Istri Jelek Dari Pria Buta

Istri Jelek Dari Pria Buta
Part 26


__ADS_3

"Kenapa cengkeramanmu begitu kuat? Bisakah kamu mengendurkanya sedikit?"


Victor berdeham pelan sebagai tanggapan. Dan ia mulai melepaskan tangannya di pinggang Valerie. Sebagai gantinya, tangan itu berpindah pada bahu. Alhasil, jarak antara keduanya semakin dekat.


Rambut Valerie masih basah. Ia belum sempat menggosoknya, terlebih mengeringkannya, sehingga air menetes dari waktu ke waktu. Victor yang berjarak dekat bisa mencium aroma samponya. Ia sedikit bersandar membuat rambut hitam tersenntuh olehnya dan membuatnya gatal. Victor mengatupkan bibirnya erat.


Valerie yang fokus memimpin jalannya tidak menyadari ada yang salah. Sampai ia membawa pria itu ke kamar mandi, Valerie menyalakan pemanas untuknya. Dan ia langsung keluar tanpa sepatah katapun.


Valerie mengambil handuk dan menyeka kembali rambutnya. Hanya butuh beberapa waktu, suara pria itu terdengar di kamar mandi. "Valerie, di mana pakaianku?"


Gerakan Valerie berhenti dan terdiam sejenak. Ia menepuk jidat karena lupa membawa pakaian untuk Victor.


Dengan terburu-buru, Valerie mengambil pakaian ganti dan melangkah ke depan pintu kamar mandi. Valerie mengetuk pintu. "Buka pintunya. Ini pakaian yang kamu minta."


"Aku tidak tahu di mana letak pintunya. Kamu masuk dan berikan padaku."


Wajah Valerie kemerahan. "Tidak bisakah kamu membuka pintu dan mengambilnya sendiri?"


"Kamu tahu aku buta."


Alasan itu lagi. Valerie sangat sering mendengarnya. Walaupun Victor selalu menggunakan alasan itu, tapi dia tidak memiliki kesadaran atau pun kesedihan sebagai orang buta.


Menenangkan jantungnya, Valerie berkata pelan. "Kalau begitu, aku akan masuk."


Valerie mendorong pintu kamar mandi. Saat sudah terbuka, ia sama sekali tidak berani mengangkat kepalanya. Matanya terus melihat ke bawah, namun tidak bisa diam di satu titik. Akhirnya matanya tidak sengaja menangkap dua kaki telanjang Victor. Samar-samar otot terlihat di betisnya.


Valerie mengalihkan pandangan. Kepalanya semakin menunduk.


"Kamu sudah masuk?"


Valerie berjengit kaget. Dan dengan cepat menjawab. "Ya.."


"Letakkan pakaianku dan pergi keluar. Kenapa kamu masih berdiri di sana? Apakah kamu akan menontonku mandi?"


Valerie tanpa sadar mengangkat kepalanya dan melotot padanya. Namun matanya semakin terbelalak dengan pemandangan di depannya. Otot dada.. pinggang dan perut yang kokoh.. lengan.. garis duyung.. di bawahnya hanya mengenakkan boxser, setengah paha terlihat ramping dan kuat, dan di tengahnya ada tonjolan..


Wajah Valerie langsung memerah. Benda itu terlalu sombong dan ia menunduk ketakutan. Sama sekali tidak berani menatapnya lagi. Ia merasa hawa di sini terlalu panas, bahkan seluruh wajahnya sangat panas.


"Oh? Kamu benar-benar akan menontonku mandi?"


Suara berbahaya pria itu membuat Valerie kembali terkejut. Ia gelagapan. "Ti-tidak! Aku.. aku akan keluar!"


Valerie langsung berlari keluar dengan jantung berdebar kencang. Pemandangan indah itu terbayang-bayang di benaknya. Wajahnya semakin tersipu.


***


Hari sudah malam, dan pria itu sudah menyelesaikan mandinya beberapa saat lalu.

__ADS_1


"Valerie, apakah kamu membiarkanku tidur dengan rambut basah?"


Valerie tersentak saat mendengar suaranya, dan ia langsung menatapnya. Rambutnya basah, dan tetesan meluncur ke bahu dan pakaiannya.


"Bantu aku mengeringkan rambut."


Valerie langsung beranjak dan mendekatinya. Dengan cekatan ia mengeringkan rambut pria itu. Suasana tenang hanya terdengar deringan pengering rambut.


Valerie menyentuh rambutnya. Merasa sudah cukup kering, ia mematikan pengering rambut. Memikirkan sesuatu, Valerie meletakkan pengering itu di tangan Victor. "Sekarang giliranku."


Victor menyentuh pengering itu yang masih meninggalkan sisa rasa hangat telapak tangan Valerie. Ia mengangkat alis dan bertanya. "Apakah kamu tidak duduk?"


"Hah?" Valerie tertegun. Pria ini benar-benar akan melakukannya? Ia bercanda dan hanya menggodanya.


"Apakah menurutmu aku sedang bercanda? Sekarang duduklah."


Namun Valerie tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia langsung duduk di depannya. Sebelum itu, Valerie berkata hati-hati. "Pelan-pelan.. aku takut sakit.."


"Kenapa harus takut? Lagi pula aku akan mengeringkan, bukan menjambak rambutmu."


Victor menyalakan pengering, lalu ia mengambil helaian rambut dengan ujung jarinya. Rambut panjang Valerie setengah basah dan kering, tidak terlalu tipis namun lembut.


Victor melilit-lilit rambut Valerie dengan santai, ia berputar-putar dengan jari rampingnya, setelah mengendurkanya, ia melilit lagi.


