Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 33


__ADS_3

"Victor," panggil Valerie seraya mengetuk jendela mobilnya.


Jendela hitam itu langsung menurun menampilkan dua lelaki kecil dan dewasa.


"Kamu di sini!" Lucher tersenyum lebar. Namun, dalam sekejap senyumnya luntur di gantikan ekspresi sedih. "Kenapa kamu tidak pulang berhari-hari? Sekarang aku dan ayahku menjemputmu pulang."


Valerie merasa terhibur dengan ekspresinya yang lucu. Ia melirik Victor sekilas, dan bertanya kepada si kecil. "Kamu ingin membawaku pulang?"


"Ya!" Lucher mengangguk semangat. Matanya penuh harap.


Valerie memandang Victor dan berpura-pura sedih. "Aku tidak bisa pulang. Ayahmu tidak akan mengizinkannya."


"... hah? Benarkah?" Lucher menatap ayahnya ragu-ragu. "Ayah tidak mengizinkan?"


"Hm. Sebelumnya aku pergi bukan tanpa alasan. Namun, ayahmu sendiri yang mengusirku," bisik Valerie dengan bahu terkulai. Namun, ia tertawa dalam hati.


Mata besar Lucher melebar karena terkejut. Ia menatap ayahnya tidak percaya. "Ayah? Mengapa ayah mengusirnya? Apakah ayah tidak mau lagi memakan kue buatannya?"


Victor yang bergeming menolehkan wajah ke arah Valerie. "Aku menarik kembali kata-kataku. Sekarang, masuklah ke mobil."


"Tidak bisa." Valerie tidak mungkin pergi begitu saja di tengah kenyamanan keluarganya. Apalagi dia belum berpamitan. "Victor, aku masih merindukan orang tuaku, dan aku baru beberapa hari tinggal di rumah ini. Aku bukan peliharaanmu yang akan selalu mematuhi apa yang kamu inginkan. Aku masih ingin di sini. Sekarang, kamu bisa pergi. Aku akan pulang nanti."


Kedatangan Victor terlalu mengejutkan. Walaupun Valerie merindukan pria ini, namun ia tidak bisa pulang sekarang. Ia benar-benar masih merasa nyaman di rumahnya. Karena Victor menarik kata-katanya, Valerie bisa pulang ke sana. Hanya saja tidak hari ini.


Ekspresi Victor sangat dingin. Setelah diam beberapa detik, ia berkata. "Aku akan menemui orang tuamu."


Valerie terkejut. Bukan apa-apa dia menyuruhnya pria ini pergi walaupun ibunya meyuruhnya masuk, namun masalahnya ayahnya ada di rumah. Dan ia tahu bahwa ayahnya sangat tidak menyukai Victor.


"Jangan!" Valerie mencegah tanpa ragu.


Victor semakin suram. "Kalau begitu, kamu kembali pulang denganku."


"Aku masih ingin di sini." Valerie merasa bersalah.


"Nilai marah: 15."


Valerie terkejut. Kenapa pria ini begitu marah?


Victor mulai mengulurkan tangan membuka mobil seraya berkata. "Aku akan turun menemui ibu dan ayah mertuaku."


Valerie menahan pintu mobilnya. "Tolong, jangan sekarang. Aku akan pulang nanti. Jadi sekarang kamu kembali saja."

__ADS_1


"Kenapa kamu sangat menginginkanku pergi saat ini? Kamu mengusirku sebagai balasan karena aku mengusirmu sebelumnya?" Suara Victor terdengar dingin dan suram.


"Tidak." Valerie menarik nafas dalam-dalam. Kepalanya sangat sakit, di tambah kekeraskepalaan Victor saat ini membuatnya semakin pusing. "Kamu belum meminta maaf kepadaku, dan saat ini dengan seenaknya kamu menyuruhku kembali."


"Maafkan aku," ucap Victor langsung.


Valerie tercengang.


"Kenapa?" tanya Victor karena tidak mendengar suaranya. "Apakah tidak cukup? Aku mengatakannya sekali lagi, aku minta maaf karena telah mengusirmu hari itu. Kamu harus kembali sekarang."


"Tapi aku belum bisa...," ujar Valerie lembut.


"Valerie!!"


"Nilai marah: 20."


Kemarahan yang naik membuat kepala Valerie semakin sakit. Ia buru-buru berkata. "Jangan marah. Aku akan kembali besok, karena aku perlu membereskan barang-barangku di rumah ini."


