
"Victor ...."
Victor langsung menyelanya. "Diam saja tidur. Jangan menyebutkan tentang anjing itu lagi, aku tidak mau mendengarnya. Aku tidak membunuhnya secara langsung, itu sudah sangat baik."
Valerie memijit pelipisnya dengan helaan nafas panjang. Suaranya yang rendah dan lembut sangat jelas di malam yang sunyi. "Jika kamu benar-benar tidak menyukai anjing itu, aku akan mengirimnya pergi setelah kakinya sudah sembuh. Jika membandingkan kamu dan anjing itu, mana mungkin aku bisa. Bagaimana mungkin itu tidak sebanding denganmu."
Walaupun Valerie merasa simpati dan menyukai anjing itu, tapi ia sangat memerhatikan perasaan Victor.
Sedangkan Victor menutup mata acuh tak acuh. Dia sangat membenci anjing, dan tidak ada yang lebih ia benci selain anjing. Seekor anjing dalam ingatannya telah mencuri sesuatu untuk makanannya, dan pada akhirnya ia bunuh ya sendiri. Lalu sekarang, anak anjing jelek datang ke rumah untuk mengambil Valerie darinya? Bagaimana mungkin ia diam saja?
Valerie tidak mendapatkan jawaban, dan ia membaringkan kembali badannya dan mencoba untuk menutup mata.
Di sofa, Victor membuka mata dengan ekspresi kurang menyenangkan. Ia tidak terbiasa tidur dengan tangan kosong. Apalagi tidak ada bau susu di hidungnya membuatnya tidak bisa tidur.
Victor membalikan tubuhnya ke samping. Karena jarak tertenth sofa dan tempat tidur, ia hanya bisa melihat lekukan bergelombang dari selimut tempat tidur besar di seberangnya. Ia mencibir dingin. Kenapa dia merasa menyedihkan karena perilakunya sendiri? jelas bahwa ia akan merasa lebih nyaman tidur di sana dengan memeluk Valerie.
Victor langsung duduk dan mengambil bantal. Lalu ia berjalan langsung ke tempat tidurnya. Siapa yang ingin tidur di sofa sempit itu?
Kepala Valerie masih sangat sakit, dan deringnya sangatlah mudah mengganggu. Ia hanya bisa menutup mata tanpa tertidur. Mendengar langkah kaki yang sangat, lalu diikuti sisi lain tentang yang tenggelam, tidak heran saat tiba-tiba sebuah lengan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Victor?" panggil Valerie dengan sedikit terkejut.
"Diam dan tidur," perintahnya rendah.
Dada Victor menempel di punggung Valerie, dan dagunya menempel di sisi lehernya, mencium aroma susu yang samar, alisnya yang mengerut langsung mengendur. Benar saja, ini adalah yang paling nyaman.
Valerie membuka matanya yang jernih. Mengabaikan teguran Victor untuk tidur, Valeri berbalik dan menatap pria itu. "Kamu masih marah ...."
"Aku benar-benar akan mengusirnya jika kakinya sudah sembuh." Valerie mengulurkan tangan meletakkan di pipinya. Bekas luka di telapak tangannya lebih sedikit kasar.
Gatal dan sedikit geli, tapi Victor tidak menyingkirkan tangannya. Ekspresi dinginnya mereda.
Valerie mendekat dan berinisiatif mencium dagunya. "Tolong, jangan marah ...."
Victor menunduk, orang di badannya berbicara lembut dengan mata bersinar dan berair menatapnya. Perasaan gelisah dan kesal di hatinya tiba-tiba saja menghilang.
"Kamu mempermainkanku?"
"... apa?" sahut Valerie bingung. Sebelum ia berpikir apa yang di maksud, sebuah jari mengangkat dagunya, lalu bibirnya di tekan bibir pria itu yang dingin, mata Valerie terbelalak.
__ADS_1
Sepasang mata basah secara tidak sengaja bertemu dengan mata gelap Victor, dan ia menemukan bahwa matanya sangat indah berkilauan.
"Nilai marah: 0."
Mata Valeri terbuka lebih lebar. Nafas hangat mengembus ke wajahnya. Dagunya masih di tahan oleh tangannya yang dingin. Valerie hanya merasa rasa ini berbeda dari sebelumnya. Tangan Valerie tanpa sadar menarik ujung pakaian Victor dengan erat, secara bertahap rona merah menyebar ke wajahnya yang putih.
Mata gelap Victor menatap Valerie lekat, ujung lidahnya bergerak seolah dia tengah mencicipi rmadu. Dalam jarak sedekat ini, ia bisa melihat matanya yang basah dengan ketidakberdayaan dan rasa malu. Jantungnya berdetak keras.
Sebelum ia menciumnya lebih dalam, Victor berhenti tiba-tiba dan berbisik rendah. "Valerie, apakah kamu malu?"
Valerie tertegun sejenak. Wajahnya memerah dengan nafas cukup cepat. Ia masih bisa merasakan semburan nafas panas, ujung jarinya menggenggam ujung pakaiannya erat, dan ia tidak sabar untuk menutupi dadanya yang di mana jantungnya berdetak keras seolah akan melompat.
Jari yang menggenggam dagu Valerie melonggar, namun itu berpindah ke atas untuk membelai bibir merahnya. Jari itu menekan lembut. "Ini sangat manis."
Victor berpikir, jika memakan ini setiap hari, mungkin dia akan melupakan kue favoritnya.
"Kamu!" Valerie tersedak dengan wajah tersipu. Suaranya kering dan bodoh. Ia memelototi orang di depannya. "Berhenti bicara! Cepatlah tidur!"
Valerie melepas genggaman pakaian Victor dan terbaring membalikkan badan memunggunginya. Dulu ia merasa ciuman itu menjijikkan, nyatanya ia tidak pernah menolak
__ADS_1
Victor memeluk orang itu dengan lengannya. "Aku tidak marah lagi padamu."
Valerie sudah tahu. Ia menikmati kehangatan pelukannya, wajahnya memerah dan tidak bisa menahan senyum.