Mata Valerie terasa berat karena mengantuk. Merasa tidak fokus sedari tadi karena rasa kantuknya, Valerie baru menyadari pria di belakang tidak selesai-selesai mengeringkan rambut.


"Apakah sudah selesai?"


Valerie terkejut. Setelah itu ia cemberut dan menunggunya. Valerie menguap, dan ia merasa sangat mengantuk. Entah berapa lama, namun mungkin sudah sekitar satu jam, Victor masih asik sendiri. Dan Valerie, mempertahankan postur duduk seperti itu membuatnya lelah dan pegal.


"Kenapa begitu lama? Kamu belum menyelesaikannya?"


"Rambutmu terlalu banyak."


Valerie tidak bisa menahan kantuk. "Kalau begitu, biar aku saja yang menyelesaikan sisanya."


Mendengar keengganannya, Victor berdeham dan menjatuhkan pengering di tempat tidur setelah di matikan. "Terserah."


"Nilai marah: 5."


Valerie tercengang. Rasa kantuknya menghilang begitu saja karena suara dering dan rasa sakit di kepala. Kenapa dia marah?


Victor memalingkan wajah. Lalu dia menarik selimut dan berkata suram. "Pergi. Aku akan tidur."


Valerie mengambil pengering itu, namun ia tidak mengeringkan rambutnya lagi. Lagi pula, memang sudah benar-benar kering. Valerie malas membujuknya, jadi ia pergi ke sofa dan menarik tirai untuk memisahkan dengan tempat tidur Victor.


Valerie mematikan lampu di bangsal dengan hanya menyisakan lampu luar koridor yang bersinar miring melalu kaca pintu membuat cahaya di bangsal tidak terlalu gelap.

__ADS_1


Suasana di balut keheningan.


Rasa kantuknya kembali. Namun Valerie tidak bisa tidur karena dering aneh itu. Apa alasan pria itu marah? Ia hanya menyuruhnya berhenti karena terlalu lama mengeringkan rambutnya.


Valerie membolak-balik badannya dan menutupi kepalanya dengan bantal mencoba menghilangkan suara itu.


"Sangat berisik." Suara di sisi lain tirai sangat jelas di kegelapan. "Valerie. Kamu sepertinya tidak bisa tidur. Apakah karena kamu ingin tidur di ranjang yang sama denganku?"


Valerie langsung membuka matanya terkejut. Ia akan menyangkal, namun suara pria itu terdengar lagi. "Jika begitu, kemarilah dan tidur di sini."


Valerie ingin. Sangat ingin. Namun karena dering yang membuatnya sakit itu membuat Valerie kesal terhadap Victor. Jadi, ia berpura-pura acuh tak acuh dan menolak. "Tidak perlu. Aku lebih nyaman di sini."


"*Nilai marah: 10."


Kenapa dia lebih marah*?!


Valerie frustrasi. Rasa sakit semakin kuat, dan mustahil baginya untuk tidur begitu saja. Ia ingin sekali mengutuk pria ini.


Victor merasa tidak sabar karena ia menunggu lama kedatangan. Ia akan berbicara lagi, namun tidak lama suara tirai di buka terdengar. Dan aroma susu datang mendekat.


Wajah Valerie berantakan. Ia memegang bantal dan berjalan menuju ranjang Victor. Ia sangat menderita karena pria ini!


Tempat tidur di ruangan VIP ini tidak kecil, namun jika di bandingkan dengan ranjang di rumah, itu relatif kecil. Saat Valerie berbaring di sampingnya, Victor bisa merasakan kehangatan yang datang dari tubuh Valerie. Jaraknya lumayan dekat.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa tidur di sofa jauh lebih nyaman?"


Valerie menggertakkan gigi. Ia menarik nafas dalam-dalam. Dengan suara lembut, rendah, dan manis, ia berkata genit. "Sebenarnya aku tidak bisa tidur jika aku tidak berada di sisimu."


Pendengaran Victor yang sensitif membuat suara Valerie lebih dekat ke telinganya dan membuatnya nyaman. Ekspresi dinginnya melunak, bibirnya melengkung.


"Nilai marah: 0."


Valerie merasa gembira karena nilai amarahnya turun. Valerie dengan sengaja mendekatkan kepalanya ke pria itu dan berkata manis. "Victor ayo kita tidur."


Aroma susu itu semakin dekat. Ekspresi Victor agak lembut. "Tidurlah!"


Valerie tidur begitu saja hanya dalam beberapa menit. Mungkin karena kelelahan di siang hari, tidurnya sangat lelap.


Saat malam semakin gelap, Victor merasakan tubuh lembut itu mendekat. Ia langsung membuat matanya karena sentuhan hangat itu. Ia mendorongnya, namun tidak lama tubuh Valerie bersandar lagi. Apalagi saat ini tangan kecil itu bertumpu di dadanya.


Ekspresi Victor menjadi gelap. Wanita ini memanfaatkannya!


Victor mencoba mendorong lagi, namun untuk ke tiga kalinya, Valerie terjun ke pelukannya. Nafas hangat menyembur ke leher.


Victor membeku. Ia tidak berani bergerak.


Pada jarak sedekat ini, aroma susu semakin lekat. Ia menundukkan kepala mendekati Valerie untuk pertama kalinya. Sengatan matanya menghilang sejak Valerie baru saja tidur. Karena aroma itu, kerutan di alisnya terentang sejak tadi.

__ADS_1


Tanpa sadar, tangannya yang kuat melilit pinggangnya dan memeluknya. Victor menutup mata. Selagi mencium aromanya dan tetap tidur dengannya, tidak masalah ia memeluknya begitu saja.


***


__ADS_2