
Pada saat ini, Valerie merasa sedih dan marah. Dulunya, ia wanita yang cantik. Bahkan ia bisa meredupkan cahaya model lainnya. Saingannya selalu minder akan dirinya. Namun sekarang? Ia tidak di sukai karena jelek.
Tiba-tiba Valerie membungkuk mencapai telinga Victor. Dengan suara mengeluh dan cemberut ia berkata. "Aku tidak jelek.."
Aroma Vanilla sudah tercium kuat di hidungnya, lalu detik berikutnya suara lembut menerpa telinganya. Mata Victor langsung terbuka, sangat gelap tanpa dasar. Luka di pipi kanannya memudar sedikit di bawah cahaya redup. "Aku buta, tapi aku tidak tuli."
Saat ia menikah dengan Valerie sebelumnya, banyak orang yang merasa kasihan padanya. Tunangannya yang cantik menikah dengan keponakannya, namun ia malah menikah dengan wanita gemuk dan jelek.
Ya, Nuella adalah tunangan Victor sebelumnya. Namun karena suatu insiden, mereka harus bertukar pasangan.
Valerie memelototinya dengan marah. Sangat jahat dan tidak berperasaan! Kenapa aku baru menyadari bahwa pria dingin ini sangat menyebalkan?!
"Aku memang jelek saat ini, tapi bukan berarti aku akan selamanya menjadi jelek." Memikirkan penurunan berat badannya yang drastis, suaranya semakin percaya diri. "Jika aku menurunkan berat badan serta merawat diri, aku akan cantik."
Victor mengangkat alis, suaranya sedingin Biasanya. "Tidak masalah. Aku buta, tapi aku senang aku buta." Setelah itu dia mulai menutup mata mengabaikan Valerie.
Valerie termangu. Dia buta, dan dia senang?
Dengan sedikit frustrasi, Valerie meletakan bantal di samping Victor. Lalu ia mulia menutup mata dengan nyaman. Kasurnya memang tidak empuk, tapi lebih baik dari pada tidur di sofa.
Ia kira, ia tidak bisa tidur karena ada seorang pria di sampingnya, tanpa di duga rasa kantuknya cepat datang. Valerie langsung terlelap selama waktu kurang dari delapan menit.
Rasa kantuk Victor selalu dangkal, dan ketika terjerat dengan hal-hal lembut, ia akan bangun. Pada saat ini, aroma susu samar-samar tercium. Di tengah malam, baunya lebih kuat, dan jelas bahwa aroma itu berasal dari wanita di sampingnya.
Tiba-tiba ia merasakan sesuatu menempel di dadanya dan memeluk pinggangnya. Tubuhnya menegang sejenak.
Valerie memeluknya erat dan membenamkan wajahnya di dadanya.
Victor langsung membuka matanya, sepasang mata gelap menghadap langit-langit tanpa fokus. Sejak pertama kali ia mencium aroma tubuh Valerie, ia mengakui bahwa ia sangat menyukainya. Hanya ia sendiri dan dokter yang biasanya merawat matanya yang tahu bahwa matanya selalu perih dari waktu ke waktu. Apalagi saat ia tertidur, Victor selalu terbangun karena kesakitan.
Tapi malam itu saat mencium aromanya, ia selalu tidur nyenyak sepanjang malam.
Victor menghela nafas sedikit. Ia mengulurkan tangan untuk melepas tangan lembut di pinggangnya, lalu ia mendorong kepalanya pelan yang g terkubur di dadanya, lalu berbalik membelakanginya.
Walaupun ia menyukai aromanya, bukan berarti menjadi alasan untuk memanfaatkannya.
***
Valerie merasa tidurnya saat ini merupakan tidur paling nyenyak sejak ia berada di kehidupan ini. Nyaman dan hangat.
Ia sudah bangun, tapi ia malas membuka mata. Valerie memeluk erat sesuatu untuk mencari kehangatan dan kenyamanan lebih.
Eh? Aku memeluk apa? Bukannya aku tidak mempunyai boneka besar di tempat ini?
Valerie terkejut. Dan dengan cepat membuka mata.
"Kenapa kamu tidak melepaskanku?" Suara malas dan magnetis pria itu terdengar jelas dari atas kepalanya. "Apakah kamu ingin meremukkan tubuhku?"
__ADS_1
Valerie mengangkat kepalanya mendongak. Matanya langsung berhadapan dengan rahang tegas yang terjalar sedikit bekas luka. Wajahnya langsung panas. Valerie baru menyadari bahwa lengannya bertumpu pada Victor, tubuh mereka menempel satu sama lain.
Dengan cepat, Valerie langsung melepas lengannya dan sedikit menjauh darinya. Wajahnya memerah malu. "A-ku.. aku tidak sengaja memelukmu.."
"Katamu, postur tidurmu baik tanpa menggangguku. Apakah dengan lengan dan kakimu menjeratku terbilang baik?"
Valerie sangat malu sehingga ingin bersembunyi darinya. Biasanya ia selalu memeluk boneka berubah besar saat tertidur, ia benar-benar menganggap Victor beruang besarnya tadi malam.
Valerie mencicit. "Aku tidak akan mengganggumu lagi lain kali."
Victor mendengus pelan. Ia beranjak dan berjalan ke kamar mandi setelah mengambil handuknya.
Valerie menatap belakang punggungnya. Sepertinya pria itu sudah tahu tata letak ruangan ini, buktinya dia tidak terlalu meraba-raba dan langsung tahu arahnya.
