
Di tengah malam, Valerie mengerutkan kening selama tidurnya. Ia merasa bibirnya lembab oleh sesuatu, dan bermimpi bibirnya itu di jilat beberapa kali oleh anak kucing. Tanpa sadar, Valerie memalingkan wajah, tetapi anak kucing itu semakin lengket dan terus menciumnya.
Perasaan itu semakin jelas. Terkadang ia di gigit membuatnya agak tersentak. Sangat menyebalkan. Kesadarannya berangsur-angsur sadar, ia mendorong makhluk itu dengan kesal.
Saat itu terdorong jauh dan tangannya menyentuh wajah. Hah? Wajah? Valerie membuka mata dengan lebar, Vi-ctor?!
Nyawanya langsung penuh, kekaburan di matanya memudar, begitupula rasa kantuknya. Valerie menatap pria di depan yang memeluk erat-erat. Kenapa ia di peluk? Di mana Lucher?
"Bagaimana kamu tidur di sini? Bukankah ...."
Victor memegang tangannya yang lembut dan mengencangkannya. Suara magnetisnya serak. "Sepertinya dia tidur sambil berjalan, dan dia tidur di samping ku."
"Benarkah?" Valerie berkedip bingung dan ragu-ragu. Ia merasa tidak mungkin dan menatap pria di depannya dengan curiga. "Kamu berohong?"
Victor tertawa rendah dan berkata blak-blakan. "Ya, aku berbohong. Aku memindahkannya agar aku bisa memelukmu untuk tidur."
Valerie terkejut. Lalu, ia teringat perasaan aneh di bibirnya. Apakah anak kucing selama mimpinya adalah Victor?
"Apakah ... apakah kamu menciumku?" tanya Valerie pelan untuk memastikan. Wajahnya agak memerah.
Ekspresi Victor tidak berubah. Ia menutup mata dan memeluk wanita di depannya erat. "Valerie, apakah kamu berpikir aku akan menciummu diam-diam? Sepertinya kamu telah bermimpi bahwa aku menciummu?"
Valerie tersipu. Ia menyentuh bibirnya, dan tidak lembab sama sekali. Wajahnya semakin memerah karena malu. "Tidak ... Aku tidak ingin ...."
"Kalau begitu, tidurlah kembali," titahnya. "Jika kamu ingin aku menciummu, kamu tidak perlu membuat alasan. Katakan saja langsung."
"Siapa yang ingin itu!" Valerie memelototinya dengan wajah memerah seperti apel matang.
Victor tersenyum. Ia mendekat dan mengecup sudut bibirnya. "Diam, dan tidur."
Mata Valerie terbelalak. "Kamu ... kamu tidak tahu malu!"
"Valerie ... apakah mulutmu perlu ku bungkam agar terdiam?"
Valerie langsung menutup mata ketakutan. "Aku tidur!"
Victor mengangkat sudut mulutnya dan mendekap semakin erat tubuh Valerie.
__ADS_1
***
"Mengapa aku tidur di sini?"
Valerie terbangun oleh suara itu. Saat membuka mata, ia melihat Lucher duduk dengan rambut berantakan. Wajahnya terlihat sedih dan kebingungan.
Lucher menemukan bahwa dirinya tidur di sisi yang jauh, sedangkan ayahnya tidur di tengah dan berpelukan dengan Valerie. Lucher tidak bahagia.
"Kamu berguling sendiri," kata Victor yang sudah bangun walaupun matanya masih tertutup.
"Hah? Berguling sendiri?" Lucher semakin bingung.
"Ya," jawab Victor tanpa rasa bersalah karena berbohong.
Lucher akhirnya mengangguk dengan polos. Valerie melirik pria dan menggelengkan kepala.
***
Sinar matahari terbit, lereng rerumputan di pagi hari berwarna hijau terang, dan rambut sebening kristal menggantung di rerumputan serta daun.
Saat ini Valerie tengah duduk dan memandang Victor yang sudah berpakaian rapi. Baju yang ia pakai adalah kemeja putih yang ia belikan sebagai hadiah ulang tahunnya. Terlihat sangat tampan jika mengabaikan bekas luka di wajahnya.
Victor langsung menggenggam pergelangan tangannya. Ia hanya merasa keberanian wanita ini semakin berani, tidak hanya menatap wajahnya, tetapi juga menyentuh. Mencium aroma susu darinya, bibirnya terangkat. "Sepertinya kamu masih linglung karena belum sepenuhnya bangun."
Valerie menarik tangannya dengan cemberut. Ini tidak mungkin ilusi, karena memang bekas lukanya menjadi semakin kecil.