Mendengar dering yang belum mereda, Valerie membujuknya dengan suara lembut. "Baiklah, Kamu boleh masuk menemui orang tuaku. Kebetulan aku membuat kue kesukaanmu saat ini. Jangan marah, oke?"


"Oke," balas Victor.


"Nilai marah: 0."


***


Di meja makan, suasana hangat dan harmonis sebelumnya benar-benar tidak ada saat ini. Udara seolah-olah membeku.


Ekspresi Jian terlihat marah dan tidak enak di pandang. Ia memelototi Victor. Wajah orang gila di depannya bahkan jelek dari sebelumnya, ada bintik-bintik merah samar-samar. Sangat tidak pantas untuk putrinya yang cantik!


Mata Jian beralih pada anak lelaki di sampingnya. Ia mendengar desas-desus anak itu adalah anak haram Victor. Jian semakin tidak nyaman!


Riana di sampingnya, walaupun terlihat biasa saja di permukaan, namun dalam hatinya sama-sama tidak nyaman saat melihat menantunya yang sangat tidak cocok dengan putrinya.


Riana menghela nafas. Walaupun begitu, putrinya terlihat senang dengan pria ini, dan ia tidak bisa melarang apapun. Mereka sudah resmi menikah sejak lama.


Jian adalah orang pertama yang memecah keheningan. "Untuk apa kau datang ke rumahku?"


Orang lain sangat takut dengan Victor, namun sepertinya Jian pengecualian. Dengan terang-terangan ia berkata tajam dan menunjukkan wajah tidak sukanya.


Tatapan Jian beralih pada Lucher dengan tajam. "Dengan berani kau membawa putramu ke sini? Apa maksudmu?"

__ADS_1


Putrinya menjadi ibu tiri dari anak yang tidak tahu asal-usulnya? Tentu saja Jian marah.


Lucher menyusut ketakutan.


"Aku akan menjemput Valeri untuk pulang," kata Victor santai. "Selain itu, aku ingin bertemu ibu dan ayah mertuaku."


Jian menatapnya jijik. Ia berkata tanpa ampun. "Jangan berkata siapa ayah mertuamu, aku tidak memiliki menantu sepertimu."


Valerie tidak menduga ayahnya akan bereaksi begitu marah. Apalagi ucapannya bisa saja menyakitinya. Namun saat melihat Victor yang tanpa ekspresi, namun tidak marah, Valerie merasa lega.


"Walaupun Anda tidak ingin memiliki menantu sepertiku, tapi aku sudah menjadi satu-satunya menantumu. Jadi, aku akan memanggilmu ayah." Victor berujar begitu santainya.


Jian sangat marah hingga wajahnya memerah. "Tidak tahu malu!"


"Ayah mertua." Victor tersenyum.


Jian menarik nafas dalam-dalam untuk menenangkan emosinya. Ia tidak mau melihat wajahnya saat ini. Jianberkata tajam. "Pulanglah! Putriku tidak akan pulang hari ini, aku akan menahannya beberapa hari."


"Valerie tidak pulang ke rumah beberapa hari, dan dia berjanji akan pulang besok."


Jian menatap Valerie yang terpojok antara perdebatan keduanya. "Kamu berjanji padanya?"


Valerie mengangguk kaku. "Ya."


Ekspresi Jian kembali suram saat beralih pada Victor. "Tidak! Aku sebagai ayahnya akan menahannya di sini! Dan dia akan pulang nanti!"


"Aku suaminya. Dan tanggung jawab putrimu Sudah milikku sepenuhnya."


Jian menggertakkan gigi. "Putriku sudah sangat lama tinggal di sana sejak menikah denganmu! Apakah kamu tidak bisa mengerti istrimu?! Dia masih merindukan kami sebagai orang tuanya!"


"Baiklah. Aku akan membiarkannya tinggal di sini beberapa hari lagi."


Ucapan Victor membuat terkejut mereka karena mengubah keputusannya begitu cepat dan mudah.


Tiba-tiba Victor mengambil ponsel dan menelepon seseorang. Setelah berkata beberapa kalimat, ia menutup teleponnya dengan santai.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Jian setelah beberapa detik memerhatikannya menelepon.


"Sebagai suaminya, aku akan ikut tinggal di sini bersamanya."


Urat-urat biru menonjol di leher dan pelipis Jian karena sangat marah. Sedangkan Valerie menatapnya tidak percaya. Victor akan tinggal di sini?

__ADS_1


***


Kakak², bantu like dan komen cerpen aku dong, hehe. Nanti aku kasih Double up hari ini<3


__ADS_2