Walaupun Valerie malu karena memeluknya saat tidur, tapi ia tidak membencinya. Justru ia merasa sangat nyaman dan senang. Diam-diam ia mengabaikan janjinya dan akan melakukan kesalahan yang sama.
"Ayo kita peluk di saat tidur! Berpura-pura tidak tahu saja dan tidak sengaja." Valerie cekikikan.
***
Setelah menjalankan ritual paginya dan merawat setiap inci tubuhnya, Valerie mengambil timbangan. Satu malam berlalu, apakah kali ini ia akan turun berat badan?
Valerie melebarkan matanya, dengan gugup melihat angka di bagian atas timbangan. Masih 145 tanpa ada perubahan, Valerie menurunkan bahunya kecewa. Ia kira Tuhan akan memberinya jari emas untuk membuatnya kurus dan cantik.
Sebelum sarapan, Lucher datang ke ruangan untuk sarapan. Pria kecil itu duduk di bangku biasanya dengan Brownie di pelukannya. Lucher menatap ayahnya dan tersenyum mengais menampilkan gigi kecilnya. "Selamat pagi, Ayah."
"Apakah kamu tidak menyapaku?" Valerie bertanya sedih.
Lucher menatapnya sedikit malu. Ekspresinya tidak nyaman saat melihat wajah Valerie yang sedih. Wajah bulatnya sedikit memerah. "Selamat pagi.."
Sepertinya anak imut itu bingung harus memanggilnya apa, namun Valerie tidak mempermasalahkannya. Ia tersenyum lebar. "Pagi juga, Lucher."
Tanpa sadar Lucher menatap ayahnya. Wajah malunya menjadi bingung saat ia menemukan sesuatu. "Mengapa mata ayah seperti panda?"
Valerie menoleh ke arah Victor. Ia juga melihat lingkaran hitam di bawah matanya.
"Ada seekor tikus tadi malam dan membuatku tidak tidur nyenyak."
Lucher membulatkan mata besarnya. "Wow, benarkan?! Kalau begitu aku akan meminjamkan ayah Brownie untuk menangkap tikus itu!"
"Tikusnya sangat besar. Aku khawatir kucingmu tidak akan sanggup untuk menangkapnya."
Mata Lucher bersinar. "Aku yakin Brownie bisa menangkapnya! Aku bisa membantumu, Ayah!"
Victor tersenyum tipis. "Oke."
Bibir Valerie berkedut mendengar percakapan mereka. Ia menatap Victor jengkel. Pria yang sangat menyebalkan.
__ADS_1
Saat ini, seorang pelayan yang berbeda mengantarkan makanan. Tangannya gemetar parah seolah dia datang ke sini untuk di siksa, bukan mengantarkan sarapan. Pelayan sebelumnya sudah di pecat oleh Victor karena tidak membawa kue.
Valerie mengalihkan pandangannya ke Victor. Wajah pria itu tanpa ekspresi dan terlihat menakutkan, tidak heran pelayan itu tidak berani melihat ke atas.
"Tu-an.. maaf.. koki belum datang setelah mengambil cuti.. ja-di tidak ada kue hari ini.."
Suaranya sangat gemetar, tangannya yang memegang nampan sama-sama gemetar, seolah akan jatuh kapan saja.
Victor tidak menanggapi.
Valerie khawatir nampan itu akan jatuh. Ia segera berkata. "Oke. Kalau begitu letakan saja makanannya di atas meja."
Pelayan itu menatap Valerie terkejut, ada rasa terima kasih di matanya. Ia buru-buru menyebarkan makanan di atas meja, dan segera bergegas pergi.
"Kamu buatkan kuenya," titah Victor kepada Valerie dengan dingin.
Valerie mengulum senyum. Berniat menggodanya. "Apakah kue yang ku buatkan sebelumnya enak?"
Melihatnya diam, Valerie berpura-pura lesu. "Kamu tidak memujinya membuatku malas untuk--"
"Enak," potong Victor.
Lucher mengangkat kepalanya menatap Valerie dengan mata berbinar saat mendengar Valerie membuat kue. Ia menatap ayahnya. "Ayah.. aku juga menginginkan kue.."
"Katakan padanya."
Walaupun ia ingin memakannya, ia adalah lelaki kecil yang berprinsip. Lucher tidak mau memohon kepada Valerie yang masih ia anggap wanita jahat. Jadi ia hanya diam dengan sedikit kuyu.
Valerie mengangkat alis menatap wajah Lucher yang sedih. "Aku ingin mendengar permintaanmu, baru ku buatkan kuenya."
"Nilai marah: 5."
Bel berdering di kepalanya. Valerie menatap Victor tidak percaya. Ia hanya ingin Lucher memohon kepadanya dengan suara imut, kenapa dia malah marah?!
"Aku.. aku ingin kue. Maukah kamu membuatkannya untukku?"
Tanpa di duga suara Lucher yang imut benar-benar meminta dirinya untuk membuatkan kue. Keluhan Valerie lenyap walaupun kepalanya masih sakit.
Valerie tersenyum manis pada Lucher. "Oke. Aku akan membuatkannya hanya untukmu."
"Nilai marah: 10."
Valerie menatap Victor menggertakkan gigi. Ia tersenyum paksa. "Kamu juga! Aku akan membuatkan kue untuk kalian berdua masing-masing satu!"
"Nilai marah: 0."
Valerie berdiri dengan wajah jengkel. Dasar pria tukang merajuk.
__ADS_1