
"Valerie!!"
..."Nilai marah: 30."...
Sakit kepala diiringi bel aneh terasa di kepalanya, ekspresi Valerie menegang. Nilai marahnya mencapai 30, mengapa pria ini begitu marah?
Mata gelap Victor menatap anjing di pelukan Valerie dengan tajam. "Memelihara anjing tidak di perbolehkan di sini."
"Tapi dia terluka. Jika aku membuangnya, anjing ini akan mati kelaparan." Valerie memeluk anjing itu erat. "Selain itu, aku menyukainya."
Victor mendengus dingin dengan mata semakin suram. "Aku tidak menginginkannya. Pikirkan sendiri bagaimana dia harus hidup tanpa tinggal di sini "
Victor langsung beranjak pergi sendiri.
Valerie menatap punggung dinginnya sampai menghilang. Kepalanya sakit, namun otaknya berputar. Mengapa Victor sangat tidak menyukai anjing ini? Jika dia memang tidak menyukai binatang kecil, maka Brownie tidak akan di pelihara di sini.
***
__ADS_1
Pada malam hari, Valerie telah membuat tempat sederhana untuk anjing itu beristirahat. Dan ia berpamitan dengan suara lucu. "Anjing kecil, aku akan tidur dahulu. Tidurlah yang nyenyak. Kamu bisa memanggilku jika butuh sesuatu."
Valerie sudah memberinya makan hingga wajah lesu anak anjing itu menghilang tanpa jejak. Ia juga sudah memandikannya sampai bersih. Setelah lega dan puas, Valerie kembali ke kamarnya.
Membuka pintu dengan santai, pandangan Valerie tertuju pada sosok yang berbaring di tempat tidur. Dia mengenakan piyama hitam, punggungnya menghadap ke arahnya, dan itu memancarkan aura dingin karena tidak ingin di dekati.
Sakit kepala dan dering di kepalanya sama sekali tidak berkurang apalagi berhenti, tentu saja tanpa menjelaskan, pria itu masih sangat marah. Valerie menghela nafas pelan dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Saat selesai dengan kegiatannya, Valerie keluar kamar mandi dan melihat bahwa posisi Victor sama sekali tidak bergerak seolah patung yang tertidur. Berjalan ke ranjang dengan langkah pelan, Valerie duduk di tepi tempat tidur.
"Bagaimana dengan anjing itu?" Victor memotong ucapan Valerie.
Valerie menelan kembali ucapannya yang akan di lontarkan dan berbisik pelan. "Dia di ruang kecil dekat dapur. Aku berjanji dia tidak akan mengganggumu."
Victor berbalik, mengambil bantal dan tiba-tiba melemparkannya ke arah Valerie. "Kamu tidur di sofa."
"Kenapa ....?" Valerie menatapnya tidak percaya. Ia memeluk batal itu dengan sedih. "Aku tidak ingin tidur di sofa. Di sana sangat sempit. Aku ...."
__ADS_1
Valerie belum selesai bicara, karena suaranya berhenti saat melihat Victor duduk tiba-tiba dan mengambil bantal miliknya sendiri. "Jika kamu tidak mau, makan aku sendiri yang akan pergi. Bagaimana pun, kamu tidak mematuhiku untuk mengusir anjing jelek itu, jangan pernah berpikir untuk bisa tidur denganku."
Sebelum Valerie berkata sesuatu, pria itu berjalan ke arah sofa dan berbaring kaku. Valerie menggigit bibirnya ringan dan diam.
Ruangan kembali sunyi. Di tempat tidur besar, Valerie bersandar di kepala ranjang menghadap ke arah sofa. Valerie tahu dia telah menutup mata, tapi ia tidak tahu apakah pria itu sudah tidur. Valerie berbaring dan perlahan meutup matanya. Sakit kepalanya membuat rasa kantuknya nyaris lenyap. Ia berpikir, jika Victor benar-benar tidak menyukai anak anjing itu, maka ia harus mengirim anjing ke pos penyelamatan hewan peliharaan.
Di malam yang dingin dan gelap, sinar bulan terhalang oleh awan hitam, dan di ruangan itu hanya ada lampu kuning hangat menyala di dalam dengan cahaya redup.
Victor membuka mata. Wajahnya tanpa ekspresi. Ketika dirinya berbaring di sofa, ia sangat menyesalinya. Mengapa dirinya harus merelakan tempat tidur dan berbaring di sofa seorang diri? Ia bukanlah tipe mengalah dalam sesuatu.
Selain itu ... Valerie sama sekali tidak membuat pergi anjing itu, apakah wanita itu sangat menyukainya sehingga melupakan dirinya sendiri? Di mata Valerie, apakah dirinya lebih buruk dari anak anjing jelek itu? Memikirkan ini, Victor hanya merasa dadanya sesak, dan matanya penuh permusuhan.
"Nilai marah: 35."
Di tempat tidur, Valerie yang bersiap memasuki alam mimpinya langsung membuka mata lebar. Sakit kepala semakin kuat, dan rasa kantuk lenyap sepenuhnya. Ia semakin tidak bisa tidur. Menatap Victor mendadak menjadi semakin marah?
Valerie bangun setengah berbaring dan menatap Victor di sofa. "Victor ...."
__ADS_1