Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 69


__ADS_3

Nuella mengikuti Javier untuk mengobrol dengan para tamu, lalu tatapannya tidak sengaja melihat pasangan yang baru datang. Matanya membulat melihat Valerie yang sangat mempesona. Ia menggenggam gaun putihnya erat.


Sebelum pesta, Javier mengundang penata rias profesional untuknya. Dan setelah penampilan sudah siap, penat rias mengatakan bahwa dia pasti akan menjadi wanita tercantik di perjamuan. Bahkan, Javier cukup terkejut melihatnya sangat cantik. Pria itu hampir merusak make up-nya karena ciumannya yang panas.


Tapi pada saat ini, kepercayaan dirinya lenyap setelah melihat Valerie. Menimbulkan jarak yang jauh jika dirinya di bandingkan dengan dia. Valerie di ibaratkan bunga mekar yang cerah dan segar, sedangkan dirinya seperti bunga putih yang kering. Kapan Valerie menjadi begitu cantik?


Semua perhatian awalnya masih tertuju dirinya, tetapi bahkan kedatangan Valerie mengundang lebih banyak atensi. Nuella menekan hatinya yang di penuhi berbagai emosi. Ia mencoba mempertahankan senyum lembut di wajahnya.


Nuella melihat kedekatan antara dia dan Victor. Tangan mereka bergenggaman erat. Walaupun Victor masih tanpa ekspresi, ada kelembutan langka di matanya saat Valerie mengatakan sesuatu, wajah cantik Valerie penuh senyuman. Keduanya tampak lebih dekat dari yang ia duga. Pria menakutkan, kejam, acuh tak acuh seperti Victor sama sekali tidak menolak pendekatan Valerie. Nuella hanya merasa aneh di hatinya.


"Apa yang kamu lihat?" Suara Javier menyadarkan Nuella.


Nuella menyesuaikan ekspresinya. "Victor dan Valerie telah tiba di sini." Ia memberi isyarat dengan dagunya untuk menunjuk keberadaan mereka. "Lihat ke sana. Valerie terlihat sangat cantik malam ini."


Javier mengikuti pandangan istrinya. Terpesona oleh kecantikan mantan tunangannya itu, tanpa sadar Victor mengangguk. "Dia benar-benar cantik."


Ekspresi Nuella tenggelam. Javier tidak menyadari perubahan ekspresi Nuella, ia malah memerhatikan kedekatan Valerie dengan pamannya. Alisnya mengkerut. "Sejak kapan mereka begitu dekat?"


Nuella menggertakkan gigi. Ia menggenggam tangannya dengan lembut untuk menarik perhatian suaminya. "Entahlah. Hubungan keduanya benar-benar baik."

__ADS_1


Nuella melihat Javier yang mengerutkan kening dengan mata masih melekat pada Valerie. Hatinya terasa tercabik-cabik. "Javier ...."


Barulah atensi Javier tertarik. "Apa, Sayang?"


Nuella menyenderkan kepala di bahunya. "Aku sedikit lelah."


Javier langsung merasa khawatir. Ia mengusap rambutnya dan berkata lembut. "Kalau begitu, ayo kita beristirahat sebentar."


Nuella mengangguk dengan hati yang lega. Javier miliknya! Sikap lembut Javier tetap untuknya! Ia menunduk untuk menyembunyikan ekspresinya yang kejam.


Di sisi Valerie, ia sama sekali tidak memerdulikan berbagai ucapan di sekitarnya. Situasi ini hampir sama dengan perjamuan yang pernah ia hadiri bersama keluarganya dan Victor. Dan Valerie juga menjadi teringat kejadian di mana Victor di pukuli.


Memikirkan itu, genggaman Valerie pada tangan besarnya mengerat. Karena suara bising di sekitar, Valerie sedikit berjinjit dan berbisik di telinganya. "Kali ini, aku tidak akan membiarkan kamu menjauh dariku. Dan aku tidak akan meninggalkanmu."


Tidak seperti Javier, kedatangan Victor sama sekali tidak di sambut. Mereka hanya bisa menatapnya diam-diam dan berbicara dengan bisik-bisik. Tapi, justru Victor dan Valerie tidak mengharapkan untuk di sambut.


"Victor, kakiku sakit. Ayo duduk sebentar," ajak Valerie. Sepatu hak tingginya cukup menyusahkan.


Victor hanya diam dan mengikutinya. Valerie memilih tempat kosong yang cukup dekat dengan kedua protagonis. Dan ia menantikan pertunjukan yang akan terjadi beberapa saat lagi.

__ADS_1


"Victor, apakah kamu ingin makan sesuatu?"


"Tidak." Dia bersandar di kursi dengan malas.


"Kalau begitu, tunggu di sini. Aku sedikit lapar dan ingin mencari makanan ringan." Tanpa menunggu jawabannya, Valerie berjalan ke area makanan yang berjajar.


Tidak jauh, Chelsea telah memerhatikan Victor yang duduk sendiri. Ini adalah kesempatannya. Ekspresinya langsung terlihat lelah saat menoleh pada Gracia.


"Ada apa?" Gracia menyadarinya.


"Bibi, aku sedikit lelah." Suaranya lemah.


"Kalau begitu, beristirahatlah."


Setelah mengangguk dan berpamitan, Chelsea tidak bisa menahan senyum lagi. Ia berjalan menuju Victor.


Valerie yang telah mengambil makanan, ia membawa piring itu ke tempat Victor berada. Hanya beberapa langkah sampai di mejanya, tiba-tiba Valerie melihat seorang pelayan yang berjalan menuju Victor dengan ekspresi ganas menakutkan. Di tangannya, ada sebuah botol berisi cairan aneh.


Valerie memiliki firasat buruk. Saat melihat pelayan itu mengangkat botol dan mengarah pada Victor, Valerie menjatuhkan piring di tangannya dan berlari menuju pria itu tanpa berpikir.

__ADS_1


"Matilah kau, Victor!" teriak pelayan itu.


"Ahh! Sakit!!"


__ADS_2