Victor mengangkat kelopak matanya. Ia akan berkata lagi, tetapi ketika matanya menoleh ke suatu arah, Victor langsung tertegun karena melihat cahaya di depannya.
***
Di Sabtu sore, banyak orang yang sudah bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan lereng itu. Valerie menduga Lucher menyukai tempat ini, jadi ia mengajak Victor untuk tinggal satu hari lagi.
Sepanjang hari, mereka bermain dan memberi makan kambing, memancing ikan, memetik buah, mereka bersenang-senang, dan Lucher sahabat bahagia sehingga senyum di wajahnya tidak luntur-luntur.
Sudah hari Minggu ketika mereka kembali ke kediaman Spare. Saat turun dari mobil, kepala pelayan segera melihat mereka.
"Tuan, Nyonya, Anda sudah kembali." Dia mengikuti jejak mereka dan berkata malu. "Tuan Javier telah di pindahkan dari rumah sakit ke rumah ini untuk memulihkan diri. Lukanya sudah pulih dan cukup baik, khawatir tentang orang lain yang menyalahpahami kepergian Anda sebelumnya, Nyonya Tua berkata agar Anda segera mengunjunginya."
__ADS_1
Valerie mengerutkan kening. Apakah mereka menyalahkan dirinya dan Victor karena tidak mengunjungi Javier?
"Baiklah. Kita akan mengunjunginya. Lalu paman, bantu antarkan Lucher kembali ke rumah, dan tolong siapkan makan malam."
"Ya." Kepala pelayan segera menjawab dan pergi membawa Lucher.
"Jika kamu ingin melihat Javier, pergilah sendiri. Jangan libatkan aku." Lengannya di pegang oleh Valerie, dan ekspresi wajahnya menunjukkan sedikit kesedihan sehingga ia menarik tangannya.
"Mengapa? Keponakanmu terluka, dan kalian masih keluarga. Kita harus pergi menemuinya. Apalagi, itu adalah perintah ibumu."
"Heh, keluarga?" Victor menunjukkan ekspresi aneh dan senyum mengejek.
Valerie tidak bisa mengartikan ekspresinya. Ia tetap menariknya lengannya. "Ayo cepat. Meskipun kamu sangat enggan, tetapi kita harus tetap pergi sebagai kesopanan."
Dengan langkah berat Victor mengikutinya, dan ia mendengus dingin. "Ya, ya. Jangan gunakan alasan itu hanya untuk ingin menemuinya, dan sepertinya kamu sangat peduli padanya."
Sembari berjalan dan menariknya, Valerie menoleh dengan wajah tidak senang. "Apa yang kamu pikirkan? Aku juga sangat enggan untuk bertemu dengan pria itu. Lalu, jika aku memang peduli padanya, mungkin aku tidak akan pergi berjalan-jalan denganmu dan bersenang-senang, tetapi akan pergi ke rumah sakit untuk merawatnya."
Eskpresi Victor membaik, langkah beratnya meringan saat berjalan, tetapi di permukaan masih berpura-pura enggan. "Huh."
***
Kamar tidur utama di lantai dua adalah kamar terbaik dengan cahaya terang. Ruangannya sangat besar. Terlepas dari lokasi dan desainnya, itu sudah menunjukkan bahwa Lilik ruangan ini adalah Tuan dari keluarga Spare.
"Aku sudah mengupas jeruknya. Makanlah." Nuella mengulurkan tangan dan memberikan sepotong jeruk itu ke mulut Javier dan menghalangi pandangan pria itu ke layar komputer. Setelah jeruk itu masuk ke dalam mulutnya, Nuella berkata lembut. "Jangan terlalu banyak bekerja, kamu harus istirahat sebentar. Dokter mengatakan agar kamu tidak bekerja terlalu keras."
"Jika aku istirahat terlalu banyak, dokumen akan semakin menumpuk. Aku akan menanganinya secepat mungkin."
"Baiklah, baiklah." Nuella merasa tertekan karena dia harus bekerja di tengah cedera.
Tok tok.
Tiba-tiba, pintu di ketik dari luar. Nuella memasukkan jeruk itu ke tangan Javier. "Aku akan membuka pintu."
Begitu pintu di buka, Nuella tercengang saat melihat kedua wajah di balik pintu. Ia sangat terkejut sehingga mulutnya tergagap. "Ka-lian ....."
"Kami datang untuk mengunjungi Javier."
__ADS_1
Nuella menatap wajah cantik wanita di depannya. Tangannya yang memegang pintu menegang, bahkan seluruh tubuhnya tersentak karena terkejut. "Apakah ... apakah kamu Valerie?"