kursi roda.
"Tapi dia suami yang jahat." Ujar Alin sedih.
Lingga yang mendengar ucapan Alin hanya tertunduk, hati nya semakin sakit batin nya begitu tersiksa saat ini. Langkah gontai pria tampan itu terus mengikuti Alin dari belakang.
Setelah sampai di mobil, Alin dan Melly berada di mobil yang sama, sedangkan Lingga dan Zian berada di mobil milik Lingga.
"Kakak tidak satu mobil dengan ku?" Tanya Alin.
"Maafkan kakak Al...kakak ada perlu sama Lingga kamu gak papa kan pulang bareng pak Danu dan Melly?"
"Ya udah terserah kakak aja." Jawab Alin sambil memalingkan wajah.
"Jangan marah, kakak dan Lingga akan mengikuti mu dari belakang."
Alin hanya mengangguk mendengar ucapan kakak nya. Zian kemudian masuk kedalam mobil Lingga membuat Lingga sedikit bingung.
__ADS_1
"Lo gak bareng Alin?" Tanya Pria yang sedang memegang kemudi.
"Gak, udah ada Melly yang jaga." Ucap Zian "Gue tahu lo sedih mendengar ucapan Alin saat di lorong rumah sakit."
"Mau gimana lagi gue hanya bisa sabar." Ujar Lingga membuang nafas kasar.
"Gue harap lo bisa ngerti dengan keadaan Alin."
Akhirnya mobil pak Danu dan mobil Lingga sudah memasuki gerbang kediaman Nugraha. Zian langsung memindahkan Alin ke kursi roda dan langsung membawa Alin ke kamar nya.
Zian membaringkan Adik nya di atas tempat tidur, dengan penuh kasih sayang pria itu dengan telaten mengurus Alin.
"Kenapa dia ada di sini juga kak?" Tanya Alin yang melihat Lingga berdiri di ambang pintu.
"Jangan seperti itu dia masih suami mu." Ujar Zian.
Lingga langsung menatap tajam ke arah istri nya sedangkan Zian dan Melly hanya saling pandang. Dada Lingga seakan sesak mendengar ucapan istri nya dengan perasaan sedih Lingga pergi meninggalkan kamar Alin.
"Alin kakak tidak suka kamu bicara seperti itu baik buruk nya dia masih suami mu." Ucap Zian berlalu pergi.
Melly hanya bisa menenangkan Alin dan berusaha memberi pengertian kepada calon adik ipar nya.
Zian menatap Lingga yang sedang duduk menangkupkan kedua tangan nya di wajah, sebagai kakak ia sendiri bingung harus berbuat apa untuk memperbaiki rumah tangga adik nya.
__ADS_1
"Maaf kan sikap Alin Lingg." Ujar Zian sambil menepuk bahu Lingga.
"Gue mengerti, sakit hati yang gue rasa kan sekarang tidak sebanding dengan sakit yang Alin rasakan." Ucap Pria yang mengusap pipi basah nya.
"Alin hanya butuh waktu untuk semua ini bersabarlah." Ujar Zian menguatkan adik ipar nya.
Zian berlalu pergi meninggalkan Lingga sendiri, Pria itu kembali ke kamar adik nya untuk memastikan keadaan Alin saat ini.
Baru saja Zian ingin membuka pintu namun Melly terlebih dahulu keluar.
"Gimana?" Tanya Zian singkat.
"Tidur, sudah lah biarkan dia istirahat." Ujar Melly lalu mengajak Zian pergi.
Zian dan Melly kemudian menghampiri Lingga yang masih duduk di sofa ruang keluarga. Lingga nampak kusut mata yang masih merah menandakan Lingga masih menangisi nasib nya sekarang. Tubuh nya semakin kurus namun tidak menghilangkan ketampanan dari Lingga.
"Jangan seperti ini Ling...lihat lah diri mu sekarang semakin kurus dan tak terurus." Ujar Melly menatap Lingga.
"Hukuman ini terlalu sakit untuk ku." Ujar pria yang kembali meneteskan air mata.
"Bersabarlah semua ini hanya masalah waktu." Ucap Melly kembali.
" Jangan menangis seperti ini." Sambung Zian " Lo bukan Lingga yang gue kenal."
__ADS_1
"Sesakit ini kah yang di rasa kan Alin dulu?" Tanya Pria yang sedang menangis itu "Dulu aku sangat membenci nya sekarang dia yang membenci ku, Tuhan memang adil." Ucap Lingga.
Zian dan Melly hanya bisa saling pandang, bahkan mereka sendiri tidak tahu harus menjawab apa dengan ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Lingga.