
Trak
Bruk
Prang
Berbagai suara berisik menusuk telinga Valerie yang tengah tertidur nyenyak. Ia membuka mata dengan wajah masih mengantuk. Merasa terganggu akan suara itu, ekspresinya mengerut.
Valerie mendengar bahwa suara berbagai benda jatuh ke lantai itu berasal dari kamar mandi, lalu ia menoleh ke arah tempat tidur yang kosong, jelas bahwa Victor lah yang ada di kamar mandi.
Valerie yang masih mengantuk ingin melanjutkan tidurnya karena semalam ia tidak bisa tidur di sebabkan sofa yang sempit dan tidak nyaman. Namun, semakin lama suara berisik itu semakin keras.
Valerie mengerutkan kening. Dengan enggan, ia memakai sandal dan langsung melangkah menuju kamar mandi yang terbuka.
"Victor, kenapa sangat ber--ah! Ka-mu berdarah!"
Rasa kantuknya langsung menghilang di gantikan ekspresi terkejut dan panik melihat Victor yang berdiri di depan wastafel dengan pipi kanan yang tergores, berdarah.
Valerie bergegas mendekat dengan ekspresi cemas. "Kenapa pipimu berdarah? Apakah tergores?! Apa yang kamu lakukan sampai-sampai lukamu terbuka?!"
"Ayo! Aku akan memberimu obat!" Menyingkirkan rak besi dan tumpukan kaleng yang berserakan di lantai, Valerie langsung menarik lengan Victor tanpa sadar membuat pria itu menegang sesaat, namun tidak menolak sentuhannya.
Valerie membiarkan Victor duduk. Lalu ia mencari obat di laci. Setelahnya, ia membungkuk untuk melihat lukanya. Sedikit helaan nafas terdengar saat melihat lukanya tidak terlalu dalam, hanya saja kulit di permukaannya tergores.
"Pipi kananmu sedikit tergores, apakah akan menimbulkan bekas luka?" Valerie yakin bahwa luka itu tergores rak besi yang ia lewati tadi.
Valerie membungkuk dan sedikit lebih dekat membuat Victor dengan jelas mencium aroma vanilla darinya. Lalu ia berkata acuh tak acuh. "Lagipula aku tidak bisa melihatnya."
Valerie yang tengah cemas langsung tercengang. Ia menarik nafas pelan. "Aku akan mengobatinya."
Tanpa menunggu jawabannya, Valerie mengambil kapas dan dengan hati-hati menyeka darah di pipinya, setelahnya ia mengoleskannya dengan disinfektan.
Tatapan Valerie sedikit bergeser ke arah matanya yang berjarak dekat. Ia berbisik. "Apakah sakit?"
Seperti biasa, tidak ada jawaban. Namun, ia merasa otot-otot di wajah pria itu berkedut, dengan cepat Valerie mengurangi tekanannya dan meniupnya dengan lembut.
Wajah tenang Victor menegang, namun itu hanya sejenak.
Wajahnya pucat, bekas luka membuatnya tampak agak menyedihkan, gerakan Valerie menjadi lebih lembut.
"Apakah kamu benar-benar bisa mengobatinya?"
Pertanyaan dengan sedikit cibiran itu membuat gerakan Valerie berhenti. Ia menjadi kesal dan memelototi mata gelapnya yang tanpa fokus, mendengus. Ia merobek pasta hemostatik dan menerapkan langsung ke lukanya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak memanggilku untuk meminta bantuan?" tanya Valerie pelan.
Victor menoleh ke arahnya. Karena jaraknya sempit, aroma vanillanya semakin kuat di ujung hidungnya.
Valerie sedikit menjauh setelah tersadar akan jaraknya, entah kenapa pipinya sedikit panas. Walaupun dia tidak bisa melihat, tapi ia seolah-olah merasakan penglihatannya.
Bibir tipis Victor sedikit terangkat. "Aku sudah memanggilmu berkali-kali, namun sepertinya tidurmu sangat nyenyak hingga mendengkur keras."
Mata Valerie melotot tidak terima. "Ak-u tidak pernah mendengkur saat tidur.. kamu bohong.."
Matanya membulat saat ia baru menyadari bahwa tubuh ini berbeda darinya yang dulu. Orang yang bertubuh gemuk memang mudah mendengkur.
Aku harus menurunkan berat badan!
"Aku tidak bisa tidur tadi malam, jadi aku lebih banyak tidur." Valerie menoleh ke arah ranjang besar dan mengeluh. "Victor.. aku sangat ingin tidur di ranjang. Di sofa sangat tidak nyaman dan terlalu kecil. Selain itu, tidur di sana mempengaruhi kualitas tidurku."
Hanya ada dua kamar di bangunan kecil bergaya klasik ini. Satu kamar Victor, dan yang lainnya kamar Lucher. Valerie asli membenci Victor, tentu saja dia tidak merasa sudi tidur dengannya. Selama menikah, keduanya tidak pernah tidur di ranjang yang sama.
Suara Victor dingin. "Kamu ingin tidur di ranjangku?"
Tidak peduli dengan kemerahan di wajahnya, Valerie menatapnya kesal dan berkata lugas. "Kita adalah suami istri! Seharusnya kita berbagi tempat tidur!"
Victor mendengus. "Terserah. Tapi jika kamu mengganggu tidurku, aku akan mengusirmu dan membiarkanmu tidur di sofa kembali."
Victor tidak menanggapi.
Tok tok
"Tuan, Nyonya, sarapan sudah datang."
Suara seseorang menghentikan percakapan mereka.
"Masuk dan taruh di atas meja."
Valerie memandang seorang pemuda yang merupakan seorang pelayan. Tangannya gemetar dengan takut-takut. Huh, pasti dia takut pria ini.
"Selamat pagi, Ayah." Pria kecil tiba-tiba datang dengan kucing di pelukannya. Mereka tidak lain adalah Lucher dan Brownie.
Victor mengangguk.
"Ayah.. kenapa wajahmu.." Lucher memandang ayahnya cemas.
"Tergores," Victor acuh tak acuh.
__ADS_1
"Pasti sakit. Apakah sudah di obati?"
"Ya. Jangan pedulikan ini. Segera sarapan."
Lucher mengangguk patuh. "Oke."
"Selamat pagi, Lucher," sapa Valerie tersenyum hangat.
Lucher berkedip. Ia melirik ayahnya yang tanpa ekspresi. Dengan bibir sedikit mengerucut, ia menjawab enggan. "Pagi."
Valerie tersenyum lebar. Lalu ia meletakkan bubur yang sudah di siapkan di depan Lucher. "Makanlah agar tumbuh lebih besar."
Lucher membenamkan wajahnya di mangkuk untuk menyembunyikan wajah kecilnya yang memerah.
***
Pemandangan di kamar tidur utama di lantai dua vila merupakan pemandangan paling indah di kediaman Spare. Saat ini, seorang wanita cantik tengah menatap pemandangan itu dengan keadaan linglung.
"Ada apa denganmu? Apakah kamu tidak ingin aku pergi bekerja?" Seorang suami dari wanita itu--Javier, bertanya sembari tersenyum.
Nuella tersadar. Wajah putihnya sedikit memerah dan menggeleng menyangkal. "Tidak."
Nuella berjinjit untuk mengikat dasinya dan berkata lembut. "Bulan depan adalah ulang tahunmu. Hadiah apa yang kamu inginkan?"
Javier mencondongkan tubuhnya sedikit membuat Nuella mundur dengan waspada. Javier terkekeh melihat kewaspadaanya. Senyum di wajah tampannya membuatnya terlihat semakin menawan. "Aku hanya menunggu kejutan darimu."
Nuella mengangguk malu-malu. "Sudah selesai."
Javier mencium keningnya dan berkata lembut. "Aku pergi."
"Ya. Hati-hati."
Setelah pria itu pergi, senyum lembut di wajah Nuella berangsur-angsur hilang dan menatap tempat Javier pergi dengan tatapan tidak di mengerti.
Nuella melangkah dan membuka pintu kaca balkon kecil, lalu keluar. Pada saat ini, ia dengan jelas bisa melihat sebuah bangunan kecil bergaya klasik Eropa di belakang rumahnya yang merupakan tempat tinggalnya di kehidupan sebelumnya.
Halaman yang bertabur banyak bunga, kini gundul di penuhi banyak lumpur. Udara yang di penuhi bau lumpur membuatnya muak seolah mengingat kenangannya di kehidupan mengerikan itu.
Wajah putih cantiknya yang biasanya menunjukkan senyum lembut, kini tanpa ekspresi saat menatap tempat itu.
Mengingat semua kesuksesan dalam mencapai tujuan, bibir merah mudanya terangkat membentuk senyum miring.
"Bagaimanapun, di kehidupan ini, aku harus mendapatkan semuanya."
__ADS_1